Memasuki dunia Penerbitan (Peetemuan 17)

Sudah di pertemuan ke 17, Tak terasa hari begitu cepat. Pertemuan sudah banyak sekali, tujuh belas. Tapi ilmu yang didapatkan masih jauh, belum bisa menulis dengan rangkaian kata indah dan renyah. Belajar menulis sering tak fokus. Pekerjaan dan membimbing anak dirumah, agar belajar dengan baik bisa jadi salah satu penyebabnya.

Tapi memang tak mungkin instan, butuh proses lain dalam menulis. Tak lantas belajar lalu bisa, butuh proses pembiasaan. Proses yang lain adalah membaca. Membaca sebagai reverensi, juga membaca tuk menambah pengetahuan. Karena membaca adalah amunisi yang suatu saat akan dimuntahkan lewat tulisan. 

Narasumber kali ini adalah pak Edi S. Mulyanta, petinggi dipenerbit Andi, jabatannya sebagai manager oprasional. Jabatan strategis, yang berat, dipundaknyalah beban perusahaan dititipkan. Maju mundurnya perusahaan ada dipundak beliau. 

Malam ini kami ditantang untuk dapat menembus tulisan di penerbit mayor. Menerbitkan buku di penerbit mayor adalah dambaan para Penulis pemula. 

Acara belajar malam ini dimulai, tepat pukul 19.00 pa Cip sudah muncul di WAG belajar menulis gel 17. Tak lama setelan grup berubah, hanya pa Cip dan narasumber yang bisa menulis pesan. Semua peserta fokus, membaca dengan detil tulisan itu. Baik tulisan pa Cip sebagai moderator, maupun tulisan pa Edi sebagai narasumber. 

Pemaparan pun dimulai, pa Edi menjelaskan bagaimana proses tulisan masuk ke penerbit mayor. 

Jika kita merujuk definisi penerbit menurut Undang-undang no 3 th 2017 tentang Sistem perbukuan.
Penerbit adalah lembaga pemerintah atau lembaga swasta yang menyelenggarakan kegiatan penerbitan Buku.

Sedangkan penulis adalah setiap orang yang menulis Naskah Buku untuk diterbitkan dalam bentuk Buku

Sedangkan Buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala.

Sebenarnya, tidak ada penggolongan Mayor dan Minor, yang ada adalah penerbit seperti definisi UU no 3 th 17 tersebut. Akan tetapi dalam perkembangan dunia penerbitan yang berorganisasi di bawah IKAPI atau Ikatan Penerbit Indonesia, akhirnya secara alami penerbit berproses dalam memproduksi bukunya. Proses yang dilakukan ini dalam rangka kepentingan usahanya, agar bisa berjalan. 

Setiap penerbit anggota IKAPI berhak mengelola terbitannya yang dipantau oleh Perpustakaan Nasional yang mengeluarkan nomor ISBN

Jumlah judul yang diproduksi oleh penerbit berbeda-beda dengan genre yang berbeda pula sehingga akhirnya membentuk pengelompokan tersendiri dalam jumlah output produksinya.

Perpusnas akhirnya memberikan kode-kode tersendiri di dalam ISBN untuk menentukan penggolongan penerbit dengan jumlah produksi terntentu.
gambar ini menjelaskan masuk kelompok manakah sebuah penerbit.

Bapak ibu bisa melihat  ISBN Publication Element. Publicatoin Elemant adalah jumlah produksi bukunya, sehingga penggolongan ini menjadikan digit semakin besar adalah penerbit yang mempunyai kapasitas jumlah produksi yang besar pula.

Penerbit mayor tentunya mempunyai rentang produksi dari 3 digit hingga 4 digit, karena kapasitas produksi dan penjualannya bisa mencapai jumlah tertentu.

Hal inilah menjadikan masyarakat akhirnya memberikan istilah ada penerbit mayor dan minor, karena jumlah terbit dan besaran pemasarannya.

