Dipeluk Asep, Lilis, dan Yani
Saya begitu risau akhir-akhir ini, hal ini terus terjadi tiap jelang akhir tahun pelajaran. Pasalnya siswa kelas akhir di tempat saya mengajar, sedikit sekali yang berminat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun lalu tak lebih dari 7 siswa yang melanjutkan, padahal ada 32 yang berhasil lulus. Jika dihitung, tak sampai 25% siswa yang melanjutkan.
Tahun ini ada kemungkinan kembali berulang, karena tiap siswa yang ditanya, apakah akan melanjutkan sekolah?, mereka hanya menjawab singkat, "teu nyaho pak!".
Minat siswa yang rendah untuk melanjutkan bukan hanya terjadi di sekolah tempat saya mengajar. Hampir sebagian besar juga terjadi di SMP yang ada di kec. Sobang, tapi memang sekolah saya yang terparah. Akses sulit dan ketiadaan biaya adalah alasan kelasik yang selalu diungkapkan siswa dan orangtuanya.
Saya sering mengungkapkan permasalahan ini pada siapa saja. Beberapa teman dari sekolah lain coba saya curhati, siapa tau solusi di sana bisa dilakuan juga disini. Saya juga sering kontak teman mengajar yang sudah mutasi untuk sharing, karena kami pernah berperang bersama mengatasi masalah ini.
Dampak rendahnya minat siswa melanjutkan dirasakan oleh SMAN 1 Sobang. Tiap tahun kuota sering tidak terpenuhi. Bangku yang disediakan untuk siswa baru, kosong hingga 20 persen. Hal ini memaksa semua pihak untuk bekerjasama mengatasi masalah ini, termasuk OSIS SMAN 1 Sobang.
Pesan via WA masuk, Asep yang mengirim pesan itu. Ia adalah alumni SMP tahun 2019, sekarang kelas XI di SMAN Sobang. Isi pesan yang dikirimnya, mengabarkan akan berkunjung ke SMP 3 Sobang Sebagai pengurus OSIS, tujuannya untuk memperkenalkan sekolahnya, siapa tau diantara siswa kelas IX SMP berminat melanjutkan ke sana. Kami para guru menyambut baik rencana itu. Begitupun dengan saya, sangat bahagia mendengar rencana itu, karena saya akan bertemu Asep, dan pengurus OSIS lain yang juga alumni SMPN 3 Sobang.
Hari yang ditunggu pun tiba, bahkan saya mempersiapkan satu hari sebelumnya dengan mencukur rapi rambut. Memilih salah satu model rambut yang dipampang pada dinding kios tukang pangkas. Saya menunjuk salah satu dari puluhan foto yang ada, ketika tukang pangkas bertanya "model apa pa?"
Pagi-pagi sekali saya sudah terbangun, tak lama bergegas untuk mandi. Setelah itu memilih pakaian dinas terbaik, pakaian dinas yang biasa saya kenakan jika ada acara dengan pengawas dan MGMP. Berpose dan bergaya didepan cermin, untung istri didapur sedang menyiapkan sarapan. Setelan dinas yang Jarang digunakan untuk kegiatan sehari-hari disekolah, tetapi tidak dengan hari ini. Karena hari ini akan bertemu dengan tamu sepesial. Beberapa kali minyak wangi kepunyaan istri saya semprotkan ke baju bagus yang sudah saya kenakan.
Pagi yang dingin tak jadi penghalang, setelah subuh berjamaah, saya langsung tancap gas menuju sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah 97 KM, biasa saya tempuh 3 jam perjalanan. Di situasi pembelajaran normal saya biasa berangkat lebih pagi lagi, paling lambat jam 4 sudah pergi meninggalakn rumah.
Tepat jam 8, saya sudah sampai di gerbang sekolah, beberapa siswa sudah hadir lengkap dengan seragam dan mengenakan masker. Tamu dari OSIS SMAN 1 Sobang belum nampak hadir. Saya menyiapkan ruang kelas yang akan digunakan, memastikan jarak bangku, sesuai dengan aturan prokes dimasa pandemi. Beberapa botol hand saniaizer, disiapkan untuk menyambut tamu yang datang.
Tak lama setelah persiapan selesai, rombongan tamu pun datang. Ada 5 motor dengan 10 orang. Ibu guru pembina OSIS SMAN 1 Sobang turut serta mendampingi siswanya. Medan yang sulit, hingga diantara rombongan berucap syukur telah tiba dengan selamat.
Asep, Lilis, dan Yani nampak biasa saja, karena mereka sudah faham dengan medan jalan yang dilalui. Ketiganya menampakan wajah santai, tanpa khawatir dengan medan jalan. Saya bersalaman menyambut rombongan yang datang, juga pada ketiga alumni sekolah saya. Saya sangat bahagia bisa kembali jumpa dengan mereka. Sepertinya rasa bahagia itu dirasakan juga oleh ketiganya, karena kembali bisa jumpa dengan saya gurunya.
Rombongan dipersilahkan masuk ruang tamu, untuk sekedar melepaskan lelah, dan menghilangkan stres pejalanan. Menikmati air putih yang disuguhkan, meringankan beban dari trek yang menegangkan.
Setelah susana nyaman, rombongan dipersilahkan masuk ke kelas, untuk memberi penguatan-penguatan pengenalan sekolahnya kepada siswa kelas 9 yang menunggu sejak pagi. Acara berjalan dengan baik, sesuai dengan yang diharapkan.
Akhirnya acarapun selesai, rombongn kembali keruang tamu untuk kembali beramah tamah, dengan para guru, juga kepala sekolah. Lilis, dan Yani duduk bersebrangan dengan saya, sementara Asep tepat disamping kanan. Saya pun leluasa bisa memandang Lilis dan Yani. Rasa rindu ini pada ke tiganya, sudah tak terbendung. Tapi saya coba tutupi itu, agar tak nampak dari pancaran wajah, juga gestur saya.
Saya percaya, dengan ungkapan "apa yang di rasakan seseorang terhadap kita, sama dengan yang kita rasakan terhadap orang itu." Rindu yang saya rasakan begitu berat, sama dengan rindu yang dirasakan Asep, Lilis dan Yani terhadap saya.
Selesai bapak kepala menyampaikan rangkaian kata terimakasih, rombongn pamit. Berbaris, dan bersalaman. Tibalah giliran Yani bersalaman, tangan saya diraih lalu diciumnya. Tak sampai disitu, rasa rindu yang begitu kuat, hingga kami pun berpelukan. Haru, nampak wajah Yani memerah menahan derai.
Lilis pun sama, wajah eksotiknya terlihat memerah, hampir tak kuasa menahan haru. Tangan ini diraih ketika dia tepat berada didepan saya. Yang terjadi dengan Yani, terulang kembali. Kami berpelukan agak lama, pelukan luapan rindu karena lama tak jumpa. Akhirnya, kami melepaskan pelukan itu, saya coba kuatkan agar lilis terus semangat belajar, berjuang untuk meraih cita-cita.
Begitupun dengan Asep, pemuda kurus dengan pede yang tinggi tak luput dari pelukan saya. Saya coba kuatkan Asep agar tak boleh patah semangat untuk berjuang, melawan tantangan untuk meraih harapan.
Tak tau pasti, ikatan apa yang ada antara saya dan angkatan XII ini. Fokus kami selama 3 tahun mereka bersekolah, bisa jadi penyebabnya. Hati dan perasaan ini yang dulu kami curahkan, berbekas hingga kini, dan mungkin hingga nanti.....
Tahun ini ada kemungkinan kembali berulang, karena tiap siswa yang ditanya, apakah akan melanjutkan sekolah?, mereka hanya menjawab singkat, "teu nyaho pak!".
Minat siswa yang rendah untuk melanjutkan bukan hanya terjadi di sekolah tempat saya mengajar. Hampir sebagian besar juga terjadi di SMP yang ada di kec. Sobang, tapi memang sekolah saya yang terparah. Akses sulit dan ketiadaan biaya adalah alasan kelasik yang selalu diungkapkan siswa dan orangtuanya.
Saya sering mengungkapkan permasalahan ini pada siapa saja. Beberapa teman dari sekolah lain coba saya curhati, siapa tau solusi di sana bisa dilakuan juga disini. Saya juga sering kontak teman mengajar yang sudah mutasi untuk sharing, karena kami pernah berperang bersama mengatasi masalah ini.
Dampak rendahnya minat siswa melanjutkan dirasakan oleh SMAN 1 Sobang. Tiap tahun kuota sering tidak terpenuhi. Bangku yang disediakan untuk siswa baru, kosong hingga 20 persen. Hal ini memaksa semua pihak untuk bekerjasama mengatasi masalah ini, termasuk OSIS SMAN 1 Sobang.
Pesan via WA masuk, Asep yang mengirim pesan itu. Ia adalah alumni SMP tahun 2019, sekarang kelas XI di SMAN Sobang. Isi pesan yang dikirimnya, mengabarkan akan berkunjung ke SMP 3 Sobang Sebagai pengurus OSIS, tujuannya untuk memperkenalkan sekolahnya, siapa tau diantara siswa kelas IX SMP berminat melanjutkan ke sana. Kami para guru menyambut baik rencana itu. Begitupun dengan saya, sangat bahagia mendengar rencana itu, karena saya akan bertemu Asep, dan pengurus OSIS lain yang juga alumni SMPN 3 Sobang.
Hari yang ditunggu pun tiba, bahkan saya mempersiapkan satu hari sebelumnya dengan mencukur rapi rambut. Memilih salah satu model rambut yang dipampang pada dinding kios tukang pangkas. Saya menunjuk salah satu dari puluhan foto yang ada, ketika tukang pangkas bertanya "model apa pa?"
Pagi-pagi sekali saya sudah terbangun, tak lama bergegas untuk mandi. Setelah itu memilih pakaian dinas terbaik, pakaian dinas yang biasa saya kenakan jika ada acara dengan pengawas dan MGMP. Berpose dan bergaya didepan cermin, untung istri didapur sedang menyiapkan sarapan. Setelan dinas yang Jarang digunakan untuk kegiatan sehari-hari disekolah, tetapi tidak dengan hari ini. Karena hari ini akan bertemu dengan tamu sepesial. Beberapa kali minyak wangi kepunyaan istri saya semprotkan ke baju bagus yang sudah saya kenakan.
Pagi yang dingin tak jadi penghalang, setelah subuh berjamaah, saya langsung tancap gas menuju sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah 97 KM, biasa saya tempuh 3 jam perjalanan. Di situasi pembelajaran normal saya biasa berangkat lebih pagi lagi, paling lambat jam 4 sudah pergi meninggalakn rumah.
Tepat jam 8, saya sudah sampai di gerbang sekolah, beberapa siswa sudah hadir lengkap dengan seragam dan mengenakan masker. Tamu dari OSIS SMAN 1 Sobang belum nampak hadir. Saya menyiapkan ruang kelas yang akan digunakan, memastikan jarak bangku, sesuai dengan aturan prokes dimasa pandemi. Beberapa botol hand saniaizer, disiapkan untuk menyambut tamu yang datang.
Tak lama setelah persiapan selesai, rombongan tamu pun datang. Ada 5 motor dengan 10 orang. Ibu guru pembina OSIS SMAN 1 Sobang turut serta mendampingi siswanya. Medan yang sulit, hingga diantara rombongan berucap syukur telah tiba dengan selamat.
Asep, Lilis, dan Yani nampak biasa saja, karena mereka sudah faham dengan medan jalan yang dilalui. Ketiganya menampakan wajah santai, tanpa khawatir dengan medan jalan. Saya bersalaman menyambut rombongan yang datang, juga pada ketiga alumni sekolah saya. Saya sangat bahagia bisa kembali jumpa dengan mereka. Sepertinya rasa bahagia itu dirasakan juga oleh ketiganya, karena kembali bisa jumpa dengan saya gurunya.
Rombongan dipersilahkan masuk ruang tamu, untuk sekedar melepaskan lelah, dan menghilangkan stres pejalanan. Menikmati air putih yang disuguhkan, meringankan beban dari trek yang menegangkan.
Setelah susana nyaman, rombongan dipersilahkan masuk ke kelas, untuk memberi penguatan-penguatan pengenalan sekolahnya kepada siswa kelas 9 yang menunggu sejak pagi. Acara berjalan dengan baik, sesuai dengan yang diharapkan.
Akhirnya acarapun selesai, rombongn kembali keruang tamu untuk kembali beramah tamah, dengan para guru, juga kepala sekolah. Lilis, dan Yani duduk bersebrangan dengan saya, sementara Asep tepat disamping kanan. Saya pun leluasa bisa memandang Lilis dan Yani. Rasa rindu ini pada ke tiganya, sudah tak terbendung. Tapi saya coba tutupi itu, agar tak nampak dari pancaran wajah, juga gestur saya.
Saya percaya, dengan ungkapan "apa yang di rasakan seseorang terhadap kita, sama dengan yang kita rasakan terhadap orang itu." Rindu yang saya rasakan begitu berat, sama dengan rindu yang dirasakan Asep, Lilis dan Yani terhadap saya.
Selesai bapak kepala menyampaikan rangkaian kata terimakasih, rombongn pamit. Berbaris, dan bersalaman. Tibalah giliran Yani bersalaman, tangan saya diraih lalu diciumnya. Tak sampai disitu, rasa rindu yang begitu kuat, hingga kami pun berpelukan. Haru, nampak wajah Yani memerah menahan derai.
Lilis pun sama, wajah eksotiknya terlihat memerah, hampir tak kuasa menahan haru. Tangan ini diraih ketika dia tepat berada didepan saya. Yang terjadi dengan Yani, terulang kembali. Kami berpelukan agak lama, pelukan luapan rindu karena lama tak jumpa. Akhirnya, kami melepaskan pelukan itu, saya coba kuatkan agar lilis terus semangat belajar, berjuang untuk meraih cita-cita.
Begitupun dengan Asep, pemuda kurus dengan pede yang tinggi tak luput dari pelukan saya. Saya coba kuatkan Asep agar tak boleh patah semangat untuk berjuang, melawan tantangan untuk meraih harapan.
Tak tau pasti, ikatan apa yang ada antara saya dan angkatan XII ini. Fokus kami selama 3 tahun mereka bersekolah, bisa jadi penyebabnya. Hati dan perasaan ini yang dulu kami curahkan, berbekas hingga kini, dan mungkin hingga nanti.....
Haru sekali bertemu alumni.. Cerita yang menguras air mata. Saya dapat merasakan betapa senangnya bertemu alumni. Sangat menyentuh. Pak Dadang kerenn.
BalasHapus