Baduy Yang Asri
Perjalanan yang menyenangkan hari ini. Karena sejak hampir 13 tahun ditugaskan di Kab. Lebak, akhirnya kali ini bisa datang ke Ciboleger sebagai pintu masuk menuju kampung Kadu Ketug, di Tanah Ulayat Baduy. Kami datang rombongan, yaitu rombongan anggota grup, Komunitas Bloger Lebak.
Perkampungan Baduy yang asri, bersih, dan tertata, sangat menginspirasi. Rumah dengan kontruksi tiang kayu sebagai pengokoh, terlihat alami. Batu yang tersusun rapi sebagai jalan yang membelah kampung sangat indah dilihat. Ingin rasanya berlama-lama ditempat ini.
Meski masyarakat Baduy disiplin menjalankan budayanya, tetapi ada banyak hal yang perlu dibenahi disana. Sebagai orang yang begitu bangga dengan tradisi baduy, mengharapkan masyarakaynya bisa mengelola sampah yang dibawa pengunjung ke dalam kampungnya ditanah ulayat. Beberapa aliran sungai dikampung itu sarat dengan sampah pelastik yang tersangkut karena terbawa derasnya air. Sehingga sangat mengganggu pandangan.
Sebelum masuk ke tanah Ulayat Baduy, kami berkumpul, dan berdiskusi seru di kediaman bapak Asep Kurnia. Banyak ilmu yang beliau berikan dalam diskusi itu, terutama ilmu tentang menulis. Sebagai orang yang sangat faham tentang kehidupan masyarakat Baduy, pak Asep menjelaskannya dengan renyah. Ceritanya hingga membuat kami yang mendengarkan tertegun.
Bukan hanya kehidupan masyarakat Baduy, ia juga menceritakan konsep rumah yang didiami bersama keluarganya. Rumah bagus yang dibangunnya tanpa bagian belakang. Semua titik keluar rumahnya, adalah muka, bukan belakang. Filosopinya bahwa, rizki masuk dari arah muka rumahnya, sehingga rumah yang dibangun tanpa bagian belakang.
"Rizki bisa datang dari mana saja, bukan hanya dari satu arah saja" itu yang saya tangkap dari apa yang disampaikan sang maestro, pak Asep Kurnia.
Ditengah diskusi, hidangan makan siang di sajikan. Menu lengkap siap disantap, tak lama, kami dipersilahkan untuk menikmati makan siang oleh tuan rumah, pak Asep Kurnia. Lezat sekali masakannya, terlebih perut ini sudah waktunya diisi karena terasa lapar.
Usai makan siang, kami berkemas, dan siap untuk melakukan trip. Setelah dianggap sudah ok, kami berjalan beriringan menuju gerbang kampung Kadu Ketug. Tak jauh, hanya beberapa puluh meter dari kediaman bapak Asep Kurnia.
Kehidupan masyarakat Baduy, sangat unik. Mulai dari hubungan sosial, bisnis, dan dengan Tuhan yang diyakininya. Keunikan itu, jika ditulis bisa menghasilan puluhan buku, atau mungkin bisa lebih.
Ketika kami datang, bertepatan dengan hari libur nasional, hingga pengunjung terlihat ramai. Bukan hanya orang dari luar Lebak yang datang berkunjung, banyak warga Lebak yang tempat tinggalnya tak jauh, juga datang. Diketahui sebagai warga sekitar, karena terdengar dari logat bicaranya yang khas, Sunda Lebak.
Banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kehidupan mereka masyarakat Baduy. Diantaranya adalah ketaatan mereka terhadap aturan yang disepakati. Mereka begitu taat, dan rela dihukum jika melakukan pelanggaran atas pantangan yang dilakukan.
Selain ketaatan, ada kesederhanaan disana, mereka coba bertahan hidup dengan kesederhanaan, dan tetap bahagia. Senyum, ramah, dan banyak pengunjung yang berkenan datang, sudah cukup menggambarkan kebahagiaan masyarakat Baduy, dalam menjalani kesehariannya.
Allah menjadikan bumi dengan segala isinya, agar kita berfikir. Kesederhanaan, dan ketaatan masyarakat Baduy, patut kita contoh.
Perkampungan Baduy yang asri, bersih, dan tertata, sangat menginspirasi. Rumah dengan kontruksi tiang kayu sebagai pengokoh, terlihat alami. Batu yang tersusun rapi sebagai jalan yang membelah kampung sangat indah dilihat. Ingin rasanya berlama-lama ditempat ini.
Meski masyarakat Baduy disiplin menjalankan budayanya, tetapi ada banyak hal yang perlu dibenahi disana. Sebagai orang yang begitu bangga dengan tradisi baduy, mengharapkan masyarakaynya bisa mengelola sampah yang dibawa pengunjung ke dalam kampungnya ditanah ulayat. Beberapa aliran sungai dikampung itu sarat dengan sampah pelastik yang tersangkut karena terbawa derasnya air. Sehingga sangat mengganggu pandangan.
Sebelum masuk ke tanah Ulayat Baduy, kami berkumpul, dan berdiskusi seru di kediaman bapak Asep Kurnia. Banyak ilmu yang beliau berikan dalam diskusi itu, terutama ilmu tentang menulis. Sebagai orang yang sangat faham tentang kehidupan masyarakat Baduy, pak Asep menjelaskannya dengan renyah. Ceritanya hingga membuat kami yang mendengarkan tertegun.
Bukan hanya kehidupan masyarakat Baduy, ia juga menceritakan konsep rumah yang didiami bersama keluarganya. Rumah bagus yang dibangunnya tanpa bagian belakang. Semua titik keluar rumahnya, adalah muka, bukan belakang. Filosopinya bahwa, rizki masuk dari arah muka rumahnya, sehingga rumah yang dibangun tanpa bagian belakang.
"Rizki bisa datang dari mana saja, bukan hanya dari satu arah saja" itu yang saya tangkap dari apa yang disampaikan sang maestro, pak Asep Kurnia.
Ditengah diskusi, hidangan makan siang di sajikan. Menu lengkap siap disantap, tak lama, kami dipersilahkan untuk menikmati makan siang oleh tuan rumah, pak Asep Kurnia. Lezat sekali masakannya, terlebih perut ini sudah waktunya diisi karena terasa lapar.
Usai makan siang, kami berkemas, dan siap untuk melakukan trip. Setelah dianggap sudah ok, kami berjalan beriringan menuju gerbang kampung Kadu Ketug. Tak jauh, hanya beberapa puluh meter dari kediaman bapak Asep Kurnia.
Kehidupan masyarakat Baduy, sangat unik. Mulai dari hubungan sosial, bisnis, dan dengan Tuhan yang diyakininya. Keunikan itu, jika ditulis bisa menghasilan puluhan buku, atau mungkin bisa lebih.
Ketika kami datang, bertepatan dengan hari libur nasional, hingga pengunjung terlihat ramai. Bukan hanya orang dari luar Lebak yang datang berkunjung, banyak warga Lebak yang tempat tinggalnya tak jauh, juga datang. Diketahui sebagai warga sekitar, karena terdengar dari logat bicaranya yang khas, Sunda Lebak.
Banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kehidupan mereka masyarakat Baduy. Diantaranya adalah ketaatan mereka terhadap aturan yang disepakati. Mereka begitu taat, dan rela dihukum jika melakukan pelanggaran atas pantangan yang dilakukan.
Selain ketaatan, ada kesederhanaan disana, mereka coba bertahan hidup dengan kesederhanaan, dan tetap bahagia. Senyum, ramah, dan banyak pengunjung yang berkenan datang, sudah cukup menggambarkan kebahagiaan masyarakat Baduy, dalam menjalani kesehariannya.
Allah menjadikan bumi dengan segala isinya, agar kita berfikir. Kesederhanaan, dan ketaatan masyarakat Baduy, patut kita contoh.
Keren, keunikan suku Baduy seperti gak pernah habis untuk diulas
BalasHapusReportase nya mantaap
BalasHapus