lima

Lima

Dalam pesan singkat yang diterima dari bapak kepala sekolah, kami diminta hadir bersama di tugas perdana. Melakukan rapat, untuk mengkonsolidasikan kegiatan yang akana dilaksanakan kedepan sebagai guru, juga sebagai CPNS. Dari informasi itu, saya dan semua teman sepakat untuk berangkat bersama. Karena medan menuju sekolah sulit, maka kami berencana untuk datang bersama-sama dengan berjalan kaki.

Jalur yang akan ditempuh, berbeda dengan yang sebelumnya saya lewati. Jalur ini lebih dekat, hingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari jalan raya terdekat. Jaraknya, sekitar 7 Km. Dengan medan yang hampir sama terjalnya, dengan jalur yang pernah saya lewati.

Titik kumpul kami adalah pasar Ciminyak, pasar desa yang kecil. Dipasar itu, hanya ada beberapa pedagang sayur-mayur, sembako, dan pakaian. Ikan laut, dan ikan air tawar juga ada. Kesibukan pasar juga biasa saja, tak terlalu ramai. Kami tak datang bersamaan, satu demi satu datang beberpa langsung menuju lokasi. Ternyata kami ada delapan orang, ini disampaikan oleh bapak kepala sekolah. Dari berdelapan, 3 orang adalah guru perempuan, sisanya adalah laki-laki.

Setelah siap kami mulai berjalan, sebelumny, motor yang kami bawa, dititipkan dirumah warga dekat pasar. Pa Kepala sekolah memimpin didepan, berjalan dengan gagahnya. Ketika melewati warung, kami berhenti, ia membeli beberapa botol minuman, dan memberikannya kepada kami. Tak berapa lama, jalan mulai menanjak, kami yang jarang berolahraga, sangat merasa kelelahan. Sementara yang sering aktifitas olahraga, bisa lebih kuat berjalan.


Kala itu, kami berlima, saya, M, Abduh, Ubaidillah, Ace Abidin, dan bapak kepala sekolah, Didik Kuswinarto. Sisa lainnya, Aang Kunaefi, Eneng Dian, dan Ade Juaidah langsung ke lokasi diantar oleh ojek lokal yang tak diragukan lagi kemampuannya, dalam melintas medan terjal pedalaman Banten. Tapi satu orang guru tak bisa hadir dalam rapat dinas nanti, namanya Iis Masaroh, ia tak bisa hadir, karena baru saja melahirkan.

Beberapa kali kami istirahat, karena kelelahan, terutama ketika melewati tanjakan. Deru nafas kami berlima begitu terdengar bersahutan. Pa kepala yang biasa olahragapun sama. Terdengar nafasnya lebih cepat. Ditengah istirahat, kami saling bercerita, membagi pengalaman, tentang pekerjaan sebelumnya. Diantara kami, punya latar belakang yang berbeda. Meski demikian, ada kesamaan, latar belakang kami dari keluarga dengan profesi berbeda, tetapi ada kesamaan, yaitu semua bukan dari keluarga berada.

Kami melanjutkan perjalanan yang semakin menanjak. Rindangnya pepohon di kiri dan kanan jalan, membuat sianar matahari tak bisa menemus permukaan tanah. Hingga jalan basah, meski hujan telah terjadi, beberapa hari yang lalu.

Dari kejauhan terlihat tanjakan yang sangat tinggi. Terus melangkah untuk mendekat. Tak ada pilihan lain, selain menaikinya. Kami perlahan terus menapaki tanjakan itu. Kadang berhenti, sekedar menarik nafas panjang atau meneguk air yang dibawa, agar tenaga kembali ada dan kuat melangkahkan kaki. Meski kelelahan, kami bisa mencapai ujung tanjakan. Kembali menarik nafas panjang. Terlihat kampung Ciseel dari ujung tanjakan. Kampung kecil dengan rumah-rumah sederhana.

Dikampung ciseel, kami tak berhenti, meski banyak penduduk yang menawari kami untuk mampir. Setelah melewati kampung Ciseel, kami kembali disuguhi tanjakan, meski tanjakan yang landai. Setelah itu, turunan terjal meminta kami untuk menapakinya. Jalan menurunpun tak mengenakan, meski energi yang dikeluarkan tak sebanyak ketika menanjak, tetapi kerja lutut sebagai tumpuan menjadi lebih berat.

Kami tak langsung menuruni jalan itu. Pa kepala menunjukan letak sekolah. Terlihat genting dan dinding samping dari kejauhan. Dengan jari tengahnya ia menunjuk sekolah yang kemudian sebagai tempat kami untuk mengabdi.

Sampai sekolah, kami terkapar, mbaringkan tubuh di lantai ruanng guru. Sepertinya tak akan bisa fokus, jika rapat dilanjutkan. Untung saja, selama perjalanan tadi, pak kepala banyak rencana kegiatan dan program yang berkaitan dengan yang akan dirapatkan. Hingga materi rapat sudah saya dapatkan meski sebenarnya, acara rapat belum dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita