Menulis dan Membaca Untuk Guru (pertemuan ke 25)

Guru, digugu dan ditiru. Sikap, sifat, dan apa saja yang dilakukan, akan jadi sorotan sekitar. Kesalahannya tak akan dimaklumi, kebaikannya dianggap sebuah kewajaran, karena septi itulah guru. Itulah guru, beban moral berat yang ditanggungnya. Harus selalu baik, dalam sikap dan perbuatan. 

Tugas guru yang utama adalah mendidik, dengan membentuk karakter siswa dan mentransfer ilmu yang dmiliki. Sehingga guru harus terus berusha menambah kapasitas ilmu yang dimiliki. Terlebih, di jaman digital sepeeti ini, ilmu harus terus di upgrade setiap saat. 

Salah satu upaya itu adalah dengan membaca dan menulis. Membaca proses menambah ilmu, sedangkan menulis proses mentransfer ilmu. Kedua hal ini harus jadi rutinitas guru dimanapun. Guru yang rendah minat baca akan terdegradasi, yang pada akhirnya sebutan guru yang disematkan, akan dipertanyakan orang. 

Guru harus menulis, menulis dalam kaitan mengikat ilmu yang dimiliki dari proses belajar dan membaca yang dilakukan. Menulis bagi seorang guru sangat bermanfaat. Karena menulis dapat meningkatkan karir guru tersebut. Buku yang ditulis lalu diterbitkan bisa dijadikan poin untuk kenaikan pangkat. Karya ilmiah yang di susun dari penelitian dapat dilombakan hingga pemenang akan mendapat penghargaan dan hadiah yang menarik. 

Bukan hanya sampai disitu, masih banyak manfaat dari membaca dan menulis bagi guru-guru. Dengan tulisan guru bisa menginspirasi murid-muridnya. Dengan tulisan guru bisa memberi solusi kepada rekan di tempat lain yang memiliki permasalahan sama dalam mendidik. 

Masihkah kita menjadi gurunyang malas membaca dan menulis?. Jika jawaban nya ya, maka mulailah dengan pembiasaan baru. Baca apa saja, bisa koran, majalah, berita online, buku, makalah, blog ilmiah, dan lain-lain. Pamplet iklan, brosur, dan tulisan apa saja penting dilakukan, sebagai usaha untuk menambah wawasan juga pengetaguan. 

Malam ini grup belajar menulis kedatangan narasumber hebat, jagonya inobel. Dari lomba inobel yang diikuti, dia bisa menapakan kakinya di Belanda. Melihat sekolah-sekolah terbaik yang ada disana. Bu Emi Sudarwati, guru hebat dari Bojonegoro. 

Bu Emi Sudarwati, didampingi oleh moderator papan atas yang dari kegiatan yang digeluti, sudah menghasilkan karya, berupa buku, yang berjudul kunci sukses manjaďi moderator online. Kolaborasi dua perempun sukses. 

Moderator mempersilahkan narasumber untuk memaparkan materi. Bu Emi langsung memperkenalkan diri dengan mengirim file cv. Lalu beberapa cerita ditulis, selain berbagi pengalaman, juga untuk menyemangati para peserta yang fokus mengikuti kegiatan belajar menulis. 

Tak lama, bu Aam langsung memberi sinyal pada rekan peserta yang ingin bertanya. Antusias peaerta sudah terbaca oleh moderator. Mungkin sudah ada yang mengirim pertanyaan ke moderator lewat WApri. 

Salah satu pertanyaan dilontarkan oleh peserta. 

Rahmawati dari Lombok 
Saya salut dan kagum dengan ibu yang inspiratif.. Dengan tulisan sebanyak itu 1.bagaimana mendapatkan ide untuk menulis? 
2. Menjaga konsistensi untuk menulis dan meluangkan waktu untuk menulis

Bu Emi menjawab. 
Terimakasih Bu Rahmawati.  Saya setiap hari berjumpa dengan 900 an siswa. Mereka semua adalah inspirasi saya dalam menulis.  Selain buku-buku yang saya baca.  Di rumah, saya mempunya perpustakaan pribadi.  Ada 1.500 buku lebih tersusun dalam 3 almari besar. Dari situ saya belajar.
2. Untuk menjaga konsistensi, pertama harus dipaksa. Lama-lama menjadi biasa.  Tidak menulis sehari saja,. Rasanya seperti tidak makan dan minum saja.
Benar kata Om Jay. "Menulis setiap hari, dan ....."
Waktu kita sama, 24 jam dalam sehari.  Saya hanya menyempatkan minimal 10 menit untuk benar-benar konsentrasi di depan laptop untuk menulis. Tentu masih banyak waktu luang.

Semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik. Inti materi yang menarik nuat saya adalah salah satu solusi untuk membuat karya adalah dengan menulis keroyokan. 

Salam literasi.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Ku

sepuluh

Menunggu Rasa Ngantuk Datang