Kembali Berlinang
Kembali Berlinang
Selepas melaksanakan shalat subuh, menyalakan laptop, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaaan yang masih tertunda. Sambil memilih tuts pada kyboard laptop, smartphone dinyalakan. Memilih channel youtube yang pas didengarkan di pagi hari. Saya memutar ceramah. Mendengarkan tausiah dari Ustad Evie Effendi, da'i kondang dari kota kembang Bandung, jadi pilihan di pagi ini.
Ustad lucu dengan logat Sunda yang kental. Pilihan kata yang ia gunakan membuat pendengar senyum-senyum sendiri. Beberapa kali pendengarnya tertawa terbahak-bahak, hingga membuat perut terasa sakit. Hebat sekalia ustad yang satu ini. Mampu mengemas nasihat, dengan kata-kata yang lucu.
Penampilannya tidak mencirikan seorang ustad. Dalam tiap kesempatan berceramah, ia selalu memadukan t-shirt, jeans, dan kupluk dikepala, penampilan ini lebih pas sebagai penjaja villa di kawasan wisata. Ustad kekinian, yang gaul habis.
Pada ceramah kali ini, beliau mengangkat tema tentang ibu. Meski sambil mengetik, saya berusaha fokus mendengarkan. Tema tentang ibu, sangat saya suka. Mungkin karena sejak kecil, saya sudah ditinggal ibu tercinta.
Ajaran Islam menempatkan posisi ibu sebagai sosok yang harus dihormati, disayangi, dibahagiakan. Surga yang kita dambakan, bisa urung dihuni, jika ibu tak ridho dengan laku lampah kita. Bukan hanya itu, dalam kehidupan dunia, kita bisa jadi sengsara hanya karena ibu tak rido dengan anaknya. Malin Kundang dalam cerita rakyat Minang, dikutuk menjadi batu, karena sikap dan ucapannya telah menggores hati ibu yang melahirkannya.
Saya berhenti mengetik, dan fokus mendengarkan ketika Ustad Evie dengan intonasi tinggi, mengatakan bahwa "doa ibumu dikabulkan tuhan". Kemudian ia juga mengatakan "dan kutukannya, jadi kenyataan." Dua kalimat yang membuat saya terperanjat. Saya berfikir, sungguh dahsyatnya sosok seorang ibu bagi anaknya.
Saya merasa menyesal sekali, karena tak bisa berbakti kepada ibu tercinta. Tak bisa membelikan daster syar'i terbaik dari hasil keringat saya. Tak bisa mengajaknya makan bersama saya, istri, dan 2 anak saya yang juga cucunya, di rumah makan paforit keluarga. Saya kecil, hanya bisa membuatnya tersenyum, kala ia sedang merasakan sakit yang luar biasa dari kanker yang dideritanya.
Meski demikian, saya masih beruntung, sempat menyaksikan kala ajal menjemputnya. Melihat senyum terakhir dari bibir indahnya. Senyum yang dilempar ke arah saya anak bungsunya. Senyum yang tak bisa saya saksikan lagi selamanya. Saya duduk disisi pembaringannya, sambil menggenggam tangan kurusnya. Yah, masih terbayang jelas peristiwa sedih itu. Peristiwa yang sudah puluhan tahun lalu terjadi. Ustad Epi mengingatkan saya pada ibu tercinta. Tak terasa, air mata ini pun berlinang.
Hanya selang beberapa saat, dia merubah suasana, senyum ini kembali hadir. Ucehan ustadlah, yang jadi penyebabnya.
Beliau juga mengajarkan kepada para pendengar, tentang pentingnya kembali pada jalan yang benar. Pesannya, dulu boleh bermaksiat, tapi sekarang harus bertobat.
Ustadz Evie melanjutkan ceramahnya, "Dulu ketika bertemu akhwat yang memikat, sering tak kuat, langsung saja ke indomart, untuk membelikanya coklat"
" tetapi sekarang, ketika bertemu akhwat yang memikat, dan yang penting tak lebih dari empat, langsung akan saya beri seperangkat alat sholat". ica ae ustadz. ..
Mendengarkan ceramah itu mengasyikan. Bisa senyum lepas, bisa merenung untuk mengingat kembali khilaf dan dosa yang telah diperbuat. Bisa meneteskan air mata, bisa melepasakan diri dari keterpurukan.
Yah, mendengar ceramah sangat mengasikan. Jauh lebih asyik dari menyaksikan konten Baim Paula, Rafi Ahmad, juga Atta Halilintar.
Selepas melaksanakan shalat subuh, menyalakan laptop, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaaan yang masih tertunda. Sambil memilih tuts pada kyboard laptop, smartphone dinyalakan. Memilih channel youtube yang pas didengarkan di pagi hari. Saya memutar ceramah. Mendengarkan tausiah dari Ustad Evie Effendi, da'i kondang dari kota kembang Bandung, jadi pilihan di pagi ini.
Ustad lucu dengan logat Sunda yang kental. Pilihan kata yang ia gunakan membuat pendengar senyum-senyum sendiri. Beberapa kali pendengarnya tertawa terbahak-bahak, hingga membuat perut terasa sakit. Hebat sekalia ustad yang satu ini. Mampu mengemas nasihat, dengan kata-kata yang lucu.
Penampilannya tidak mencirikan seorang ustad. Dalam tiap kesempatan berceramah, ia selalu memadukan t-shirt, jeans, dan kupluk dikepala, penampilan ini lebih pas sebagai penjaja villa di kawasan wisata. Ustad kekinian, yang gaul habis.
Pada ceramah kali ini, beliau mengangkat tema tentang ibu. Meski sambil mengetik, saya berusaha fokus mendengarkan. Tema tentang ibu, sangat saya suka. Mungkin karena sejak kecil, saya sudah ditinggal ibu tercinta.
Ajaran Islam menempatkan posisi ibu sebagai sosok yang harus dihormati, disayangi, dibahagiakan. Surga yang kita dambakan, bisa urung dihuni, jika ibu tak ridho dengan laku lampah kita. Bukan hanya itu, dalam kehidupan dunia, kita bisa jadi sengsara hanya karena ibu tak rido dengan anaknya. Malin Kundang dalam cerita rakyat Minang, dikutuk menjadi batu, karena sikap dan ucapannya telah menggores hati ibu yang melahirkannya.
Saya berhenti mengetik, dan fokus mendengarkan ketika Ustad Evie dengan intonasi tinggi, mengatakan bahwa "doa ibumu dikabulkan tuhan". Kemudian ia juga mengatakan "dan kutukannya, jadi kenyataan." Dua kalimat yang membuat saya terperanjat. Saya berfikir, sungguh dahsyatnya sosok seorang ibu bagi anaknya.
Saya merasa menyesal sekali, karena tak bisa berbakti kepada ibu tercinta. Tak bisa membelikan daster syar'i terbaik dari hasil keringat saya. Tak bisa mengajaknya makan bersama saya, istri, dan 2 anak saya yang juga cucunya, di rumah makan paforit keluarga. Saya kecil, hanya bisa membuatnya tersenyum, kala ia sedang merasakan sakit yang luar biasa dari kanker yang dideritanya.
Meski demikian, saya masih beruntung, sempat menyaksikan kala ajal menjemputnya. Melihat senyum terakhir dari bibir indahnya. Senyum yang dilempar ke arah saya anak bungsunya. Senyum yang tak bisa saya saksikan lagi selamanya. Saya duduk disisi pembaringannya, sambil menggenggam tangan kurusnya. Yah, masih terbayang jelas peristiwa sedih itu. Peristiwa yang sudah puluhan tahun lalu terjadi. Ustad Epi mengingatkan saya pada ibu tercinta. Tak terasa, air mata ini pun berlinang.
Hanya selang beberapa saat, dia merubah suasana, senyum ini kembali hadir. Ucehan ustadlah, yang jadi penyebabnya.
Beliau juga mengajarkan kepada para pendengar, tentang pentingnya kembali pada jalan yang benar. Pesannya, dulu boleh bermaksiat, tapi sekarang harus bertobat.
Ustadz Evie melanjutkan ceramahnya, "Dulu ketika bertemu akhwat yang memikat, sering tak kuat, langsung saja ke indomart, untuk membelikanya coklat"
" tetapi sekarang, ketika bertemu akhwat yang memikat, dan yang penting tak lebih dari empat, langsung akan saya beri seperangkat alat sholat". ica ae ustadz. ..
Mendengarkan ceramah itu mengasyikan. Bisa senyum lepas, bisa merenung untuk mengingat kembali khilaf dan dosa yang telah diperbuat. Bisa meneteskan air mata, bisa melepasakan diri dari keterpurukan.
Yah, mendengar ceramah sangat mengasikan. Jauh lebih asyik dari menyaksikan konten Baim Paula, Rafi Ahmad, juga Atta Halilintar.
Sedih baca nya semangaaat
BalasHapusBaru baca Pak. Masih bisa kok berbakti kepada ibu. Dengan cara kirim doa sebanyak2nya
BalasHapusPeran ibu tak tergantikan
BalasHapus