Sore Tadi

Setelah Ashar sore ini, saya kedatangan seorang alumni perempuan yang hendak menikah. Wajahnya cantik, hidung mancung, dan bermata jeli. Terlihat masih sangat belia, baik penampilan juga sikapnya. Ia lulus 4 tahun yang lalu dari SMP, sekarang usianya baru beranjank 19 tahun. Ini adalah pernikahan kedua, setelah gagal di pernikahan pertama, satu tahun lalu.

Trauma kegagalan di pernikahan pertama, terus membayangi. Tetapi hidup harus terus berlanjut, kebahagiaan mesti berusaha digapai. Menikah adalah ibadah terpanjang yang tak mudah. Godaan yang bisa berakibat fatal terus ada sepanjang usia pernikahan.

Sebagai orang yang pernah mereguk pahitnya pernikahan, khawatir akan kegagalan pasti akan terus menghantui. Hingga keraguan atas keputusan kembali menikah terus membayangi.

Dalam kedatangannya kali ini, ia memohon doa dan  restu. Selain mendoakan dan merestui, saya berpesan agar jangan lelah menjaga dan merawat pernikahannya nanti, agar tak kembali mengalami kegagalan. Meski jodoh tak ada yang tau kapan datang, dan kapan akan pergi. Sebagai manusia, wajib berikhtiar agar dua insan yang telah berjanji setia itu akan langgeng hingga ajal menjemput dalam ikatan yang kokoh.

Ada dua kalimat yang saya sampaikan, agar diteruskan kepada suaminya kelak. Tujuannya agar kedua insan ini tetap dalam satu ikatan pernikahan yang kokoh.
"Aku tak peduli berapa banyak jumlah makmum yang ada dibelakang mu. Tetapi tolong izinkan aku untuk tetap menjadikan kamu sebagai imamku."

Pipinya memerah, tangan ini diraih, dan diciumya. Untaian salam keluar dari bibirnya dan iapun berlalu.
"Surtini, Semoga menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warohmah"





Komentar

  1. Semoga SAMAWA untuk pernikahan yang kedua untuk Surtini. Untuk Pak Dadang, lanjutkan terus yaa. Semangat!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Ku

sepuluh

Menunggu Rasa Ngantuk Datang