Mengapa Harus Berbuat Baik
Tampan, Kaya, dan berkuasa, sudah lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan segalanya. Rasanya tak lagi butuh bantuan siapapun untuk dapat mewujudkan harapan dan impian dalam hidupnya. Tidak, manusia adalah makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan juga keinginannya, meski ia kaya, gagah, berkuasa, dan tampan.
Belajar dari Presiden pertama Turki yang sekuler, Mustafa Kamal Athaturk. Kesombongannya selama berkuasa menghantarkannya pada akhir kehidupan yang tragis. Kematian yang mengenaskan, bumi tak menerimanya, hingga tubuhnya harus dibebani batu, agar masuk kedalam bumi.
Kematian tragis bekas pemimpin Turki ini pas dijadikan pelajaran bagi kita. Jabatan yang diamanahi padanya, malah disalah gunakan. Dia ubah negaranya menjadi negara yang sekuler. Negara yang memisahkan agama dengan kehidupan bernegara. Negara tak mengurusi agama, agama hanya diurus tiap individu yang meyakininya.
Hidup ada yang mengatur, kita hanya menjalani. Aturan hidup dari sang Kholik, harus kita jalankan dengan sabar. Yang tak boleh dilakukan, jangan memaksa untuk melakukannya. Yang harus dikerjakan, lakukan dengan sabar, meski hanya sebatas kemapuan kita.
Tak ada yang patut disombongkan, harta yang dimiliki sudah ditentukan jumlahnya jauh sebelum kita hadir dimuka bumi. Jadi, bukan jerih payah kita semata. Badan sehat, kuat, dan pikiran yang jernih adalah juga karunia-Nya, bukan karena kita mampu menjaganya.
Jabatan adalah amanah, jika kita tak bisa membawa kebermanfaatan pada semua, kita akan celaka. Kelak kita akan diminta pertanggung jawaban atas jabatan itu.
Kadang Allah melebihkan kita dengan karunia yang diberikan. Tak sadar, kita mengira itu adalah buah dari jerih payah yang dilakukan. Bukan, itu adalah kehendak Allah, atas doa yang dipanjatkan oleh orang tersayang. Doa istri-istri, ibu, dan orang tercinta, yang ada disekitar kiata.
Sungguh tak ada daya diri kita yang lemah ini. Kita yang bukan siap-siapa tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa membaca, menulis, dan berucap tanpa diajar oleh orang lain. Kita awalnya tak bisa makan dan minum tanpa bantuan orang lain. Kita yang bukan siapa-siapa tanpa ada kekuatan lain, hingga sangat tak patut kita merasa sombong.
Dari sanalah kita harus berbuat baik.
Belajar dari Presiden pertama Turki yang sekuler, Mustafa Kamal Athaturk. Kesombongannya selama berkuasa menghantarkannya pada akhir kehidupan yang tragis. Kematian yang mengenaskan, bumi tak menerimanya, hingga tubuhnya harus dibebani batu, agar masuk kedalam bumi.
Kematian tragis bekas pemimpin Turki ini pas dijadikan pelajaran bagi kita. Jabatan yang diamanahi padanya, malah disalah gunakan. Dia ubah negaranya menjadi negara yang sekuler. Negara yang memisahkan agama dengan kehidupan bernegara. Negara tak mengurusi agama, agama hanya diurus tiap individu yang meyakininya.
Hidup ada yang mengatur, kita hanya menjalani. Aturan hidup dari sang Kholik, harus kita jalankan dengan sabar. Yang tak boleh dilakukan, jangan memaksa untuk melakukannya. Yang harus dikerjakan, lakukan dengan sabar, meski hanya sebatas kemapuan kita.
Tak ada yang patut disombongkan, harta yang dimiliki sudah ditentukan jumlahnya jauh sebelum kita hadir dimuka bumi. Jadi, bukan jerih payah kita semata. Badan sehat, kuat, dan pikiran yang jernih adalah juga karunia-Nya, bukan karena kita mampu menjaganya.
Jabatan adalah amanah, jika kita tak bisa membawa kebermanfaatan pada semua, kita akan celaka. Kelak kita akan diminta pertanggung jawaban atas jabatan itu.
Kadang Allah melebihkan kita dengan karunia yang diberikan. Tak sadar, kita mengira itu adalah buah dari jerih payah yang dilakukan. Bukan, itu adalah kehendak Allah, atas doa yang dipanjatkan oleh orang tersayang. Doa istri-istri, ibu, dan orang tercinta, yang ada disekitar kiata.
Sungguh tak ada daya diri kita yang lemah ini. Kita yang bukan siap-siapa tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa membaca, menulis, dan berucap tanpa diajar oleh orang lain. Kita awalnya tak bisa makan dan minum tanpa bantuan orang lain. Kita yang bukan siapa-siapa tanpa ada kekuatan lain, hingga sangat tak patut kita merasa sombong.
Dari sanalah kita harus berbuat baik.
Komentar
Posting Komentar