Mengisi Malam Yang Sunyi
Sudah semalam ini, mata belum mampu terpejam. Biasanya, mimpi indah sudah dua, atau tiga episode dengan genre yang berbeda. Mata sudah terasa kering, tapi kantuk tak kunjung datang.
Biasanya menulis dengan minimal tiga paragraf sudah di share ke beberapa grup WA, tetapi tidak malam ini. Sejak siang, tak dapat menulis, meski suasana hati biasa seperti hari kemarin, dan dua hari sebelumnya. Mood menulis hilang entah kemana, dicaripun sepertinya sulit.
Beberapa video channel youtube berbeda telah diputar. Video pertama tentang road show nya Tere Liye ke sebuah sekolah di Jogja. Dalam video itu, ia menceritakan awal menilis. Penulis yang memiliki nama asli Darwis ini memulai menulis sejak SD. Majalah Bobo dan Kuncung, adalah dua majalah anak-anak yang sering dikirimi tulisan Tere Liye kala itu, meski tulisan itu tak pernah dimuat.
Pria asal Lahat ini, baru bisa menikmati hasil tulisannya setelah hijrah ke Lampung dan bersekolah disana. Tulisannya dimuat dikoran lokal di Lampung dengan honor Rp. 75.000. Senang sekali ia, meski honor itu tak terlalu besar.
Selepas SMA, Tere Liye melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonkmi UI di Depok. Disana dia bertemua dengan penulis-penulis hebat, dosen dan teman-temannya banyak yang juga penulis. Hingga persaingan didunia menulis semakin ketat, tetapi kepiawaiannya menulis, membuat tulisannya tetap dimuat di koran nasional Kompas.
Setelah selesai menonton pidato tere Liye, channel pun berganti. Rekaman suara Hamka sedang berceramah diperdengarkan. Saya jarang mendengarkan ceramahnya, karena tidak sejaman. Buya wafat ketika saya berusia 6 tahun. Dulu, ceramahnya di RRI selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Semangat dan keilmuan yang beliau miliki, membuat terhipnotis siapa saja yang mendengarkan.
Kantuk akhirnya datang, semakin berat rasanya. Ya, semakin lama semakin tak kuat menahannya.
Hebat Pak, bagus banget
BalasHapus