Jalan POS

Kerja paksa yang dilakukan pada masa penjajahan sungguh menyakitkan bagi bangsa ini. Ribuan rakyat dipaksa bekerja tanpa upah, makan seadanya, dan jika kabur atau melawan atas kerja paksa itu, maka siap-siap meregang nyawa.

Deandels, Gubernur Jendral Hindia Belanda adalah aktor dibalik kerja paksa itu. Salah satu mega proyek masa Deandels berkuasa adalah pembangunan jalan dari Anyer di Banten, hingga Panarukan di Jawa Timur. Ribuan kilometer, jika hari ini dilakukan pembangunan itu, berapa ratus trilyun uang yang harus dikeluarkan, belum termasuk mark-up dan kongkalikong antara panitia lelang dan pemenang tender. Dana yang pada akhirnya jadi beban negara.

Saya membaca cerita kerja paksa itu dari buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Penulis tersohor spesialis keluar masuk penjara mulai jaman penjajahan Belanda hingga Soeharto berkuasa.

Buku yang berjudul Jalan Pos, menceritakan kerja paksa rodi dimasa Deanles berkuasa. Kerja paksa untuk membangun jalan yang dimulai dari Anyer, ke arah kota Serang lalu ke Jakarta.

Sejak duduk dibangku SD, saya sudah diajarkan pelajaran sejarah tentang kerja paksa yang dilakukan Belanda dalam pembangunan jalan itu. Saya berimajinasi bahwa jalan yang dibangun itu melewati rute pantura. Dari Jakarta ke Bekasi, lalu menuju Karawang. Ternyata tidak, jalan itu dibangun dari Jakarta ke arah Bogor, lalu kearah puncak menuju Bandung, Sumedang hingga ke Cirebon.

Dalam buku Jalan Pos itu, menceritakan proses pembangunan jalan di kawasan Puncak Bogor. Ketika itu hutan masih sangat lebat, udara bersih tanpa polusi. Hingga dari kawasan Puncak Pass, laut jawa bisa terlihat. Jarak dari Puncak ke laut jawa mungkin bisa seratusan KM, tetapi jarak sejauh itu, masih bisa melihat sebuah kawasan. Hingga kini saya sering melewati atau berkunjung ke kawasan itu, selalu membayangkan indah dan barsihnya udara di zaman itu. Kondisi alam yang sulit untuk bisa berulang seperti dulu.

Jalan itu kini semakin ramai, ribuan orang tiap akhir pekan melewati jalan ini untuk melancong. Atau sekedar jalan-jalan untuk menghilangkan penatnya rutinitas harian dikota besar. Jalan yang dibangun dengan keringat dan darah, kini membawa manfaat besar bagi pengguna dan masyarakat sekitar disepanjang jalan. Tak ada pengorbanan yang sia-sia. Semakin meyakini bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita