Kembali Longsor
Selesia kegiatan MGMP, saya bergegas menuju sekolah tempat saya mengajar, untuk menginap hingga akhir pekan. Cepat bergegas, karena mendung menggelayut, hitam pekat menghiasi langit Sobang. Jika hujan turun, pasti akan sulit melewati medan terjal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Sejak siang, saya sudah meminta informasi dari teman, yang berada di SMPN 3 Satu Atap Sobang. Menanyakan medan menuju sekolah, sudah bisa dilewati, atau belum?. Longsor pekan lalu menutup seluruh badan jalan. Tak selesai dalam waktu singkat untuk memindahkan material longsor yang memutus akses jalan.
Ketika melewati lokasi longsor, orang-orang yang memperbaiki jalan, sudah meninggalkan tempat. Gundukan tanah, terlihat menggunung di sisi jalan. Meski sudah bisa dilewati, bekas longsoran tanah, membuat jalan basah dan licin. Ban kendaraan yang sudah menipis, membuat harus hati-hati menjalankannya. Sesekali kaki harus diturunkan, agar tetap seimbang dan tak terjatuh. Jika jatuh ke tanah becek dan berlumpur, pastilah kotor dan akan malu jika bertemu orang.
Jalan becek sudah biasa saya lalui, begitupun terpeleset dan jatuh, seperti sudah jadi rutinitas. Kondisi itu tak pernah terlalu dirisaukan, meski kala hati sedang gundah, terlontar gerutuan kecil. Atau ketika merasa bad mood, sering terbersit dalam fikiran, "kapan bisa mutasi"
Tapi, ketika hati sedang senang, karena tunjangan sertifikasi baru saja cair, yang ada hanya rasa bahagia. Ketika uang tunjangan itu kembali menipis, rasa bad mood pun seketika muncul kembali. Sisi kemanusiaan, seperti bosan, tak betah pun datang lagi.
13 tahun kurang 4 bulan bertugas di pedalaman, sepertinya sudah cukup. Meski belum merasa bisa memberikan apa-apa bagi siswa yang dididik. Dalam sujud, dan selesai shalat, berdoa memohon untuk pindah tugas ke tempat yang bisa dekat dengan keluarga selalu dipanjatkan. Memohon doa restu orang tua, juga dilakukan. Bersilaturahmi, menemui sahabat untuk bantu mendoakan, juga ditempuh.
Berusaha dan berdoa, tak boleh berhenti. Menggapai harapan terbaik dalam hidup harus terus dilakukan. Meski segalanya harus bersandar kepada yang maha menentukan, tetapi sebuah ayat yang menjelaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan, selain apa yang ia usahakan, juga harus diyakini.
Sampai di sekolah, motor diparkir didepan ruang guru. Gerimispun datang, tak lama, berubah menjadi hujan yang lebat. Hawa dingin berhembus disela lebatnya hujan, dalam hati berbisik, "mungkinkah longsor kembali terjadi"
Sejak siang, saya sudah meminta informasi dari teman, yang berada di SMPN 3 Satu Atap Sobang. Menanyakan medan menuju sekolah, sudah bisa dilewati, atau belum?. Longsor pekan lalu menutup seluruh badan jalan. Tak selesai dalam waktu singkat untuk memindahkan material longsor yang memutus akses jalan.
Ketika melewati lokasi longsor, orang-orang yang memperbaiki jalan, sudah meninggalkan tempat. Gundukan tanah, terlihat menggunung di sisi jalan. Meski sudah bisa dilewati, bekas longsoran tanah, membuat jalan basah dan licin. Ban kendaraan yang sudah menipis, membuat harus hati-hati menjalankannya. Sesekali kaki harus diturunkan, agar tetap seimbang dan tak terjatuh. Jika jatuh ke tanah becek dan berlumpur, pastilah kotor dan akan malu jika bertemu orang.
Jalan becek sudah biasa saya lalui, begitupun terpeleset dan jatuh, seperti sudah jadi rutinitas. Kondisi itu tak pernah terlalu dirisaukan, meski kala hati sedang gundah, terlontar gerutuan kecil. Atau ketika merasa bad mood, sering terbersit dalam fikiran, "kapan bisa mutasi"
Tapi, ketika hati sedang senang, karena tunjangan sertifikasi baru saja cair, yang ada hanya rasa bahagia. Ketika uang tunjangan itu kembali menipis, rasa bad mood pun seketika muncul kembali. Sisi kemanusiaan, seperti bosan, tak betah pun datang lagi.
13 tahun kurang 4 bulan bertugas di pedalaman, sepertinya sudah cukup. Meski belum merasa bisa memberikan apa-apa bagi siswa yang dididik. Dalam sujud, dan selesai shalat, berdoa memohon untuk pindah tugas ke tempat yang bisa dekat dengan keluarga selalu dipanjatkan. Memohon doa restu orang tua, juga dilakukan. Bersilaturahmi, menemui sahabat untuk bantu mendoakan, juga ditempuh.
Berusaha dan berdoa, tak boleh berhenti. Menggapai harapan terbaik dalam hidup harus terus dilakukan. Meski segalanya harus bersandar kepada yang maha menentukan, tetapi sebuah ayat yang menjelaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan, selain apa yang ia usahakan, juga harus diyakini.
Sampai di sekolah, motor diparkir didepan ruang guru. Gerimispun datang, tak lama, berubah menjadi hujan yang lebat. Hawa dingin berhembus disela lebatnya hujan, dalam hati berbisik, "mungkinkah longsor kembali terjadi"
Semoga selalu sehat dan selamat dalam menjalankan tugas pengabdiannya. Insya Allah. Semoga sebaik baik balasan dari Nya atas segala ikhlas dan peluh yang dimiliki.
BalasHapusSubhanaullah, kekuatan hati yg besar mampu kalahkan gunung yg berpijak kuat di bumi. 13 thn boleh jadi kekuatan yg dipupuk menjadi sebesar gunung utk memanggul beratnya hidup. Semangat pak Dadang, insyaallah Allah berikan balasan utk kesabatan yg besar, aamiin.
BalasHapus