Menulis Bahagia pertemuan ke 5

Rarapat yang melelahkan, biasanya sudah tiba di rumah. Anak istri sudah menunggu sejak jelang sore, mengajak makan bersama. Masa pandemi membuat kami sekeluarga sering berkumpul. Kebetulan si sulung, hari ini genap 17 tahun. Hingga kumpul sore ini jadi lebih spesial.

Jelang adzan magrib berkumandang, baru tiba dirumah. Lelah sekali rasanya, meski demikian memaksakan mandi, agar tubuh lebih terasa segar. Tak lama keluar dari kamar mandi, adzan berkumandang. Bergegas saya menuju Mesjid menunaikan shalat magrib berjamaah.

Sepulang dari mesjid, saya mencari kitab suci untuk dibaca. Duduk di bangku kerja, lalu melantunkan beberapa ayat, sebagai obat penyejuk hati. 

Makan malam siap dimulai, berkumpul dimeja makan saling berhadapan duduk mengitari hidangan seadanya. Santap malam di mulai. Menu sederhana yang nikmat dengan kebersamaan.

Rabu malam adalah jadual, belajar menulis gelombang 17 dilaksanakan. Tepat pukul 19.00, ku buka smartphone yang terkunci pola. Kubuka, dan kubaca grup yang sudah ramai. Om Jay sudah membuka acara. Mempersilahkan Mr. Bams sebagai pemateri, dan bu Aam, sahabat saya sebahai moderatornya. 

Mr. Bams, atau pa Bambang pemateri kali ini adalah alumni belajar menulis gelombang 8. Banyak sudah karya yang dihasilkan. Dia juga sebagai penggiat literasi sukses di tempat tinggalnya, Kab. Bandung. Selain itu beliau pemilik blog pribadi yang menarik. Mengesankan bisa berkunjung ke blog pribadinya. 

Bu Aam memperkenalkan diri sebagai moderator online, beberapa saat kemudian  mempersilahkan Mr. Bams memaparkan materi belajar menulis malam ini.

Mr. Bams, memperkenalkan diri, agar peserta semangat pa Bambang, mengirim gabar yang berisi informasi segudang prestasi yang sudah di raihnya. Luar biasa, decak kagum saya atas pencapaiannya. 

Penggiat literasi, disekolah tempat beliau mengajar, juga dilingkungan tempat tinggalnya. Istqomah dalam mengurus TBM, hingga menghantarkan beliau meraih penghargaan ditingkat Kabupaten Bandung. 

Yang unik, kegiatan membaca kitab suci disekolahnya. Keyakinan yang majemuk siswa disekolahnya tetap diakomodir. Meski hanya seorang siswa saja, mereka diberikan haknya belajar agama yang diyakininya. 

Menulis bahagia di blog pribadinya, memancing saya untuk mengajukan pertanyaan. Saya menanyakan tentang tema bahagia yang sempit untuk dikembangkan. Padahal tulisan agar lebih menarik harus banyak tema. 
Pertanyaan saya pun dijawaab dengan..
Pak Dadang yang jagoan membaca.
Ya, inilah yang menjadi tantangan dan berbeda dengan yang lain. Biasanya Om Jay meminta berlatih dengan 3 paragraph, tapi ini 1 kalimat. Memang tidak mudah, tapi selalu ada jalan. Walau ini pernah beberapa kali berhenti. 

_Menulislah walau satu kalimat, disanalah akan merasa ada tantangan tersendiri_.
😊
N
Pengalaman malam ini sangat berharga, semangat juang memajukan literasi sangat luar biasa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita