Sepekan Menjadi Buku. pertemuan 19

Namanya tak asing lagi, sering disebut-sebut para pemateri di WAG ini. Disebut karena prestasinya, di bahas karena kemampuannya. Dialah Prof. Richardus Eko Indrajit. Maeastro menulis Indonesia. 

Menantu misisi papan atas A. Riyanto ini, sudah tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menulis. Banyak sudah karya yang dihasilkan beliau. Bahkan penerbit Andi, tak akan berani menolak tiap naskah yang dikirim untuk diterbitkan. Itulah jika sudah beken di bidang tertentu, termasuk dibidang tulis menulis. 

Prof. Eko mengajarkan kami malam ini dengan trik menulis cepat. Terbukti dalam 30 menit, beliau dapat mengirim 30 paragraf tulisan yang berisi materi. Saya merasa, kecepatan dalam membaca saya, kalah dengan kecepatan beliau menulis. Sungguh kemampuan yang luar biasa. 

Apa trik bisa menulis cepat?. 
Bisa menulis cepat, tentunya dengan berlatih. Target harian, setiap malam Prof. Ekoji, biasa disapa, konsisten dalam menulis. Mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.00., beliau menulis setiap hari. Dengan begitu, keluarga akan faham, pada jam tersebut tak boleh diganggu. Meski harusnya saat-saat seperti itu waktu untuk keluarga saling bercengkrama. Beliau fokus menulis pada jam itu, hingga harus mengganti waktunya untuk keluarga pada kesempatan lain, yaitu tiap 2 hari di akhir pekan. 

Diawal pernikahannya bersama Lisa A. Riyanto, beliau membuat komitmen. Isi perjanjian tersebut adalah, jika tak menyelesaikan tulisan tertentu, beliau tidur di sopa ruang tengah, tak tidur di kamar. Rela kedinginan karena menyalahi janji. Tetapi itu tak pernah terjadi sepertinya. Karena Prof. Ekoji jagonya menulis. 

Prof. Ekoji melanjutkan materi, waktu menunjukan pukul 19.36 Wib. Terlihat di paragraf yang dikirim di WAG. sudah masuk ke paragraf ke 5. 
"5 | Setiap kali kita sebagai manusia senang bercerita dan ngobrol, bicara ke sana ke mari dengan siapa saja kita berjumpa" paragraf ke 5 yang beliau tulis, adalah bentuk aktifitas yang setiap sa'at kita lakukan. Ngobrol yang kita lakukan banyak masuk kedalam tema-tema menarik, coba bayangkan, jika tema dan obrolan yang dilakukan itu ditulis, di ceritakan kembali lewat tulisan, sudah berapa ribu lembar tulisan yang akan kita hasilkan. Menerbitkan buku bukan hal yang sulit. 

Tak hanya sampai disitu, Prof. Ekoji menambahkan. Pada paragraf 15 beliau menyampaiakn bahwa: "15 | Pilihlah satu topik yang sangat anda SUKAI dan anda KUASAI karena pengalaman anda - namun jangan ceritakan ke orang lain via obrolan (mulut/verbal), tetapi lakukan dengan cara menuliskan apa yang ingin anda omongkan via tulisan.". Tiap orang punya hobby, kegemaran, pekerjaan yang dia sukai, makanan favorit, tempat nongkrong, dan lain-lain. Hal tersebut bisa jadi tema dalam tulisan. Peristiwa, kegiatan, dan apa saja yang dianggap sederhana, bisa dijadikan bahan tulisan. Tinggal bagaimana penulis mengemasnya. 

Jika boleh diibaratkan dengan makanan yang bahan bakunya sederhana, seperti singkong. Singkong adalah bahan makanan yang murah, dan mudah di dapat. Kesan singkong sebagai makanan kelas bawah sudah sangat melekat. Tetapi, hari ini beberapa makanan berbahan baku singkong, harganya bisa melebihi dari makanan berbahan baku mahal. Singkong keju, salah satunya, harganya langsung melonjak ketika berkolaborasi dengan keju. Atau combro hangat yang disajikan sebagai menu hotel, harganya diatas harga pasaran, tiba-tiba melambung tinggi tak terkira, hanya karena jadi menu dalam pekan makanan tradisional di salah satu hote. Harga makan dengan bahan baku singkong yang sedrhana, bisa seperti itu karena diolah dengan apik ditangan ahlinya. Proses menjadi ahli, karena terus berlatih. Proses berlatihlah yang harus terus di tiru dari orang-orang hebat. 

Di paragraf 21 Prof. Eko menyampaikan. "21 | Hambatan menulis datang dari diri kita sendiri, yang pasti paling banyak mengatakan tidak ada waktu - padahal justru saat pandemi inilah waktu paling tepat untuk menulis karena semuanya WFH". Ini artinya butuh kesungguhan dalam menulis, hambatan dari kitalah yang terbesar. Bukan dari orang lain, atau faktor eksternal lain. 

"25 | Intinya adalah bahwa menulis itu bukan saja bertujuan untuk publikasi. Bagi saya menulis adalah untuk meningkatkan imunitas tubuh (supaya tidak mudah terjangkiti covid). Karena dengan menulis saya dapat membuat orang lain bahagia, tersenyum, gembira, tertawa..... Itulah hebatnya sebuah pena... eh, itu jaman dulu ya, jaman sekarang pakai keyboard....atau jempol di handphone" mengapa menulis, paparan diatas menjelaskan salah satu alasan mengapa harus menulis.

Alasan lain, untuk dikenang, dikenang dalam artian, tulisan menjadi kenangan anak, cucu, bahkan cicit kita nanti. Terlebih tulisan yang bermanfaat bagi banyak orang. Hingga anak keturunana kita akan terinspirasi dan bangga terhadap moyangnya. 

Sebelum menutup materi dan masuk dalam sesi tanya jawab, Prof. Ekoji menyampaiakan dalam paragraf ke  30. "Semisal, seandainya saya diberitahu malaikat bahwa usia saya tinggal 24 jam lagi, dan dalam waktu itu saya tidak bisa bertemu dengan siapa-siapa kecuali disediakan keyboard, komputer, dan Microsoft Word, anda akan menuliskan apa dan kepada siapa? Saya yakin anda akan berhasil membuat buku yang mengharukan dalam waktu 24 jam". Gambaran kecintaan beliau pada dunia menulis. 

Materi selesai, Sesi tanya jawab pun dibuka. Tepat dipukul 19.56. Wib. Beberapa penanya, melontarkan pertanyaan melalui WA pribadi ke moderator., menggunakan kesempatan emas, menimba ilmu dari masternya menilis. 

Peserta terlihat begitu semangat bertanya, ini tergambar jelas dari diksi yang dirangkai untuk disampaikan ke Prof. Ekoji. Prof menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tepat dan mengenai sasaran. Hingga susana belajar menulis malam ini begitu terasa hidup. Saya menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pula, bertanya untuk menambah pengetahuan dalam tulis menulis. Saya berada dipertanyaan ke 10. 

Pertanyaan :
Saya Dadang dari Lebak Banten
 
Peserta Belajar menulis gel. 17 ada ratusan orang. Tetapi resume yang terkumpul hanya dikisaran 20 naskah.
Ini artinya orang yang niat belajar sulit sekali untuk konsisten atas keinginnya. 

Yang ditanyakan
Bagaimana usaha saya agar dalam menulis, saya selalu bisa konsisten. Bisa menulis setiap hari. Menginggat, ketika banyak pekerjaan, kadang suka tidak mood menulis. 
Prof pun menjawab

"57 | Pak Dadang, yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah Bapak sendiri. Seberapa tergila-gilanya anda dengan keinginan untuk menerbitkan buku? Ingat tidak waktu jaman pacaran dulu, ketika kita naksir atau tergila-gila dengan seseorang, semua hal kita korbankan demi yang satu itu.... hehehe...."

Oh ya, Prof. Ekoji juga membuat tantangan, tantangan yang sudah menjadi tradisi beliau ditiap gelombang belajar menulis. Yaitu satu pekan menjadi buku. Bu Aam, yang juga moderator malam ini menyambut itu langsung gercep. Bu Aam membuat grup. Peserta Antusias sekali. Hanya dalam waktu 1 jam saja, tercatat 36 peserta sudah ada di grup tersebut. 

Tak berfikir panjang, "bismillahirohmanirrohim" saya bergabung.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita