MOS
Orientasi siswa
MOS, masa orientasi siswa. Adalah kegiatan yang harus diikuti siswa baru d jenjang SMP dimana saya mengajar. Siswa baru yang masuk sekolah di tahun 2020, tak ikut kegiatan itu. Ya, itu karena mereka masuk sekolah ditahun pandemi.
Sebelumnya, saya tak melihat pengaruh signifikan MOS terhadap sikap dan prilaku siswa. Karena selama ini tak ada pembanding, semua siswa baru, harus ikut MOS di tiap tahunnya.
Saat ini pekan pertama sekolah tatap muka percobaan. Seperti biasa saya masuk kelas untuk melakukan pembelajaran. Mengecek kehadiran, lalu menanyakan kesiapan mengikuti pelajaran. Dirasa sudah cukup dengan pembukaan, saya masuk ke dalam materi pelajaran.
Saya coba menjelaskan materi, berdiskusi, dan sesekali memperagakan. Agar anak lebih faham atas materi bahasan yang disampaikan. Saya coba memancing anak agar menanya, beberapa anak terkena umpan yang saya berikan, tak lama mengajukan pertanyaan. Pertanyaan pun dijawab dengan jelas dan runut, agar anak mengerti dan faham.
Dalam proses belajar itu, saya melihat ada kekakuan pada anak, mereka tak lepas dalam mengikuti pelajaran dikelas. Tadinya saya berfikir karena mereka lama belajar jarak jauh, sehingga kaku mengikuti pelajaran tatap muka. Meski itu juga mungkin, tetapi saya coba berhipotesa bahwa mereka sekolah di SMP tanpa melalui MOS.
Bukan hanya saya yang berpendapat seperti itu, benerapa guru pun sama. Bapak kepala sekolahpun mengamini fenomena itu saat diskusi rileks pasca siswa pulang menuju rumahnya masing-masing.
Acara MOS, meski hanya beberapa hari, dapat memberikan gambaran proses pembelajaran. Menerapkan bentuk disiplin baru, disekolah baru. Kegiatan yang identik dengan disiplin. Masuk tepat waktu, memperhatikan pemateri dengan fokus dan wajib meletakan tangan kiri dibawah, tangan kanan diatas pada meja.
Kegiatan pra memasuki kelas dengan berbaris, wajib bersalaman dengan guru, menyebut kata "kaka" didepan nama ketika memanggil kaka kelasnya. Makan dari bekal yang dibawa dari rumah dengan tertib, tak ada suara kunyah dan bunyi sendok yang beradu dengan piring. Semua dijalani dengan tertib.
Mengikuti masa orientasi siswa itu sangat menyenangkan. Coba kembali ingat-ingat peristiwa yang kita alami waktu awal SMP atau SMA, beberapa moment sepesial pasti masih membekas di ingatan, meski sudah berpuluh tahun lalu.
Masih ingat ketika sebagai peserta saya harus meletakan kedua tangan diatas meja ketika pemateri berbicara. Atau ketika harus membawa makanan dan minuman dengen merk tertentu yang sebetulnya merk itu tak ada dipasaran.
Dari semua moment, yang membekas adalah jumpa pertama dengan Eka Sukmawati. Gadis manis anak pa Imam Santoso, pemilik restoran ternama di Parung. Selain itu, ketika MOS di SMA, Padmani Rahayu, gadis manis yang tinggal di Depok duduk di samping saya. Mengenakan rok pendek biru, selutut ketika berdiri, dan akan naik sedikit ketika duduk.
Saya menoleh ke arahnya, dipun menoleh ke arah saya. Kami berpandangan beberapa detik saja.
"Kenapa lo liat-liat?, lo suka sama gw"!. Pertanyaan bodoh ia lontarkan.
"Kl lo suka, bilang aja" jutek abis.
Dari peristiwa itu kami semakin akrab, beberapa kali ketika dompet ini menipis, dia dengan ikhlas meneraktir saya dikantin, dan ketika ia sedang ada uang, giliran saya yang diteraktirnya. Sungguh beruntungnya saya.
Padmani Rahayu kini telah tiada, bebrapa tahun lalu telah meninggalkan kami para sahabatnya. Kanker usus besar yang nenggrogoti tak kuasa ia lawan.
MOS, masa orientasi siswa. Adalah kegiatan yang harus diikuti siswa baru d jenjang SMP dimana saya mengajar. Siswa baru yang masuk sekolah di tahun 2020, tak ikut kegiatan itu. Ya, itu karena mereka masuk sekolah ditahun pandemi.
Sebelumnya, saya tak melihat pengaruh signifikan MOS terhadap sikap dan prilaku siswa. Karena selama ini tak ada pembanding, semua siswa baru, harus ikut MOS di tiap tahunnya.
Saat ini pekan pertama sekolah tatap muka percobaan. Seperti biasa saya masuk kelas untuk melakukan pembelajaran. Mengecek kehadiran, lalu menanyakan kesiapan mengikuti pelajaran. Dirasa sudah cukup dengan pembukaan, saya masuk ke dalam materi pelajaran.
Saya coba menjelaskan materi, berdiskusi, dan sesekali memperagakan. Agar anak lebih faham atas materi bahasan yang disampaikan. Saya coba memancing anak agar menanya, beberapa anak terkena umpan yang saya berikan, tak lama mengajukan pertanyaan. Pertanyaan pun dijawab dengan jelas dan runut, agar anak mengerti dan faham.
Dalam proses belajar itu, saya melihat ada kekakuan pada anak, mereka tak lepas dalam mengikuti pelajaran dikelas. Tadinya saya berfikir karena mereka lama belajar jarak jauh, sehingga kaku mengikuti pelajaran tatap muka. Meski itu juga mungkin, tetapi saya coba berhipotesa bahwa mereka sekolah di SMP tanpa melalui MOS.
Bukan hanya saya yang berpendapat seperti itu, benerapa guru pun sama. Bapak kepala sekolahpun mengamini fenomena itu saat diskusi rileks pasca siswa pulang menuju rumahnya masing-masing.
Acara MOS, meski hanya beberapa hari, dapat memberikan gambaran proses pembelajaran. Menerapkan bentuk disiplin baru, disekolah baru. Kegiatan yang identik dengan disiplin. Masuk tepat waktu, memperhatikan pemateri dengan fokus dan wajib meletakan tangan kiri dibawah, tangan kanan diatas pada meja.
Kegiatan pra memasuki kelas dengan berbaris, wajib bersalaman dengan guru, menyebut kata "kaka" didepan nama ketika memanggil kaka kelasnya. Makan dari bekal yang dibawa dari rumah dengan tertib, tak ada suara kunyah dan bunyi sendok yang beradu dengan piring. Semua dijalani dengan tertib.
Mengikuti masa orientasi siswa itu sangat menyenangkan. Coba kembali ingat-ingat peristiwa yang kita alami waktu awal SMP atau SMA, beberapa moment sepesial pasti masih membekas di ingatan, meski sudah berpuluh tahun lalu.
Masih ingat ketika sebagai peserta saya harus meletakan kedua tangan diatas meja ketika pemateri berbicara. Atau ketika harus membawa makanan dan minuman dengen merk tertentu yang sebetulnya merk itu tak ada dipasaran.
Dari semua moment, yang membekas adalah jumpa pertama dengan Eka Sukmawati. Gadis manis anak pa Imam Santoso, pemilik restoran ternama di Parung. Selain itu, ketika MOS di SMA, Padmani Rahayu, gadis manis yang tinggal di Depok duduk di samping saya. Mengenakan rok pendek biru, selutut ketika berdiri, dan akan naik sedikit ketika duduk.
Saya menoleh ke arahnya, dipun menoleh ke arah saya. Kami berpandangan beberapa detik saja.
"Kenapa lo liat-liat?, lo suka sama gw"!. Pertanyaan bodoh ia lontarkan.
"Kl lo suka, bilang aja" jutek abis.
Dari peristiwa itu kami semakin akrab, beberapa kali ketika dompet ini menipis, dia dengan ikhlas meneraktir saya dikantin, dan ketika ia sedang ada uang, giliran saya yang diteraktirnya. Sungguh beruntungnya saya.
Padmani Rahayu kini telah tiada, bebrapa tahun lalu telah meninggalkan kami para sahabatnya. Kanker usus besar yang nenggrogoti tak kuasa ia lawan.
Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang paling baik. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar