Mendaki (2)

Suasana kota Bogor yang sejuk, kota dimana Deanles berkantor. Dizaman penjajajan dulu, Deanles, Gubernur Jendar Hindia Belanda pernah berkantor dikota ini. Kantornya sekarang dinamai Istana Bogor, Istana dengan halaman luas, dengan rumput hijaunya, puluhan pohon berukuran besar menghiasi taman luasnya. Ratusan rusa hidup disini, meski tak boleh, beberapa pengunjung kota, sering memberi makan rusa dari balik jeruji besi pagar istana. 

Istana yang bersejarah, di istana ini Soeharto menerima Supersemar, dari Soekarno dimasa revolusi. Berpuluh tahun kemudian, di istana ini juga, janji sehidup semati, sepasang insan yang dimabuk cinta, mengukuhkan ikatan tuk memulai hidup berumah tangga, Agus Harimurti Yudhoyono dengan model cantik, Anissa Pohan. Kala itu Pepo masih berkuasa, hingga perhelatan suci itu bisa megah dilaksanakan disana. Pepo-Memo, adalah panggilan sayang untuk SBY dan Ani Yudhoyono dari cucu-cucu tercintanya.

Bogor kota kuliner, tapi itu sekarang. Dulu ketika saya masih suka nebeng truk untuk teraveling, Bogor hanya dikenal dengan sebutan kota hujan. Talas satu-satunya hasil pertanian yang dikenal wisatawan lokal yang datang berkunjung. Kemudian, naasnya, talas bogor sering dianalogikan dengan betis perempuan yang tak proporsional. Kini tak lagi, Bogor sudah berbenah, sekarang sudah kelihatan lebih cantik.

Saya masih berada diatas pick up, menuju kota kecamatan, Ciawi. Saya naik dari lampu merah perempatan Barandangsiang. Jarak Bogor Ciawi 10 Km. Meski terlihat lurus, sebenarnya jalan yang menghubungkan antara kedua tempat itu menanjak.

Pertigaan Sikasari sudah dilewati, jalan menyempit, dari dua, menjadi satu jalur. Meski hanya satu jalur, jalan tak macet, beda dengan sekarang. Pickuppun terus melaju dengan cepat.

Tak lama, sampailah di perempatan Ciawi, di lampu merah mobil berhenti, posisi pick up dilajur kiri, tandanya pick up akan menuju jalur Puncak, bukan mengarah ke Sukabumi. Saya masih diizinkan ikut. Lampu hijau menyalah, mobil kembali tancap gas, senang sekali rasanya hati jni, tak harus turun dan ganti tumpangan. Sauanh, itu hanya beberapa saat, tak lama, mobilpun berhenti. Dipertigaan Gadog kami diminta turun, karena pick up, hendak masuk gang selepas pertigaan. Dengan rasa kecewa, kami bertiga turan, tak lupa mengucapkan terimakasih, dengan dialog Sunda, rasa terimakasih itu disampaikan. 
"Nuhun Kang" sambil merekatkan kedua tangan, diarahkan ke akang supir. 
"Sami-sami" balas si akang supir sambil mengangguk dan berlalu. 

Di pertigaan Gadog kami menunggu tumpangan truk, tepat dilampu merah. Biasanya banyak truk kembali selepas mengantar sayur-mayur ke pasar induk Kramat Jati di Jakarta. Sayur mayur seperti kubis, wortel, kacang buncis, tomat, dan lain-lain, banyak dihasilkan petani Cianjur, mereka pasarkan hasil bumi itu ke Jakarta, menggunakana truk, atau engkel. 

Sudah 20 menit menunggu truk, tapi belum ada yang baik hati mau mengangkut kami ke Cibodas. Disela waktu saat menunggu, disinilah kami jumpa dengan dua orang sahabat Henki, teman nongrongnya di kolplek perumahan tempat tinggalnya, keduanyapun sama, menunggu tumpangan. Seperti cerita sinetron saja. Bertemu secara kebetulan sama-sama hendak menumpang truk, dengan tujuan yang sama. Kami pun bisa berangkat bersama. Tak lama, kami mendapat tumpangan. Truk sehabis mengangkut sayuran ke Jakarta. Senyum lebar, hati senang, perjalanan pun kami lanjutkan.

Selepas Zuhur, kami sudah berada di depan Gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Registrasi, identitas kami di cek petugas, kami wajib mengisi form, tiket dan asuransipun harus dibayarkan. Setelah semua ok, kami baru diperkenankan masuk. 

Ini trip pertama kami masuk ke dlam kawasan hutan, hutan Taman Nasioanal Gunung Gede Pangrango. Kami berjalan, menyusuri jalan berbatu, lebarnya sekitar 1.5 meter. Batu tersusn rapi, landai, tak terlalu menanjak. Nyaman untuk sebuah petualangan. 

Tak berapa lama, setelah 1 km. Berjalan, kami sampai di pertigaan air terjun. Disana ada penunjuk arah, arah kanan menuju air terjun, sementara arah kiri menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango. 

Kami memilih jalur kanan, setelah terjadi perdebatan sengit, saya dan Hengki ingin ke air terjun, sementara Sopian dan dua teman Hengki ingun langsung menuju puncak, karena memang perjalanan masih sangat jauh, tujuan utama adalah Puncak gunung. 

Akhirnya mandi di air terjun sebelum menuju puncak bisa disepkati. Kami berjalan menysuri jalan setapak, jalan batu hanya sampai pertigan air terjun dan puncak saja. 
Kiri kanan jalan semak rimbun yang hijau. Tingginya melebihi sependiri manusia. Tak jauh, hanya beberapa ratus meter saja dari pertigaan, kami sampai, berhenti sejenak, memperhatikan kondisi sekitar, beberapa menit kami diam, berhenti, tak bergerak dan tak bersuara, khawatir ada binatangb buas. Info dari penjaga, di taman nasional ini masih jadi habitat macan kumbang. Binatang buas seukuran harimau berwarna hitam legam. Setelah yakin aman, kami meneruskan langkah, menuju tumpahan air dari puncak bongkahan batu yang tinggi.

Air terun yang indah, dinding batunya tinggi dan berlumut hitam. Mungkin karena selalu  basah lumut jadi betah menempel. Tingginya sekitar 100 meter, airnya jernih, dan sudah pasti sangat dingin.  

Saya dan 4 teman memutuskan mandi, menikmati air jernih bersih tanpa polusi. Tak lama, sekedar menghilangkan bau keringat, selain itu, suhu air yang rendah membuat kami tak kuat berlama-lama menikmati jernihnya air di air terjun itu. Kamipun bersiap, perjalanan dilanjutkan.

Menuju puncak masih sebelas jam lagi, papan penunjuk arah, menginformasikan itu. "Sekarang pukul 14.00, berarti, kita akan sampai puncak sekotar pukul 01.00." Saya menginformasikan ke teman-teman, Sambil terengah-engah, karena jalan sudah mulai terjal menanjak. 

Bersambung.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita