Kecewa

Malam pun datang. Selepas magrib dan shalat berjamaah, saya berkunjung ke rumah Jarkasih. Siswa kelas 9 yang kesehariannya selalu mencari perhatian kepada guru, dan teman-temannya.

Jalan mulai gelap, fitur senter yang ada di smartphone dinyalakan. Menyusuri jalan kampung yang berbatu, menanjak dan menurun. Tak lama sampailah didepan tempat tinggal kedua orangtua Jarkasih. Rumah dengan minim penerangan, berlantai keramik bersih, temboknya berwarna hijau, nampak kusam. Sepertinya, tembok sudah lama tak di cat ulang.

Saya mengucap salam, tak ada yang menjawab. setelah mengucapkan salam yang ketiga, barulah terdengar ada jawaban dari dalam rumah. Seorang perempuan 40 tahunan keluar dari balik pintu. Menanyakan keperluan atas kedatangan saya. Sayapun menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan ini. Saya menjelaskan bahwa saya ingin menanyakan atas seringnya ketidak hadiran Jarkasih disekolah.

Saya tidak sendiri, bersama wali kelas 9, yang bertanggung jawab atas perkembangan anak didik dikelasnya. Kami berdua dipersilahkan masuk, berjalan menuju ruang belakang di dekat dapur. Tempat itu yang digunakan orang tua Jarkasih memanaskan air nira yang akan dijadikan gula aren.

Orang tua Jarkasih adalah pengrajin gula aren, tiap selepas magrib ia memasak air nira yang didapat waktu pagi dan petang. Air nira dari pohon aren milik keluarganya.

Perbincangan pun dimulai. Diawali dengan menanyakan kabar, dan pertanyaan basa-basi lain untuk mengakrabkan, agar ketika masuk substansi pokok, susana sudah akrab. Saya menanyakan seputar gula aren, dan cara pembuatannya. Meski dari bahan yang sama, tetapi kualitas gula yang dihasilkan kadang berbeda. Biasanya, yang apik mengolah, gula yang dihasilkan lebih bagus warnanya, dan lebih tahan lama.

Setelah cukup berbasa basi, saya mulai membuka tema pokok. Tema tentang perkembangan belajar Jarkasih disekolah. Tentang susah, ketika diminta mengikuti shalat Zuhur berjamaah. Selalu bolos di jam terakhir pembelajaraan, dan tidak mengikuti pembelajaran daring a sinkronous, di PJJ.

Bapak yang selama percakapan itu sambil mengaduk nira yang dipanaskan, hanya menarik nafas panjang. Saya menyudahi ucapan, mempersilahkan bapaknya Jarkasih menanggapi prilaku anaknya disekolah 

Bapak itu pun menceritakan hal yang sama, prilaku anaknya selama dirumah. Jarkasih susah diarahkan. Selalu menolak jika dimintai tolong oleh kedua orang tuanya. Selalu susah jika ajak sholat, termasuk sholat Jumat. Padahal sebelumnya ia selalu rajin shalat, dan mengaji.

"Pergaulan" kata itu yang terucap dari bapak Jarkasih. Selama ini, jarkasih berteman dengan teman sebaya yang tak sekolah. Hampir setiap hari mereka nongkrong dan bebergian kemana saja, tak tau arah.

Orang tua Jarkasih terlihat kecewa atas prilaku anaknya, wajah keduanya menjelaskan rasa itu. Lebih dalam lagi, ia menyampaikan rasa kecewa lewat kata-kata.

Sepiring gula cair disuguhkan, diambil dari wajan panas dihadapan kami. Rasa manis dan harum terasa begitu nikmat. Kami menyudahi kunjungan itu, mengakhiri percakapan dan bangkit dari duduk. Pamit, dan langsung kembali ke rumah dinas dekat sekolah. Semoga Jarkasih berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita