Mendaki (bagian3)

Airnya sangat dingin, karena itu saya dan teman menyudahi mandi di bawah air terjun. Berganti pakaian, lalu berkemas, dan kembali bersiap melanjutkan perjalanan. 

Saya memimpin didepan, berjalan menyusuri trek awal mengarah ke persimpangan. Selanjutnya menuju puncak Gunung Gede, juga Gunung Pangrango. 

Beberapa ranting menghalangi langkah. Angin yang berhembus kencang. datang ketika kami mandi, hingga telah mematahkan ranting kayu, dan rantingpun gugur berjatuhan berserakan di jalan. Tak terasa kami sampai di persimpangan. Tanpa arahan dan intruksi kami langsung belok kanan menuju puncak.

Kami terus berjalan, selangkah-demi selangkah menapaki tanjakan. Beberapa titik jalan landai, saat dapat terek itu, saya senyum, gembira, dan senang, juga yang lain. Senyum sungringah melihat jalan landai yang tak terlalu melelahkan. Tak lama setelah senyum.riang, kami dipaksa cemberut lagi. Jalan menanjak dan terjal didepan sudah dinikmati. 

Sudah 3 jam kami berjalan, haripun sudah mulai sore. Terlihat dari bayangn benda sudah jauh lebih panjang dari tinggi aslinya. Mulai terdengar suara binatang malam, bersahutan. Mungkin lapar, dan hendak keluar mengais makanan. 

Gelap mulai turun bersama kabut, dingin mulai terasa merasuk sekujur kulit. Sesekali saya berteriak, untuk menghilangkan stres yang mulai datang.

Semua menghentikan langkah. Gelap semakin pekat, senter dikeluarkan dari dalam ransel. Lalu dinyalakan, tapi tak semua, hanya dua, saya didepan dan Hengki di tengah. Untuk menghemat, karena perjalanan masih jauh. 

Deru nafas kami terdengar jelas. Sejenak berhenti sekedar istirahat. lelah meniti jalan yang menanjak tanpa akhir ditengah pekatnya malam. Seteguk air membasahi kerongkongan yang kering kerontang, dari wadah yang kami bawa. Terasa nikmat, meski tak meminum hingga seluruh dahaga sirna. 

Perjalanan dilanjutkan, Saya memberi semangat.
"Hayo, sebentar kita akan sampai shalter". Temapat istirahat para pendaki ada jelang puncak gunung. Dari selter itu ada dua jalur pilihan puncak gunung, Gunung Gede, atau Gunung Pangrango. 

Penunjuk arah menjelaskan bahwa ada tempat istirahat, jaraknya hanya 100 meter lagi, namanya kandang badak. Meski tak jauh, tapi jalan nya menanjak, hingga tak mudah, terlebih perjalanan ini dimalam hari

Rumah panggung berdinding kayu, begitupun lantainya. Pintu tak dikunci, kami masuk, memanggil-manggil, memastikan ada atau tidak orang didalam. Pintu dibuka pelan, tuas didorong kedalam. Masuk, senter dinyalakan kesana kemari, khawatir ada binatang bersarang didalam. Memastikan ada atau tidak orang didalam. 

Ada dua kamar, dan satu ruang tengah, saya cek kedua kamar, kosong. Kami memilih kamar, untuk beristirahat. Selain kamar lebih hangat, juga lebih aman, dapat dikunci. 
Memutuskan tak melanjutkan perjalanan malam menuju puncak. Ransel dan barang dimasukan ke kamar. Meski tak ada tanda-tanda adanya orang lain, waspada harus. Karena kejahatan di alam liar sering terjadi. 

Setelah memastikan aman, kami shalat isya, dilanjutkan dengan jama akhir magrib. Perjalanan yang melelahkan, tanjakan ekstrim dengan beban berat dipunggung begitu menguras tenaga. Tenaga ini serasa habis, tak berdaya, hingga tak ada pilihan lain, selain istirahat. Dingin yang menusuk hingga tulang. Mengharuskan kami berkumpul lebih dekat, mengurangi rasa dingin. Malam semakin larut, satu persatu tak kuasa menahan kantuk, dan akhirnya terlelap. 

Alaram jam tangan berbunyi, terdengar sayup-satup. Saya terjaga bangkit dari tidur. Jam menunjukan pukul 05.00. Bergegas menuju pancuran belakang shalter, berwudhu, dilanjutkan dengan shalat subuh. Tak langsung bangkit meski sudah mengucapkan kedua salam, terus memuji menyebut nama Nya dengan lembut, sebagai bukti takut atas keperkasaan Nya. Setelah selesai, saya coba bangunkan yang lain. memanggil-manggil nama sambil menggerk-gerakan tubuh yang terlelap agar bangun, tapi tak satupaun yang respon, masih mendengkur. Sudah lah, yang penting sudah mengingatkan. 

Berangsur gelap pekat hilang, tetapi dingin masih tetap terasa. Satu-persatu bangun, mulai dari Hengky, Sopian, dan dua teman Hengki. Kompor gas portebel sedang memanaskan air. Hampir mendidih, cangkir kaleng disiapkan. Beberapa sachet kopi bubuk dibuka, lalu dimasukan ke dalam cangkir. Air sudah mendidih, kompor dimatikan, kemudian air panas diangkat, lalu dituangkan kedalam cangkir kopi. Harum kopi membawa gairah, suasana jadi tiba-tiba lebih bahagia. 

Bersiap melanjutkan perjalanan, barang-barang dimasukan kedalam ransel. Setelah yakin beres, kami pun keluar kamar, ke ruang tengah, lalu keluar. Pintu depan di dorong.

Upps.... ada sepasang muda mudi sedang duduk diteras shalter panggung. Nampaknya baru bangun, keduanya tidur diluar, tak bisa masuk, karena pintu depan dikunci Hengki semalam. 

Dua sejolai, mendaki hanya berdua. Menyaksikan itu, saya menoleh ke Hengki, Hengki menoleh ke Sopain. Kami hanya tersenyum kecut. 

Kami hanya tersenyum ke mereka berdua. Memang mau apa lagi, tak ada pilihan lain. Keduanya membalas dengan senyuman plus anggukan. Kamipun berlalu, menjauh dari shalter melanjutkan perjalanan. 

Jalur menanjak terjal terlihat jelas, mau tak mau hatus dilewati. Berat sekali perjalanan ini, fikir saya. 

Shalter sudah beberapa ratus meter ditinggalkan, tema menginapnya dua sejoli diluar shalter masih jadi topik perbincangan. Meski nafas tersengau, tengah melewati tanjakan terjal. Sambil berasumsi apa yang dilakukan oleh keduanya. Ah, terlalu berlebihan prasangka itu. Berfikir positif saja, bisa jadi mereka pasangan muda yang baru saja menikah, sedang berbulan madu.

Semakin mendekati puncak, jalur semakin ekstrim. Hampir saja menyerah tak kuat menempuh terjalnya bebatuan. Papan penunjuk arah yang menguatkan kami terus mendaki. "50M summit". Tulisan di papan hijau, penunjuk arah. 

"Hore...." kami berlima berteriak ke girangan. Berada di puncak Gunung Gede, pas di bibir kawah. Jurang kawah yang menganga, terlihat dalam sekali, mungkin ratusan meter kedalamannya. jika longsor atau badai, kami bisa saja masuk kedalamnya, indah tapi mengerikan. 

Kami istirahat sejenak. Menikmati pemandangan indah bibir kawah, juga menikmati indahnya bunga edelwis, lambang cinta adadi. 

Setelah merasa cukup istirahat, kami jumpa dengan beberapa pendaki yang datang setelah kami. Berbincang, dengan topik seadanya. Disela perbincangan, mereka menawarkan rombongan kami untuk bersama ke Alun-alun Surya Kencana. Mereka menceritakan indahnya alun-alun itu, sejauh mata memandang, hanya padang edelwis indah menghampar. 

Kami setuju, menerima ajakannya, perjalanan dilanjutkan. Kami harus melwati bibir kawah yang curam, tak jauh, belokkiri mengikuti jalan setapak. Menurun, dan setelah 10 menit kami sampai. 

Oh... pemandangan yang indah, sejauh mata memandang hanya padang edelwis Menghampar. Pengalaman indah ciptaan Mu ya Robb. Tak ada yang bisa menandingi....

Habis...




Komentar

  1. Wah, akhirnya sampai juga mendakinya. Sayang, fotonya gak ada. Jadi gak bisa lihat suasana gunungnya.

    BalasHapus
  2. Mantap, berada di titik puncak adalah bonus dari pendakian yang penuh lelah nan kisah. Hebat, tulisan yang menginspirasi . Salam Literasi

    Pak Etik Nurinto ,Kabupaten Pemalang.

    BalasHapus
  3. cerita mengasyikan. semoga cerita ini menjadi sebuah buku

    BalasHapus
  4. Waaah subhanallah ... Ceritanya bagus 👍🏻 bisa nih dibukukan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita