Ahmad Fuadi, Sang Maestro Menulis

Mencari Inspirasi

Baru saja mengikuti kegiatan wibinar Bersama PGRI. Menulis Novel dan Buku Fiksi, adalah tema acaranya. 

Nara sumber kegiatan ini adalah Ahmad Fuadi. Novelis mega best seller, Negeri 5 Menara. Ini salah satu karya fenomenalnya. Novel yang laku karas, menurut penerbit, novel ini terjual sebanyak 100.000 eks. Dalam satu tahun. 

Saya pernah menikmati karya fiksi itu. Ceritanya sangat menarik, pemilihan katanya apik. Sehingga pembaca larut, masuk kedalam alur. Terasa menyaksikan langsung cerita itu. Cerita yang membekas, meski telah dibaca beberapa tahun lalu. 

Dibalik cerita novel yang sangat menarik itu, ada proses yang rumit. Karena penulis harus mencari referensi cerita dari movel yang sejenis. Setelah kesana kemari dicari, novel dengan latar kehidupan pesantren  tak ditemukan di Indonesia.  Sehingga riset pun hars dilakukan diluar negeri. 

Inggris menjadi pilihan, disana ada novel yang bercerita tentang kehidupan sekolah berasrama khusus perempuan. Asrama itu masih ada. Masih beroprasi.

Kehidupan pesantren yang menginspirasi. Sepenggal perjalanan hidup manusia di Pondok pesantren bisa dikemas dengan baik. Dituangkan dalam bentuk kata, paragraf hingga menjadi cerita menarik ditangan  Ahmad Fuadi. Dari novel itu, Ahmad Fuadi bisa melanglang buana menjelajahi negara di beberapa benua. 

"Buatlah novel yang nyaman diceritakan. Yang penulis merasa nyaman menuangkan ide dan kata." Ucapnya di akhir materi. 

Beberpa peserta diberikan kesempatan bertanya. Tak disia-siakan kesempatan ini, langsung beberapa peserta bertanya. Pertanyaan dapat dikawab dengan baik, sesuai harapan. 

Jam menunjukan pukul 21.08, acara selesai. Moderator menutup acara.

Lebak, 30 Januari 2020.

Komentar

  1. Materi bisa disimak kembali disini

    *LIVE ON YOUTUBE*
    *Webinar Menulis Novel dan Buku Fiksi*
    Hari Sabtu, 30 Januari 2021
    Pukul 19.00 WIB

    live streaming di Youtube
    https://youtu.be/_ER68JuRoVM

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita