Kucing-kucing Lucu

Malam itu, bergegas menuju terminal. Mengendarai sepeda motor yang biasa menemani saya kemana saja. Jaket tebal yang dikenakan, tak lantas bisa mengusir dinginnya malam. Terus memacu kendaraan, meski jalur padat. Menyelinap diantara mobil yang mengantri panjang.

Sampai juga diterminal, segera menuju ke tempat parkir yang ada dibelakang terminal. Motor diparkir, berjejer bersama puluhan motor yang sudah lebih dulu ada. Stang pun dikunci, helm digantung, dan jaket lusuh, disimpan diatas jok.

Setelah dirasa ok, bergegas menuju deretan bus yang sedang menunggu penumpang datang. Saya langsung menaiki bis, setelah diyakinkan oleh awak bis, bahwa bisnya yang akan menghantarkan saya sampai ke kota Garut. Saya mengambil posisi duduk tepat dibelakang sopir. Posisi itu yang saya anggap paling nyaman. Beberapa penumpang lain masuk, memilih tempat masing-masing yang juga dianggap nyaman oleh mereka.

Pak sopir naik, duduk dikursinya, mesin dinyalakan. Bis mulai bergerak, perlahan meninggalkan terminal. Penumpang hanya berjumlah belasan, meski bis itu dapat menampung 60 orang penumpang. Sekitar 35 menit meninggalkan terminal, bis berhenti di sebuah halte, kondektur keluar pintu. Mulai beraksi, berteriak, dan memanggil calon penumpang. Berorasi meyakinkan pada semua orang yang berdiri dihalte itu, bahwa bisnya siap mengantar siapa saja yang hendak ke kota Garut. Ketika bis berhenti dihalte itu, bukan hanya penumpang, beberapa pedagang juga ikut masuk kedalam bis. Para pedagang itu langsung menjajakan dagangannya kepada penumpang yang ada, dengan berbahasa Sunda. Yah, meski berada dihalte Pasar Jumat, Jakarta Selatan, serasa sudah sampai di terminal Guntur kota Garut. Supir, kernet, penumpang, dan pedagang, semua berbahasa Sunda.

Calon penumpang yang hendak menuju Garut, sudah tak ada lagi, semua sudah berada di dalam bis. Bis langsung meninghalkan halte. Beberapa saat kemudian, bispun masuk gerbang tol Lebak Bulus menuju tol Japek.

Bus bergerak cepat, sebagian penumpang terlelap. Beberapa mendengarkan musik, dengan telinga tersumbat head set. Ada pula yang memutar video di channel youtube. Saya memilih tidur, karena tak kuat menahan kantuk.

Bis berjalan perlahan ketika saya terjaga. Sesekali berhenti, tak bergerak. Macet panjang dikawasan Bekasi sering terjadi, terlebih, pembangunan jalan layang menutup satu jalur jalan bebas hambatan itu. Sudah satu jam lebih, tetapi bis hanya mampu bergerak beberapa kilometer saja. 

Saya kembali terlelap, mimpi indah sepanjang perjalanan. Sudah 4 tahun ini sering sekali berkunjung ke Garut. Menjenguk anak perempuan saya yang menimba ilmu di salah satu pondok pesantren dikota itu. Kala terasa rindu yang sangat, tak lagi berfikir badan ini sangat lelah karena seharian bekerja, langsung berkemas, lalu berangkat untuk jumpa sang buah hati. Padahal ketika berjumpapun hanya untuk berbincang sebentar, sekedar mengobati rasa ridu, lalu kembali pulang. Perbincangan di perjumpaan itu, tak hanya pada satu tema. Menanyakan apa aaja, kabar, progres hafalan, atau suasana belajar dipondok. Tetapi yang tak pernah terlewatkan ketika jumpa adalah mengungkapkan rasa sayang saya pada ananda tercinta. Kemudian, jika waktunya saya harus kembali pulang, kami berpelukan erat. Tak lupa menyelipkan beberapa kalimat nasihat di kala kami saling berdekapan. Nasihat agar kelak dapat hidup bahagia, dan membahagiakan orangtua.

Anak adalah segalanya, tempat kita menyimpan segudang harapan. Tempat kita bersandar, kala renta nanti. Doanya sangat diharapkan ketiaka kita telah tiada. Yah, anak adalah investasi bagi orangtuanya.

Bis sudah keluar dari jalan dari tol Purbaleunyi, artinya sekitar 70 menit lagi akan tiba di terminal Guntur kota Garut. Di Rancaekek, bis berhenti. Disana petugas dari perusahaan bis menghitung jumlah penumpang yang ada. Beberpa penumpang menggunakan kesempatan itu untuk turun untuk membeli makanan, atau sekedar ke toilet.

Bis  kembali berjalan, sayapun kembali terlelap. Nyenyak sekali, setelah 1 jam tertidur kemudian terjaga, bis sudah sampai dan berhenti diterminal. Turun dari bis, saya menuju kedai kopi langganan, sambil menunggu waktu jelang subuh, sebelum menuju pondok.

Menikmati kopi panas di kedai itu, sambil mendengar radio pemilik warung. Lagu Sunda, atau dongeng berbahasa Sunda halus, yang sukar dimengerti oleh saya yang terbiasa berbahasa Sunda Lebak.

Kopi panas kembali diseruput, beberpa gorengan hangat saya nikmati. Dari kegelapan terlihat seorang ibu paruh baya datang, lalu masuk ke dalam kedai. Ia hendak membeli obat, untuk lambungnya yang terasa tak nyaman. Mereka sudah saling mengenal. Pemilik kedai terdengar menanyakan aktifitas si ibu yang hobby memelihara kucing. Keduanya berkomunikasi dengan bahasa Sunda Garut yang begitu khas logatnya.

Saya hanya menyimak obrolan mereka. Si ibu menceritakan kucing-kucingnya yang jinak. Setiap hari ia memberi makan kucing-kucing itu dengan ikan yang dibelinya dipasar. Tak kurang, Rp.100.000 setiap hari ia keluarkan untuk ratusan kucing liar terminal dan pasar yang ia pelihara. Sementara gaji ia sebagai petugas kebersihan terminal, hanya beberapa ratus ribu saja.

Ia juga merasa heran, meski gajinya kecil, ia mampu memberi makan ratusan kucing yang ada. Menurutnya, ada saja rizki yang datang, ketika ia hendak membeli ikan untuk makan kucing-kucing itu. Rizki itu dari Allah. Tiap makluk, sudah dijamin rizki yang diterimanya.

Kucing-kucing lucu, kala sudah datang waktunya makan, mereka berbaris rapi, menghadap piring masing-masing yang biasa mereka gunakan. Ibu paruh baya mengakhiri obrolannya, terlihat ia sangat senang menceritakan hewan peliharaannya. Sepanjang ia bercerita, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita