Berburu Listrik

Hujan lebat disore itu, diiringi kencangnya tiupan angin. Kencangnya angin membawa butiran hujan masuk kedalam ruang guru. Ventilasi yang menganga, membuat angin leluasa masuk bersama hujan, dan menurunkan suhu diruangan itu. Meski hari sudah sore, kami masih belum beranjak dari aktifitas pekerjaan diruang guru tempat kami bekerja

Kami diskusi tentang kegiatan persiapan pembelajaran yang akan didokumentasikan dalam bentuk video. Peralatan sudah disiapkan, layar, infocus, dan kamera perkem sudah dipastikan berfungsi dengan baik. Ditengah diskusi seru, listrik padam. Meski padam, kami tetap meneruskan diskusi, karena hari belum terlalu sore, sehingga masih nyaman untuk beraktifitas.

Seorang guru sedang mengikuti PPG. Progam Profesi Guru, peningkatan kwalitas guru yang diakhir kegiatan akan mendapat sertifikt pendidik. Sertifikat ini yang menjadi dasar kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencairkan tunjangan profesi bagi guru. Rayi Purbayanti, S.Pd. guru IPA yang mengikuti program ini.

Hari semakin sore, ruang guru tempat kami diskusipun semakin gelap, hingga memaksa  diskusi ini harus disudahi. Kamipun membubarkan diri. Bu Rayi meninggalkan ruangan, raut kecewa nampak dari wajahnya. Ia menuju rumah dinas yang terletak diluar gerbang sekolah, mengenakan payung agar tak basah kuyup.

Malam itu listrik tak menyala, sepanjang malam tanpa penerangan. Tak nyaman tanpa listrik, meski tidur terbiasa dengan mematikan lampu. Entah yang ke berapakali listrik padam hingga lebih dari semalam lamanya.

Pagi yang cerah, hari ini pembelajaran tatap muka terbatas berjalan seperti biasa. Anak-anak sudah sampai di sekolah, mereka bersiap masuk ke dalam kelas masing-masing. Tadarus, membaca Al-Quran jadi ko kulikuler di sekolah ini. Kegiatan yang berlangsung diawal jam pelajaran.
Bu Rayi masih bersiap dengan peralatan merekam, kamera dan proyektor untuk pemelajaran sudah disiapkan. Berharap listrik akan menyalah hari ini. Informasi yang beredar, ada pohon tumbang dan menimpa kabel tegangan tinggi. Tak jauh dari pohon tumbang, tiang listrik roboh, dan tak bisa digunakan lagi.

Hingga siang hari, tak ada tanda-tanda listrik akan menyala. Beberapa orang yang lewat lokasi tumbangnya pohon, tak  melihat petugas memperbaiki kabel dan tiang yang rusak. Mendengar informasi itu, bu Rayi pun semakin gelisah. Tugas akhir yang menjadi penentu kelulusan bisa saja tak bisa diselesaikan. Hingga sore, listrik tak menyalah, kabar kapan akan diperbaiki jaringan listrik yang rusakpun tak bisa diketahui. Malam pun datang, malam kedua tanpa listrik, dan penerangan.

Pagi cerah, tetapi tak mampu membuat bu Rayi tersenyum lepas. Dead line pengiriman video pembelajaran hari ini berakhir. Rencananya hari ini hendak berburu listrik ke kampung sebelah yang tak terkena dampak pemadaman dari putusnya jaringan kabel. Tim pun bersiap, kebetulan pagi ini tak ada jam mengajar, hingga saya berkesempatan ikut untuk ambil bagian berburu listrik hari ini.

Target tim mendatangi kampung Babakan Aceh. Di kampung itu, listrik tak padam, gardu listrik disana berada di wilayah Kecamatan Muncang. Beda gardu dengan jaringan listrik yang ada di Cigaclung.
Siswa peserta pembelajaran juga ikut ke kampung itu. Sekitar 7 unit sepeda motor berangkat, peralatan juga tak lupa diangkut. Perjalanan sangat sulit di tempuh. Jalan berbatu, terjal, dengan jalan menanjak dan menurun yang ekstrim. Jarak memang tak terlalu jauh, tapi medan sangat sulit ditempuh.

Setelah 30 menit kami sampai ke kampung itu. Suasana sejuk pegunungan menyambut kami serombongan. Saya coba bertemu Kaka Ojan, Ustad pemilik pondok pesantren tradisional di kampung Babakan Aceh. Saya menemuinya untuk meminta izin menggunakn ruangan pondoknya yang biasa digunakan santri belajar mengaji. Sayang, ruangan itu tak bisa dipinjamkan. Ada tamu jamaah tabligh yang menginap sejak dua hari kemarin.

Setelah dipastikan tak bisa menggunakan ruangan pondok, kami mendatangi penduduk yang rumahnya agak besar, yang bisa menampng 15 siswa. Pa Masita, pemilik rumah dengan ruang tamu agak luas. Setelah mendapat izin, persiapan dimulai. Peralatan disiapkan, kamera dan infokus di nyalakan. Breifing dimulai, untuk meminimalis kesalahan dalam pengambilan gambar.
Briefing belum selesai dilakukan, tiba-tiba proyektor redup, dan langsung tak bercahaya. Listrik padam, semua kaget, bingung, dan shock. Setelah dua hari menunggu, lalu mencari, setelah dapat listrik pun padam. Bu Rayi hanya terdiam, raut wajahnya menggambarkan kekecewaan yang sangat dalam, tak ada yang bisa ia perbuat. Menunggu listrik menyala, sepertinya tak mungkin, karena tak tau kapan listrik akan menyalah. Pergi mencari listrik dikampung lain juga sulit, kemana hendak mencari.
Tak ada pilihan lain, bagaimanapun, listrik harus didapatkan. 

Bu Rayi berkemas, laptop, dan  proyektor dimasukan kesalam ransel. Layar yang sudah terkembang diturunkan, kemudian digulung. Siswa yang ikut dalam kegiatan itu, langsung bersiap berangkat ke kampung lain yang mungkin ada aliran listrik.

Kampung Cireundeu disambangi, meski dengan medan yang silit, deru sepeda motor terdengar keras, menaklukan tanjakan terjal dengan jalan bebatuannya. Setelah berapa lama, sampailah tim pemburu listrik dikampung Cirendeu. Alhamdulilah listrik menyalah disana. langsung saja mengetuk rumah penduduk yang sekiranya dapat di tumpangi untuk kegiatan mendokumentaaikan proses pembelajaran.

Beruntung diizinkan menumpang berkegiatan. Siswa yang terlibat, aktif, dan semangat. Terbayar sudah lelah pencarian listrik dihari itu. Proses lancar, tak ada kendala. 

Video yang sudah diproses edit sana sini, dikirim kepada panitia penyelenggara kegiatan PPG. Lega rasanya, termasuk saya yang hanya melihat bu Rayi berjibaku dengan kegiatannya.

Seperti biasa, pembelajaran disekolah berlangsung. Bu Rayi Purbayanti mengajar dikelas 7. Menjelaskan materi IPA hingga bel istirahat berbunyi. Setelah bel istirahat berbunyi, ia bergegas menuju ruang guru, disana ia mebuka smartphone sambil berbincang dengan sesama teman guru. Seorang teman mengirim link lewat pesan singkat di WA, link untuk melihat pengumuman hasil kelulusan PPG yang satu bulan lalu berakhir. Dengan harap-harap cemas di buka link itu. Memasukan username, dan password yang diminta. Setelah itu diklik tuts "kirim", loading, dan berputar beberapa saat. Kemudian terlihat jelas keterangan yang memastikan Rayi Purbaynti "lulus".

Tangispun pecah, isak tangis keras menderu diantara riuhnya perbincangan guru diwaktu istirahat. Tangis bahagia dari perjuangan berat yang dilakukan berbulan-bulan dan tak mengenal lelah. Ia bersimpuh dihadapan saya, dengan derai air mata yang masih deras bercucuran, mengucap terimakasih, atas bantuan yang saya berikan. 

Saya tak merasa banyak membantu atas perjuangan yang ia lakukan. hanya saran dan masukan saja. bersimpuh dan menangisnya ia, seperti sayalah yang menentukan kelulusannya dalam proses itu. Saya melihat kegigihannya, kesungguhannya dalam mengikuti proses itu. Pantas jika hari ini ia mendapatkan buah manis dari perjuangannya. Yakinlah, bahwa perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan bertemu dengan takdir baiknya.

Komentar

  1. Perjuangan yang luar biasa... semoga Bu Rayi berhasil dengan segala tujuannya

    BalasHapus
  2. Luar biasa perjuangan Bu Rayi. Selamat & sukses untuk Bu Rayi dan pak Dadang. Ide brilian dapat mengantarkan sukses rekan sejawat ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  3. Angkat topi untuk kegigihan Bu Rayi
    Salut pada Pak Dadang
    Selamat dan sukses untuk Bu Rayi dan Pak Dadang

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Maasya Allah, sangat mengharukan. Luar biasa perjuangan guru2 daerah pedalaman mengatasi keterbatasan fasilitas dan rintangan alam. Barokallaah untuk bu Rayi dan guru2 di 3 Sobang..

    BalasHapus
  6. Awal yang berat, akhirnya yang manis...

    Salut buat Pak Dadang dan Bu Rayi

    Tetap semangat

    BalasHapus
  7. Perjuangan guru yang sungguh luar biasa๐Ÿ’ช

    BalasHapus
  8. Wah sebuah perjuangan panjang yang berbuah manis. Salut.

    BalasHapus
  9. Tetap semangar menghadapi tantangan yang datang
    Selamat Hari Guru

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita