Sidik Jari Bersama Suami

Selesai sudah pembelajaran bagi siswa kelas 9 tahun pelajaran 2020/2021. Mereka terlihat bahagia bersama, karena berhasil lulus dari SMP tercinta. 

Meski pembelajaran tak optimal karena
terhalang pandemi, tetapi mereka berhasil menyelesaikan pembelajaran selama 3 tahun. Beban belajar dikurangi dalam masa pandemi ini. Sehingga berimbas pada jumlah soal yang harus dikerjakn pada ujian sekolah lalu. Hanya separuh soal, dari jumlah soal dimasa normal. 

Dalam belajar, peserta didik dipedalaman tak kalah semangat dengan teman-teman mereka yang bersekolah di kota. Tetapi mereka yang dipedalaman biasanya terhalang oleh kondisi untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ketiadaan biaya, dan akses sulit jadi problem terbesar dalam mewujudkan rencana besar dan cita-cita mereka para peserta didik. 

Beberapa melanjutkan ke SMA, dan SMK terdekat. Yang bermotor bisa pulang pergi ke sekolah, sementara yang tidak, tinggal di kobong yang berada di sekitar SMA atau SMK.  Ada juga yang tak melanjutkan sekolah, mereka hanya berguru ilmu agama. Memilih itu karena belajar ilmu agama di pesantren tradisional jauh lebih rendah biayanya. Mereka hanya butuh bekal makan saja. Ustadz tak menentukan tarif tertentu untuk kegiatan belajar mereka. Meski demikian, banyak dari mereka tetap tak mampu, hingga memilih pergi keluar kampung untuk membantu ekonomi keluarga. 

Usia belasan tahun, harus menanggung berat beban hidup. Harusnya mereka tak melakukan itu, karena usia yang sangat muda, tak seharusnya dibebani dengan tanggung jawab mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Selain itu, jauh dari pengawasan orang tua di belantara kota metropolitan bukan hal yang baik bagi anak seusia itu. Pergaulan bebas dikota sering menjerumuskan mereka hingga melakukan tindakan kriminal dan kejahatan. Lulus SMP pergi ke kota, setahun kemudian pulang ke kampung halaman dengan tubuh berhias tato. Dari betis, hingga terlihat dibagian leher dihiasi gambar tak beraturan. 

Selain sekolah, pesantren, dan bekerja, dianyara mereka kadang ada saja yang memilih hidup berumah tangga. Biasanya 1 atau 2 dari lulusan, ada saja yang langsung memutuskan untuk menikah, sebelum ijazah diterima. Mereka memilih menikah karena sejak sekolah sudah berpacaran.

Sebenarnya, jangankan untuk berumahtangga, saling mencinta saja mereka belum cukup umur. Cinta adalah anugrah Sang Maha Kuasa, yang harus disalurakan pada waktunya ketika sudah matang. Keputusan menikah muda yang diambil, sangat beresiko. Usia muda dengan kondisi psyikis yang labil sering jadi masalah. Maka tak jarang pernikahan mereka hanya seumur jagung, berakhir dengan perceraian. Predikat janda mudapun, akhirnya disematkan kepada mereka. 

Menikah muda masih jadi tradisi masyarakat. Latar belakang pendidikan orangtua yang rendah, hingga tak berfikir panjang dengan nasib anaknya kelak. Atau bisa jadi si anak sendiri jadi penyebab pernikahan itu. Akibat sudah terlalu dekat dengan sang kekasih pujaannya. 

Tahun ajaran ini ada seorang siswa menikah setelah tahapan kelulusan rampung dilewati, tetapi ijazah belum diterimanya. Pekan depan sidik jari ijazah akan dilakukan. Seperti yang sudah-sudah, sidik jari siswa ini akan didampingi oleh sang suami tercinta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita