Seperti Raja

Meski pandemi, guru harus tetap datang ke sekolah. Meski pembelajaran tak sambil menatap muka siswi, tetapi banyak kegiatan lain yang harus tetap dikerjakan. Pembelajaran daring harus dikawal dengan baik. Siswa yang tak respon akan kegiatan ini, akan di catat, dan bersama guru lain, dicarikan formula tepat supaya mau belajar dengan rajin.

Akhir-akhir ini setiap hari selalu tersedia buah disekolah. Buah pisang, yang diantar siswa khusus untuk guru-gurunya.  Orang tua siswa yang bertani pisang sering meminta anaknya mengantarkan buah lezat itu ke sekolah. 

Selalu tersedianya pisang membuat asupan buah cukup, hingga membuat imunitas guru-guru semakin baik. Semangat bekerja terlihat lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Sehingga dalam pekerjaanpun ada peningkatan yang signifikan.

Saya suka sekali buah pisang. Rasa dan tekstur dagingnya begitu lezat. Manis pisang tak semanis buah lain, hingga cocok dengan lidah saya, yang tak terlalu gemar dengan rasa manis yang berlebih.

Pisang banyak sekali variannya. Ada yang biasa langsung dikonsumsi, seperti pisang raja, dan pisang ambon. Ada juga pisang yang nikmat jika di kukus, misalnya pisang tanduk dan kepok. Pisang uli akan lezat sekali jika digoreng, terlebih jika digoreng krispi. Oh, ya.. hampir saja lupa, pisang nangka spesial sekali renyahnya jika dibuat keripik.

Bukan hanya di hantarkan buah pisang yang masak, beberapa kali kami mendapat kiriman keripik pisang yang renyah. Kaleng Khong Guan besar yang biasa di isi rangginang di hari raya, kini diisi keripik pisang, lalu diantar ke sekolah. Selain itu, ada juga siswa lain yang menghantarkan pisang tanduk yang sudah  matang, dan siap dikukus. Pas sekali untuk menemani kopi  hitam, di sela waktu istirahat.

Sempat hinggap dalam pikiran, kenapa akhir-akhir ini sering mendapat kiriman pisang dan hasil olahannya. Coba berfikir positif saja. Mungkin sedang panen raya, atau orang tua siswa, ingin bersedekah dari panen pisangnya. Dugaan saya tak sepenuhnya benar, saya mendapat info tentang situasi sebenarnya. Faktor yang menyebabkan ini adalah anjlognya harga pisang di pasaran.

Pisang merupakan komoditas unggulan yang  menjadi sandaran hidup sebagian masyarakat Cigaclung. Buah yang bertahun-tahun menghidupi petani di sana. Kali ini harga pisang rendah di tingkat petani. Pandemi yang berkepanjangan membuat roda ekonomi macet lambat berputar. Pengepul tak bisa menjual pisang-pisang petani ke kota. Jika pun bisa, sedikit sekali yang bisa diangkut. Aktifitas masyarakat kota yang serba dibatasi, membuat terhambatnya perputaran roda ekonomi. Dan imbasnya konsumsi masyarakat menurun, sehingga petani nan jauh di peloksokpun ikut terdampak.

Petani hanya bisa pasrah, tak bisa berbuat banyak atas kondisi ini. Hanya bisa memanjatkan doa, setelah sujud-sujudnya. Berusaha menjauh dari bencana yang berkepanjangan ini.

Hari ini sudut meja di ruang guru tersedia beberapa sisir pisang raja. Pisang kesaukaan saya. Dinamai pisang raja, mungkin karena rasa lezatnya melebihi  pisang lain. Bisa juga pisang itu digemari para raja.

Disuguhi pisang raja hingga saya merasa seperti raja, biasanya saya lahap menikmati pisang itu. Tetapi tidak untuk hari ini. Tiba-tiba terlintas membayangkan lelahnya bertani, sejak matahari terbit bergegas ke kebun, mencangkul dan merawat tanamannya. Sore hari jelang matahari tenggelam, barulah mereka pulang.  Berharap hasil panen nanti, bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Hari ini hasil bertaninya ini dihargai  sangat murah. Hingga sebagian hasil memeras keringatnya diberikan kepada kami.









Komentar

  1. Masya Allah di satu sisi ada keberkahan bisa lebih banyak berbagi khususnya kepada guru guru yang mendidik dan mengajar anak anak mereka sehingga tadi bisa berakibat menambah asupan gizi dan penguat imun, tapi disisi lain turunnya pemasukan akibat pisang tidak dijual dengan harga yang anjlok, semoga Pandemi bisa cepat berakhir aamiiiin

    BalasHapus
  2. Subhanallah , ada rasa perih menggores batin , jika harus membayar aku rela mungkin bisa menikmati tanpa rasa perih ,mewakili perihnya petani pisang ..
    Moga jerih payah ,lelah nya akan ter ganti dg nikmat Allah yg lain nya untuk para petani yg rela menyuguhkan pisang nya di saat sulit untuk para rekan guru yg mengajar nun jauh di jero sana ...
    Yg memberi ikhlas
    Yang menikmati melantun kan doa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita