empat

Empat

Hubungan lewat telpon sudah dilakukan. Yang saya konyak adalah pak Haryanto, S.Pd., biasa dipanggil pa Har.  Salah satu kepala SMP di Kab. Lebak Banten. Kebetulan ia adalah family seorang sahabat saya di Bogor. Pa Har kenal baik dengan Kepala Sekolah ditemapat saya bertugas. Pak Har juga yang menghubungkan saya dengan pa Didik Kuswinarto, kepala SMPN Satu Atap 3 Sobang.

Saya akan menuju tempat tugas yang baru hari ini. Sejak sebelum subuh sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk jaket dan mantel. Beberpa potong pakaian juga dibawa, karena khawatir harus bermalam disana.

Dari rumah saya meluncur, setelah 2 jam perjalanan, saya melewati perbatasan Jawa Barat dan Banten. Berhenti sejenak, sekedar meneguk air mineral kemasan yang saya bawa. Kontak dilakukan dengan pa Haryanto, sekedar mengabari posisi saya berada. Rencananya saya langsung menemui pa Har disekolahnya.

Sampailah saya disekolah pa Har, meski tak pernah jumpa sebelumnya, beliau begitu akrab dengan saya. Berbincang, saling menanyakan kabar. Teh hangat disuguhkan, hingga pembicaraan semakin hangat dan akrab. Pa Har memperkenalkan seorang stafnya kepada saya. Stafnya inilah yang kemudian mengantar saya menuju sekolah dimana saya ditugaskan.

Sayapun pamit, untuk melanjutkan perjalanan menuju SMPN Satu Atap 3 Sobang. Saya diminta membonceng motornya, sementara motor yang saya bawa, diminta untuk dititip pada pak Har.  Motor dinyalakan, saya dipersilahkan naik membonceng dibelakang, lalu kamipun berangkat, 30 menit pertama, jalan mulus, dan relatif datar, tak banyak hambatan. Tetapi setelah itu, jalan mulai menanjak. Semakin lama, jalan semakin ekstrim. Tanjakan tingga, dan turunan yang curam. Dag-digdug jantung ini berdebar.

Semakin lama semakin sepi, rumah penduduk di sisi kiri kanan, semakin jarang terlihat. Tanjakan semakin ekstrim saja. Terlebih ketika masuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, pohon besar menghias di kiri dan kanan jalan, daun rindangnya menutupi cahaya matahari, hingga jalan teduh tanpa cahaya matahari langsung. Seperti masuk kedalam hutan larangan dalam cerita kolosal saja.

Kami berhenti sejenak, menanyakan lokasi sekolah yang kami tuju kepada masyarakat yang ditemui. Saya tak menemukan jawaban. Mereka tak mengetahui alam sekolah yang saya sebutkan. Saya melanjutkan perjalanan, hingga bertemu dengan papan nama, yang bertuliskan "SMPN 2 Sobang". Ini bukan sekolah yang kami tuju, tetapi dari sini, saya bisa dapat info dimana letak sekolah yang kami cari.

Saya masuk ke sekolah itu, untuk menanyakan alamat sekolah yang saya maksud. Bertemu dengan seorang staf disana, lalu ditunjukan. Seharusnya dipertigaan terakhir tadi saya belok ke kanan, karena tak tahu, maka sayapun lurus.

Saya balik arah, lalu melanjutkan perjalanan. Kembali ke pertigaan itu lalu belok kiri. Jalan batu, beberapa titik masih terlihat tanah merah. Turun dan menanjak, yang melelahkan, beberapa kali harus turun dan mendorong motor yang kami naiki. Lelah sekali, keringat membasahi tubuh. Istirahat sejenak, menarik nafas panjang.

Selama istirahat, kami hanya berdua, tak bertemu siapapun, meski sekedar orang yang berlalu. Kami berbincang, mengenal lebih dalam satu sama lain. Menanyakan keluarga, kegiatan harian, juga hobi. Namanya Kurnia, ia sudah berkeluarga dengan satu anak. Pekerjaannya sebagai tenaga tata usaha disekolah.

Kami melanjutkan perjalanan, masih ada satu kampung dan dua bukit yang harus kami lewati. Tak berapa lama, kami memasuki kampung Cireundeu, kampung yang hanya dihuni puluhan KK saja. Kampung dengan pemandangan lembah yang indah, dan hijau. Kampung yang banyak terdapat persawahan yang berundak. Mata dimanjakan dengan pemandangan desa yang asri.

Kami melanjutkan perjalanan, trek menanjak coba dilalui, lumayan panjang, batu jalan yang tak tersusun dan berserakan membuat medan sulit dilalui, kembali turun dan mendorong, karena tak kuat menanjak.

Kami berada di atas, kampung Cigaclung nampak terlihat dilembah. Atap sekolah, nampak dari kejauhan. Bangunan berdampingan antara SD dan SMP, dengan lapangan luas disisnya. Kami menuruni jalan rusak itu, sepertinya motor yang kami naiki sangat kelelahan. Pengendaranya saja sudah nampak lelah dan stress menghadapi medan jalan, pasti motornya pun merasakan hal yang sama.

Motor diparkir dihalaman sekolah, saya menuju ruang guru, menemui bapak kepala. Didalam beliau sedang menerima tamu, saya dipersilahkan masuk. Saya tak diminta untuk menunggu, karena tamu yang adapun punya maksud yang sama. Tamu itu adalah Pak Ace Abidin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita