Sabtu Malam
Sabtu malam yang cerah, tetapi tak secerah hati ini. "Ko bisa?" Ya, bisa saja.
Akhir pekan yang harusnya dilewati dengan riang, tidak untuk malam ini. Sejak kemarin sehabis menunaikan ibadah shalat Jumat, tubuh ini sudah merasakan gelagat tak nyaman. Sekujur tubuh terasa nyeri, nafas agak sesak, tak bergairah. Sabtu siang badan semakin terasa tak enak, nafas semakin terasa sesak, kepalapun serasa berat.
Karena semakin tak enak badan, akhirnya ajian pamungkas, jurus andalan dikeluarkan. Minyak balur dan uang logam. Selepas shalat magrib dan tadarus, meminta istri untuk kerokan. Jalan yang diambil, menghilangkan masuk angin. Dikerok hal yang paling dihindari. Tetapi jika tak kuat lagi menahan rasa, maka kerokan menjadi solusi terakhir.
Kerokan pun dimulai, tidur tengkurep, membelakangi langit-langit. Diatas sopa ruang tengah, kerokan dimulai di bagian tengah kanan.
"Aduh sakitnya" saya setengah berteriak.
Lalu merintih menahan rasa sakit. Kerokan baris pertama terlihat merah sekali.
Meronta, ketika kerokan semakin cepat. Sakit sekali, jika dikerok cepat. Kerokan pun di perlambat. Nampak merah sekali terlihat dari cermin. Kerokan terus berlanjut, bagian kanan sudah merah, dengan 8 baris melintang dari tengah kekanan. Sementara bagian kiri belakang baru hendak dimulai.
Rasa sakit kerokan pada bagian kiri pun sama, merahnya pun sama. Meronta, merintih, dan meminta kerokan diperlambat.
Kerokan selesai, kiri kanan punggung hingga ke bawah merah, jumlah semua ada enam belas baris. Melintang dari tengah, ke kiri dan kanan. Badan pun terasa nyaman. Teh hangat disediakan, saya meminum nya. Kemudian agar tubuh terasa hangat, saya juga meminum jamu cair, jamu penghilang masuk angin. Cukup satu sachet saja.
Azan isya terdengar dari mushollah dekat rumah, saya pun bergegas melaksanakan shalat berjamaah. Setelah itu, istirahat, tidur, agar besok pagi badan bisa fress.
Mampir disini,
BalasHapussemoga sehat terus ya Pak