Menulis Adalah Bekerja Untuk ke Abadian
Menulis mencerdasakan, kemudian menulis adalah bekerja untuk keabadian. Inilah materi kita dalam belajar menulis kali ini.
Nani Kusmiati yang bertindak sebagai pemateri kali ini. Kemudian bu Aam Nurhasanah sebagai moderator. Perpaduan yang klop, dua sahabat seangkatan yang dipertemukan dalam satu panggung, panggung belajar menulis gel. 17.
Bu Nanai seorang tentara, bertugas sebagai pengajar di jajaran TNI Angkatan Laut. Bahasa Inggris adalah pelajaran yang diamanahi kepadanya untuk diajarkan. Ia tentara karir yang hebat.
Pengalamannya sebagai TNI, telah mengantarkannya bertugas hingga ke mancanegara. Libanon salah satunya, negara arab yang sarat dengan konflik. Disana ada beberapa kekuatan militer yang justru bukan tentara resmi dari negara, seperti Hisbullah. Maka konflik jadi sebuah keseharian disana.
Banyak pengalaman lain yang dirasakan sebagai tentara. Ya, tugas adalah beban, tetapi ketika dijalanai dengan hati, maka beban itu bisa jadi kenangan indah dan bisa dibagikan sebagai sebuah inspirasi hidup.
Kembali pada materi, bahwa menulis itu mudah, bisa dilakukan siapa saja. Menulis akan indah jika kita sudah menemukan celahnya. Celah yang hanya ditemukan jika kita menulis setiap hari.
Setiap hari menulis, menjadikan kita tahu kelemahan dan kekurangan dalam menulis. Dengan tiap hari menulis, goresan tinta akan semakin bisa difahami dan dimengerti. Tulisan akan menebarkan aura ke sekeliling jiwa kita. Mengisi tiap relung kosong yang ada. Menulis akan menambah kekuatan jiwa, dengan menulis kita berbagi dan mengikat ilmu yang ada dalam fikiran kita.
Jika ingin semakin menajamkan tulisan, cobalah membuka diri. Bisa ikut bergabung dengan kelompok menulis lain. Seperti ini yang ia dilakukan. Grup menulis yang diikuti bu Nani bukan hanya bersama Om Jay. Tapi ada grup lain, seperti grup menulis bersama Om Budi.
Terus aktif menilis dan mengikuti projek Omera dan Nubela adalah yang dilakukan Bu Nani. Dari sana bu Mayor merasa lebih terasah kemampuan menulisnya.
Karena menulis adalah meningkatkan pengetahuan, menulis juga menambah pengalaman. Masih banyak lagi manfaat dari menulis.
Menilis adalah keabadian, tulisan yang sudah berusia ratusan tahun masih bisa dinikmati, tulisan Buya Hamka hingga hari ini masih bisa kita jumpai. Itilah contoh menulis adalah sebuah keabadian.
Jika hari ini, kita menikmati gambar berupa poto yang menempel didinding, pada hakekatnya kita sedang menikmati karya masa lampau. Karya yang bertahun lalu di ciptakan. Sebuah poto bisa menceritakan sebuah peristiwa lampau, tetapi poto tak bisa bercerita banyak, meski bisa lebih jelas bercerita. Memadukan poto dengan tulisan akan semakin membuat peristiwa jelas dan bisa difahami.
Bagaimana tulisan tanpa poto?. Tulisan jauh lebih bisa menjelaskan dari pada poto. Bukan kah kita mengetahui adanya kerajaan kuno dari tulisan? Bukan kah kita tau ada seorang Gadjah Mada yang terkenal dengan sumpah palapanya dari tulisan. Kehebatan tilisan diatas poto.
Keabadian hidup dengan tulisan, tulisan adalah upaya penulis mengabadikan hidupnya.
Materi yang menarik, menginspirasi, membuat siapa saja yang mengikuti, akan semakin tertantang.
Terimakasih ilmu dan motivasinya bu Nani.
Bagus banget resumenya ditambah dengan pengetahuan bapak yang luar biasa, tentang daerah konflik, makna lukisan dan tulisan. Keren group 17. Penulis-penulis hebat ada disini
BalasHapusTerimakasih sudah berkunjung. Teimakasih motivasinya..
Hapuswow, punya Pak Dadang lebih mantap
BalasHapusyes pak
BalasHapus