Dian Kelan in Memoriam (Pertemuan ke 13)

Malam yang ditunggu, karena malam ini jadual belajar menulis, gelombang 17, pertemuan ke 13.

Setelah menunaikan ibadah shalat magrib berjamaah di mesjid, saya bergegas pulang. Untuk makan malam, bersama istri dan 2 putri tercinta. Tak biasa makan setelah magrib, konon katanya, kurang baik untuk kesehatan. Tetapi tidak untuk malam ini.  Senin ini kami sekeluarag menjalankan ibadah sunah puasa, maka, makan yang biasa dilakukan sore hari, kali ini dilakukan malam hari. 

Menu sederahan, tetapi terasa nikmat luar biasa. Nasi putih, sup jagung hangat, plus balado gabus asin. Tak lupa kerupuk, sambal, dan lalab. Masakan si sulung, bisa memasak karena sejak pandemi imi selalu dirumah bantu bundanya memasak di dapur. 

Jelang jam 19.00., belum ada info tentang kegiatan belajar menulis. Sayapun mengirim pesan di grup.

"Sudah jam 19.00" beberapa teman membalas dengan emoticon senyum. 

"Belum mulai, Sudah siap pensil dan penghapus untuk belajar menulis". Tulis saya, masih di WAG.

Bu Aam, ikut komentari tulisan yang saya kirim. "Ayo Sedia alat tulis, blog sebagai alat rekam ajaib."

Tak lama Omjay muncul, merubah setelan WAG beljar Menulis Gel. 17. Beliau langsung membuka acara belajar malam ini. 

Seharusnya bukan Omjay, melainkan pa Dedi Dwitagama, yang menjadi nara sumber malam ini. 

Omjay mulai berbagi, diawali dengan bercerita tentang kenangan bersama pa Dian Kelana. Keduanya bersahabat. Pa Dian  editor handal dari penerbit YPTD. Selain editor, beliau juga seorang penulis. Beberapa buku karyanya sudah terbit, dan beredar dipasaran.

Pa Dian sudah tiada, meski demikian, kita masih bisa membaca karya beliau diblog pribadinya. 

"Terus terang saya kagum dengan Bang Dian Kelana, beliau selain menjadi blogger, juga belajar menjadi seorang youtuber. Tak ada yang mengajarinya, karena beliau hanya tamat sekolah dasar. Begitulah kata beliau ketika saya tanyakan Bang Dian kuliah dimana?"
Tulis Omjay. Dalam percakapan WAG, belajar menulis malam ini.

Kerja keras pak Dian Kelana patut dicontoh, meski hanya mengenyam pendidikan SD, kemampuan menulisnya tak diragukan, beberapa bukunya bisa dinikmati. Blog dan channel yutube nya banyak dikunjungi orang. 

"Ini sebuah kisah nyata. Salah seorang sahabat saya, Bang Dian Kelana dipanggil pulang. Beliau meninggal pada tanggal 1 Januari 2021. Namun sebelum berpulang, beliau sudah membuat satu buku dan menuliskan sebuah artikel di blog YPTD. Judulnya adalah "Bagaimana posting di Blog YPTD". Sampai hari ini, sudah lebih dari 600-an orang berkunjung dan membaca tulisannnya." Sepertinya Omjay, sangat sedih menceritakannya.

Kepribadian pa Dian Kelana terpancar jelas lewat kata-kata yang ditulis Omjay. Kebaikan dan perinsip hidup pa Dian Kelana yang selalu menyebar manfaat bagi sesama, hingga membuat Omjay nampak kelihatan sedih, karena kehilangan orang baik, sebaik pa Dian Kelana 

Setelah menceritakan kenangan hidup bersama pa Dian Kelana, Omjay juga mengajak peserta belajar menulis gel. 17, untuk mengikuti lomba menulis di blog. 

Lomba dengan tema Menulis di Blog Menjadi Buku. Lomba ini berlangsung selama satu bulan, di bulan Februari. 

Selama 28 hari peserta harus berjibaku menulis di blog pribadinya. Kemudian, link dikirim ke e-mail Omjay. Disana akan dicek kualitas tulisan oleh juri yang ditunjuk.

Omjay optimis, akan ada 50 buku atau lebih, bisa diterbitkan di penerbit yayasana Pusaka Thamrin Dahlan. Syaratnya, jika komeitmen menulis selama sebulan bisa dijaga oleh para peserta. 

Akan ada 28 artikel yang siap menjelma menjadi sebuah buku dengan untaian kata yang indah dan enak dibaca. Bukunya terbit GRATIS dan ber-ISBN. Kawan-kawan peserta hanya diminta untuk komitmen dan menjaga konsistensi dalam menulis. Omjay semangat menjelaskan itu. 

Semoga lomba yang digagas omjay bisa sukses, dengan berharap panitia mendapatkan banyak dukungan dari sponsor, hingga hadiah menjadi lebih banyak dari lomba blog yang diadakan sebelumnya.

Omjay mengakhiri paparannya, beliau mempersilahkan peserta yang hendak memberika pertanyaan. Peserta antusias, banyak pertanyaan malam ini. Dengan sigap, Omjay pun meladeninya. 

Sayapun mengambol itu, menggunakan  kesempatan bertanya. Meski akhirnya tak saya gunakan kesempatan itu untuk bertanya. 

Saya hanya menyampaikan kekaguman atas kepribadian pa Dian Kelana, sahabat Omjay. 

Ungkapan kekaguman saya pada pribadi luhur bapak Dian Kelana.
Allahumagfilahu, warhamhu, wa'afihi, wa fuanhu.








Komentar

  1. Resume yang mantap dan enak dibaca...

    BalasHapus
  2. Tulisan yang bagus, menyentuh dan asyik dibacanya.
    Semangat berkarya, semangat menginspirasi

    BalasHapus
  3. bersyukur sekali bisa masuk grup belajar menulis, jadi banyak membaca tulisan-tulisan inspiratif. mantap, Pak Dadang

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita