Menunggu Hujan Reda

Sejak Rabu pagi, sudah ada disekolah. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, beberapa pekan tak hadir di tempat kerja karena badan terasa tak enak. Menjauh dari hiruk pikuk tugas dan pekerjaan, menjaga jarak dari keluarga terdekat, agar tak menularkan flu, batuk, dan demam.

Seperti biasa, memastikan siswa mendapatkan pelayanan belajar. Berkordinasi dengan teman, agar pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. Situasi pandemi membuat segala sesuatu serba terbatas. Program yang sejak lama disusun nyaris tak dapat dijalankan.

Pekerjaan lain yang sudah menunggu adalah penulisan ijazah. Meski hanya 23 siswa saja, menulis di kertas istimewa ini harus ekstra hati-hati. Sebelum permanen menggunakan pulpen, ijajzah ditulis dengan pensil. Tujuan menggunakan pensil, untuk mengurangi resiko kesalahan, tak pede jika harus langsung menggunakan pulpen.

Rabu siang setelah zuhur penulisan ijazah dimulai. Menggunakan pensil 2b yang sudah diruncingkan. Diawali dengan menulis nama sekolah, kabupaten, provinsi, dan nama kepala sekolah. Menulis bagian yang sama terlebih dahulu. Setelah itu baru nama, dan identitas peserta didik.

Sesekali istirahat, agar konsentrasi tetap terjaga. Menyeruput kopi yang disuguhkan pesuruh sekolah, kopi cap kupu-kupu tanpa gula yang nikmat sekalee. Setelah konsentrasi kembali onfire, menulispun dilanjutkan.

Setelah penulisan menggunakan pensil selesai, maka menulis ijazah menggunakan balpoint di mulai. Meaki menulis sendirian, tetapi gerogi masih ada saja. Kekhawatiran tulisan tak bagus, salah dan keliru terus membayang-bayangi selama penulisan menggunakan balpoint.

Penulisan selesai, lega rasanya. Bersyukur tugas telah dijalankan dengan baik. Meski ijazah ditulis bukan dengan huruf yang indah, tetapi terlihat rapi, tulisan terbaca jelas. Rasa syukurpun dilakukan dengan mengucapkan hamdallah. Karena tugas berat sudah dilakukan, maka harus dirayakan, meski sederhana. Seperti biasa, saya selalu mengadakan perayaan, jika selesai mengerjakan pekerjaan yang saya anggap sulit dilakukan.

Perayaan ini saya lakukan sendiri saja. alasannya karena penyebaran virus covid 19 varian delta masih sangat tinggi. Meski mengadakan perayaan sendiri saja, kegembiraannya hampir sama dengan pesta meriah dengan ratusan tamu undangan.

Dua sendok kopi bubuk dimasukan kedalam gelas. Kemudian air panas yang baru mendidih dituangkan kedalam gelas yang terisi kopi bubuk. Aroma pun menyebar ke segala penjuru ruangan. Harum sekali rasanya. Seruput pertama dimulai, dilanjutkan dengan seruput ke dua.
"Ah...... nikmat sekali" sepontan terucap. Pesata sendiri dengan hanya segelas kopi hitam tetap dilakukan. Tidak seru sepertinya, tetapi buat saya, ini sungguh luar biasa.

Pestapun usai, bersiap untuk berangkat pulang. Berkemas, memasukan laptop ke dalam tas. Beberapa berkas juga ikut dimasukan kedalam tas untuk dibawa pulang. Merapikan pakaian didepan cermin, agar menaikan pede. Khawatir ada yang tertinggal tas diperiksa kembali, dan sepertinya tak ada yang tertinggal.

Motor dinyalakan, agar mesin panas. Mesin yang panas, bisa menghasilkan tenaga yang lebih baik. Medan tanjakan yang ekstrim memerlukan tenaga lebih kuat. Menunggu mesin panas, saya mengenakan jaket, dan memastikan isi ransel, jangan sampai ada yang tertinggal. Semua sudah dipastikan tak ada yang tertinggal.

Tiba-tiba langit mendung, gerimispun turun membasahi bumi. Saya menarik nafas panjang, khawatir hujan deras dan lama reda. Benar saja terjadi, hujan deras turun, sehingga Keinginan pulangpun tertunda.

Komentar

  1. Semoga selalu diberikan kesehatan pak...

    BalasHapus
  2. Jadi na pulang langsung apa nunggu pa dang..ceritana Acan beres。◕‿◕。

    BalasHapus
  3. Sangat mewakili guru yang senasib

    BalasHapus
  4. Selalu kangen dengan guru yang satu ini

    BalasHapus
  5. Mantaaap semua peristiwa bisa jdi bahan tulisan, kasian kangen istribjdi tertunda efek turun hujanπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
  6. Guru pejuang yang sebenarnya.,.

    BalasHapus
  7. Keyakinan berasal dari kemenangan, tetapi kekuatan berasal dari perjuangan. Tetaplah pada "antrian keyakinan yang akan dijemput oleh kekuatan". Semangat Kawan

    BalasHapus
  8. "Kau tembus dinginnya pagi dan pekatnya malam, kau berkorban demi anak didik yang kau sayang. "
    Seakan teringat lirik lagu yang pada hari perpisahan kita tiba. Menggambarkan keadaan bapak dengan pengorbanannya. Dan tak hentinya kami sebagai anak mengucap syukur dan Terima kasih banyak untuk bapak dan guru-guru yang lain yang tak mungkin bisa kami membalas jasamu. I hope you always be strong sirπŸ˜‡

    BalasHapus
  9. Subhanallah... Guru sejati, tidak pernah berhenti berkreasi πŸ‘ barakallahu fiik, pak Dadang...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita