Mendaki (Bagian 1)
Dulu ketika masih lajang, saya punya hobby mengasyikan, yaitu teravelling. Meski tak ke tempat yang terlalu jauh, tapi itu sering dilakukan. Kegiatan yang mengasyikan, karena bisa menambah pengalaman.
Teraveling saya lakukan di akhir pekan, hari Sabtu hingga hari Ahad, dua hari. Kadang cuma sehari, tergantung jarak dan kondisi keuangan.
Tempat yang saya kunjungi adalah daerah yang alamnya indah. Seperti pegunungan dan pantai. Kedua tempat itu bisa menghilangkan penatnya rutinitas kegiatan sehari-hari.
Beberapa gunung pernah saya daki, diantaranya Gunung Salak, Ginung Gede, dan Gunung Pangrango. Selain itu, saya juga beberapa kali melakukan penjelajahan. Daerah yang saya jelajahi adalah kawasan Puncak di Bogor Jawa Barat. Memilih kawasan ini karena jarak yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Juga karena kawasan ini indah, terbukti ribuan orang tiap pekannya datang ke kawasan ini.
Ketika itu, sa'at memdaki gunung Gede, saya masih SMA kelas XII. Pendakian dilakukan bersama 4 orang teman. Sopian dan Hengki, adalah dua teman SMA saya, sementara dua teman lain, adalah sahabat Hengki, teman nongkrong di komplek tempat tinggalnya.
Waktu itu, kami berencana untuk mendaki, tetapi gunung yang akan didaki belum disepakati. Setelah diskusi, saya, Sopian, dan Hengki sepakat memilih gunung Gede. Gunung ini dipilih karena jalurnya sudah ada, sejak dulu jalur sudah dibuat oleh pendaki yang datang, sehingga kemungkinan tersesat, kecil. Selain itu, gunung Gede selalu ramai dikunjungi para pendaki dari seluruh Indonesia. Dengan banyaknya pendaki, bisa berkenalan dan saling berbagi pengalaman.
Rencana mendaki sudah matang, kami sepakat akan berkumpul di dekat Pasar, dari sana mencari tumpangan menuju Bogor. Mencari tumpangan di dekat Pasar mudah, karena macet. Kendaraan yang tersendat, bisa dengan mudah kita tumpangi.
Pagi hari itu, siap untuk berangkat, kami kumpul di dekat pasar, saya dan Sopian datang berbarengan, sementara Hengki beberapa belas menit setelahnya. Saya dan Sopoan tak jauh tempat tinggalnya, sementara Hengki lumayan jauh, beda kota. Setelah lengkap kami mencari truk yang bisa d tumpangi, bebrapa truk tak bersedia membawa kami. Dari satu truk ke truk yang lain kami tanyai, sekitar 10 kali dapat penolakan. Supir truk yang lewat hanya melambaikan tangan melarang kami ikut. Mereka khawtir ditilang, karena memang truk dilarang membawa penumpang dibelakang. Tapi akhirnya ada yang bersedia mengangkut kami bertiga. Mungkin ketika muda dulu, sang supir suka juga berpetualang seperti kami, jadi merasa senasib dan mau mengangkut kami.
Lompat ke dalam truk, "gubrak". Kami terhempas ke dasar bak truk. Truk bekas mengangkut ternak, "bau" teriak saya. Sisa kotoran hewan banyak menempel pada lantai dan dinding bak truk.
Supir dan kernet truk tersenyaum renyah melihat kami tersiksa dibelakang, tersiksa karena bau kotoran hewan.
Truk melaju dengan kecepatan tinggi. Jalan lengang dimanfaaykan pak supir memacu truknya. Meski sambil berdiri, Kami terus berbincang, menyusun strategi perjalanan. Dua teman Hengki menunggu d Bogor. Ketika itu belum ada handphone, sulit komunikasi, hingga jika tak bertemu dengan dua teman Hengki, sepakat kami bertiga langsung menuju Cibodas Puncak untuk mendaki.
Ternyata truk menuju Bandung, tetapi truk lewat jalan tol. Hingga kamipun harus turun di Barandangsiang, pintu tol didekat terminal bis dikota Bogor. Teruk berpemumpang dilarang masuk. Lagi lagi harus mencari tumpangan, menuju Ciawi atau Gadog. Tak lama dapat, pick up yang antri dilampu merah bersedia ditumpangi dan kamipun ikut.
Bersambung
Mantap pak,, tulisanx keren,, terus semangat untuk menulis pak
BalasHapusMantap. Hanya penasaran bagian mendaki di cibodasnya.
BalasHapusLebih fokus petualangan naik truknya. Hehe
Terimakasih komanya bu..
HapusTambahkan foto agar lebih menarik yaa
BalasHapusLanjutkan pak...tetap semangat
BalasHapusMalu saya semuanya sudah bagus2 karyanya, saya kok masih bingung punya sih cerita2 banyak tpi tuk menuangkannya lho agak kesulitan mhn bimbingannya teman
BalasHapusmakin kereeen tulisannya semangaat terus yah
BalasHapustulisan yang keren, mudah dipahami, enak dibacanya. semnagat berkarya, semangat menginspirasi
BalasHapusBalas