Dengan jumlah produksi yang besar, penerbit dapat mendistribusikan secara merata di seluruh Toko Buku dan Outlet penjualan yang lain secara nasional, sehingga menambah penyebutan penerbit skala nasional.

Penyebutan ini akhirnya diadopsi pada peraturan-peraturan sesudahnya dalam hal pengukuran indeks, yang digunakan oleh penulis-penulis yang tergabung dalam beberapa profesi pendidik yang mengharuskan menghasilkan luaran atau outcomes berupa hasil tulisan

Pada tahun 2019, keluar peraturan pemerintah PP 75 yang mengatur pelaksanaan UU perbukuan no 3 th 2017 tersebut dengan membagi jenis2 buku yang dapat ditulis oleh para calon penulis

Dengan dasar ini, penerbit-penerbit di Bawah IKAPI akhirnya menentukan segmentasi buku yang sesuai dengan visi dan misi mereka serta tentunya mencari keuntungan dengan menjual buku hasil tulisan dari para penulisnya

Bapak ibu guru, dapat menentukan terlebih dahulu tema apa yang memang menjadi keahlian dan komptensi bapak ibu sekalian. Kemudial lihat contoh buku-buku yang telah terbit di penerbit-penerbit yang menjadi tujuan pengiriman tulisan bapak ibu, sehingga bisa cocok dengan genre yang menjadi andalan penerbit tersebut.

Buku yang dapat ditulis bapak ibu terbagi menjadi beberapa jenis buku, yaitu buku teks pelajaran yang mempunyai nilai angka kredit yang tinggi, terutama yang bisa lolos Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)

Buku Non Teks berupa buku pengayaan maupun buku referensi, atau buku modul pelajaran.
Dan yang terakhir adalah buku umum karya Fiksi atau novel.

Bapak ibu bisa melihat sudut pandang penerbit dalam memandang calon naskah yang akan diterbitkannya. Terlihat bahwa unsur market cukup dominan, karena yang diterbitkan tentunya harus mempunyai market yang besar.

Buku teks pelajaran mempunyai effort yang cukup berat baik dari sisi penulis maupun penerbit, karena harus menilaikan ke BNSP secara nasional. BUku yang lebih mudah bapak ibu masukkan adalah buku pengayaan, modul pelajaran.

Dari sudup pandang penerbit ini, bapak ibu dapat menyesuaikan dengan bahan naskah yang akan bapak ibu tulis, sehingga dapat diterima oleh penerbit yang memang satu visi dan satu misi.

Tulislah Proposal pengajuan naskah terlebih dahulu yang bisa bapak ibu tawarkan ke penerbit. Isi proposal ini adalah, Judul, Sub Judul jika ada, sinopsis buku, Outline, Sampel Bab minimal 2 bab, dan CV penulis

Berikan penjelasan sasaran pasar, pesaing buku lain yang telah terbit, untuk membantu penerbit dalam memandang naskah bapak ibu sekalian. Berikan data-data market sasaran, positioning materi pesaing, keunggulan buku dibanding pesaing, untuk mempermudah penerbit dalam melakukan review naskah.

Tidak semua buku bisa diterbitkan oleh penerbit karena keterbatasan modal, strategi pemasaran, serta visi misi mereka. Apalagi saat pandemi seperti saat ini, di mana outlet toko buku sedang terkena PSBB sehingga proses penjualan dan distribusi buku menjadi terkendala.

Penerbit ANDI hanya menerbitkan 20-30 persen saja dari naskah yang masuk yang jumlahnya bisa mencapai 200 an perbulan.

Sehingga proses review naskah terkadang membutuhkan kecermatan, agar produk yang telah diputuskan diterbitkan dapat terserap di pasar dengan baik.

Sebagai gambaran pasar saat pandemi ini kami tampilkan prosentase outlet buku-buku yang telah terbit saat ini sebagai berikut

Semua saluran outlet buku saat ini telah bergeser sedemikian rupa sehingga banyak penerbit yang belum siap akan perubahan ini

Model pemasaran buku telah bergeser tidak seperti pola pemasaran sebelum pandemi melanda. Materi ini mungkin sudah dibahas oleh pak Agus beberapa hari yang lalu. Hal yang perlu bapak ibu persiapkan adalah terus berkarya, dan bersiap dengan hal-hal yang baru.

SEtiap buku terbit di tempat kam, telah kami persiapkan sarana-sarana promosi kekinian, seperti webinar, bincang daring, worshop online, podcast hingga channel youtube untuk membantu memperkuat resonansi gaung pasar buku yang bapak ibu tulis ke calon pembaca.

Produksi buku juga perlahan bergeser ke ranah digital, dengan kerjasama bersama Google Play, kami juga telah masuk ke pasar digital dalam bentuk E-BOok di google. Bapak ibu bisa kunjungi di http://bukudigital,my,id atau http://ebukune.my.id untuk melihat hasil produksi e-book kami.

Mau tidak mau kita harus menyambut perubahan teknologi ke arah digitalisasi buku, sehingga kami mencoba untuk tetap up to date dalam memanfaatkan teknologi informasi terutama dalam hal tetap memroduksi bahan-bahan tulisan untuk dapat dinikmati pembaca, dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti visi dan misi penerbit kami.

Demikian pemaparan saya, semoga dapat menginspirasi bapak ibu sekalian untuk tetap berkarya dan jangan takut memasukkan tulisannya ke penerbit-penerbit di Indonesia baik penerbit skala minor atau indie hingga penerbit mayor.

Pa Edi menyerahkan kembali kepada moderator. Pa Cip meminta peserta memberikan pertanyaan. 

Tak tau mengapa, pertanyaan malam ini sangat sedikit. Hanya tiga pertanyaan, biasanya hingga belasan pertanyaan. Alhamsulillah, saya masih diberikan kesempatan bertanya di pertanyaan ke 3. 

P3
Saya Dadang dari Lebak

Penulis  pemula sangat sulit masuk penerbit Mayor. Adakah syarat2 tertentu yang dapat mempermudah penulis pemula, agar tulisannya dapat diterima penerbit mayor..
🙏🙏
Pak Edi pun menjawab. 
Tidak ada syarat tertentu pak Dadang. Hanya perlu strategi menawarkan naskah dengan lebih terstruktur saja. Bisa mencoba dengan meminta kata pengantar dari Tokoh yang dianggap mumpuni sesuai dengan kompenensinya. Atau tokoh ini mempunyai social media yang banyak pengikutnya, sehingga akan membantu promo buku atau tulsan bapak nanti.

Perlu bapak ibu ketahui, penulis besar Andrea Hirata, juga megalami hal yang sama saat memasukkan naskah pertama beliau. Saat itu semua penerbit tidak ada yang tahu siapa itu Andrea Hirata, naskahnya juga ditolak penerbit di sana-sini karena tidak ada rekam jejak sebelumnya Andrea Hirata. Akan tetapi ada satu penerbit yang berani mengambil tantangan ini, akhirnya buku ini menjadi buku paling laku di Indonesia pak.


Penerbit mayor, terkadang menyisihakan anggarannya untuk terbitan2 penulis pemula yang mempunyai tulisan yang di luar trend. Terkadang justru melawan trend. Dengan risiko memang buku tersebut tidak laku di pasar. Akan tetapi manajemen risikonya telah diperhitungkan di awal penerbitan buku.

Pertanyaan terakhir, pa Cipto pun menutup acara dan berpamitan.










Komentar

  1. resume pak Dadang rapi, keren, runtut. mantaapp
    semangat berkarya, semangat menginspirasi

    BalasHapus
  2. kreeen sob tulisannya.. edit lagi yang typo typo ya.....muantaaap

    BalasHapus
  3. Selalu luar biasa dan keren resumenya. Semoga tetap semangat berbagi dan menginspirasi. Good job.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Ku

sepuluh

Menunggu Rasa Ngantuk Datang