Sabtu Malam
Malam ini tak ada hujan, meski langit sepertinya mendung. Sejak siang tadi, mendung tipis sudah terlihat. Tetapi mendung tak cukup untuk menurunkan air hujan.
Ketika remaja, malam minggu adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu. Sejak Sabtu siang sepulang sekolah, sudah janji dengan beberapa teman, untuk trip, atau sekedar nongkrong. Jika sudah seperti itu, maka tiba dirumah malam hari, semakin malam sampai kerumah, terlihat semakin gaul.
Tempat nongkrong favorit, adalah disekitar jalan Merdeka, kota Bogor. Nongkrong disana seru, karena banyak bertemu dengan siswa dari sekolah lain. Siswa SMA 5 Kota Bogor, banyak yang menunggu angkutan disekitar toko swalayan Pakali. Massa itu, meski mereka dari keluarga berada, pulang-pergi naik angkutan umum, jadi keseharian.
Kala itu, SMA Negeri 5 Kota Bogor adalah sekolah favorit. Soal prestasi, tak diragukan lagi. Banyak orang sukses lahir dari selolah ini. Karena sekolah favorit, banyak keluarga berada, menyekolahkan anakanya disana. Siswi dari keluarga berada itu, indah dipandang mata. Karena asupan gizi mereka cukup, makanan 4 sehat 5 sempurna selalu dihidangkan dirumahnya, dari asupan gizi yang baik itu, kulit mereka terlihat putih mulus dan sehat. Begitupun rambutnya, terlihat hitam pekat, dan berkilau. Kulit putih, dan rambut yang terawat indah dipandang mata
Hanya bisa memandangi, tak berani mencuri perhatian mereka. Kurang pede, menarik perhatian kalangan berada.
Tempat nongkrong lain adalah pas didepan Ramayana Ciputat. Disekitar Ciputat, banyak sekolah swasta. Banyak diantaranya adalah STM, nongkrong disana hanya untuk fan saja, sekedar nongkrong, gabung dengan beberpa teman dari sekolah lan.
Parung adalah kota kecamatan yang terletak antara Jakarta dan kota Bogor. Dari Parung, jarak keduanya tak terlalu jauh, sehingga hanya butuh waktu beberpa menit saja, untuk bisa sampai ke Bogor atau Jakarta. Terlebih, ketika dizaman remaja dulu, hampir tak ada yang namanya kemacetan. Hobi nongkrong diakhir pekan jadi rutinitas. Hingga pernah suatu waktu, nongkrong hingga ke Blok M Jaksel, padahal didaerah itu rawan sekali tauran pelajar. Bersenggolan sedikit saja di terotoar, perkelahian, bisa seketika pecah. Bukan hanya tauran, pembajakan bis oleh pelajar juga pernah terjadi dikawasan itu.
Tidak hanya kota Bogor, Ramayana Ciputat dan Blok M. Kawasan puncakpun sering disambangi. Biasanya ikut truk kosong sehabis mengantar sayuran ke Jakarta. Truk yang melambat di sekitar pasar Parung diberhentikan. Lalu dengan beberapa teman, naik keatas truk. Sering sekali tak langsung sampai di kawasan puncak, karena biasanya truk masuk gerbang tol. Kami harus turun, dan mencari tumpangan lain.
Bukan hanya truk pengangkut sayuran, pernah suatu ketika, truk yang kami naiki, sehabis mengangkut ternak yang penuh kotoran. Truk yang melambat sekitar pasar di stop, pak supir tak keberatan kami ikut dibelakang, kamipun langsung menaiki truk dari sisi kiri, sampai di atas, langsung melompat kedasar truk. Walhasil, kotoran hewan yang berserakan di lantai truk, mengotori sepatu dan celan. Sepanjang jalan, kami hanya bisa berdiri ditengah menjaga keseimbangan tanpa berpegangan, karena dibagian dinding bak truk yang biasa tempat berpegangan pun sama, banyak sekali kotoran hewan yang menempel.
Gerimis datang, angin berhembus. Tak lama hujan deraspun turun membasahi bumi. Malam semakin larut, ngantuk pun datang, akhirnya terlelep. ..
Ketika remaja, malam minggu adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu. Sejak Sabtu siang sepulang sekolah, sudah janji dengan beberapa teman, untuk trip, atau sekedar nongkrong. Jika sudah seperti itu, maka tiba dirumah malam hari, semakin malam sampai kerumah, terlihat semakin gaul.
Tempat nongkrong favorit, adalah disekitar jalan Merdeka, kota Bogor. Nongkrong disana seru, karena banyak bertemu dengan siswa dari sekolah lain. Siswa SMA 5 Kota Bogor, banyak yang menunggu angkutan disekitar toko swalayan Pakali. Massa itu, meski mereka dari keluarga berada, pulang-pergi naik angkutan umum, jadi keseharian.
Kala itu, SMA Negeri 5 Kota Bogor adalah sekolah favorit. Soal prestasi, tak diragukan lagi. Banyak orang sukses lahir dari selolah ini. Karena sekolah favorit, banyak keluarga berada, menyekolahkan anakanya disana. Siswi dari keluarga berada itu, indah dipandang mata. Karena asupan gizi mereka cukup, makanan 4 sehat 5 sempurna selalu dihidangkan dirumahnya, dari asupan gizi yang baik itu, kulit mereka terlihat putih mulus dan sehat. Begitupun rambutnya, terlihat hitam pekat, dan berkilau. Kulit putih, dan rambut yang terawat indah dipandang mata
Hanya bisa memandangi, tak berani mencuri perhatian mereka. Kurang pede, menarik perhatian kalangan berada.
Tempat nongkrong lain adalah pas didepan Ramayana Ciputat. Disekitar Ciputat, banyak sekolah swasta. Banyak diantaranya adalah STM, nongkrong disana hanya untuk fan saja, sekedar nongkrong, gabung dengan beberpa teman dari sekolah lan.
Parung adalah kota kecamatan yang terletak antara Jakarta dan kota Bogor. Dari Parung, jarak keduanya tak terlalu jauh, sehingga hanya butuh waktu beberpa menit saja, untuk bisa sampai ke Bogor atau Jakarta. Terlebih, ketika dizaman remaja dulu, hampir tak ada yang namanya kemacetan. Hobi nongkrong diakhir pekan jadi rutinitas. Hingga pernah suatu waktu, nongkrong hingga ke Blok M Jaksel, padahal didaerah itu rawan sekali tauran pelajar. Bersenggolan sedikit saja di terotoar, perkelahian, bisa seketika pecah. Bukan hanya tauran, pembajakan bis oleh pelajar juga pernah terjadi dikawasan itu.
Tidak hanya kota Bogor, Ramayana Ciputat dan Blok M. Kawasan puncakpun sering disambangi. Biasanya ikut truk kosong sehabis mengantar sayuran ke Jakarta. Truk yang melambat di sekitar pasar Parung diberhentikan. Lalu dengan beberapa teman, naik keatas truk. Sering sekali tak langsung sampai di kawasan puncak, karena biasanya truk masuk gerbang tol. Kami harus turun, dan mencari tumpangan lain.
Bukan hanya truk pengangkut sayuran, pernah suatu ketika, truk yang kami naiki, sehabis mengangkut ternak yang penuh kotoran. Truk yang melambat sekitar pasar di stop, pak supir tak keberatan kami ikut dibelakang, kamipun langsung menaiki truk dari sisi kiri, sampai di atas, langsung melompat kedasar truk. Walhasil, kotoran hewan yang berserakan di lantai truk, mengotori sepatu dan celan. Sepanjang jalan, kami hanya bisa berdiri ditengah menjaga keseimbangan tanpa berpegangan, karena dibagian dinding bak truk yang biasa tempat berpegangan pun sama, banyak sekali kotoran hewan yang menempel.
Gerimis datang, angin berhembus. Tak lama hujan deraspun turun membasahi bumi. Malam semakin larut, ngantuk pun datang, akhirnya terlelep. ..
Nostalgia nih Pak. Hehe
BalasHapusTerimakasih sudah berkunjung pa..
HapusSayangnya malam itu aku tak bisa tidur...
BalasHapusNostalgia yang berkumis tipis ditulis juga ya
BalasHapusItu mah dibuku solo, dipenerbit mayor..
HapusMemoar yg penuh kenangan, matuuul..
BalasHapusKenangan indah tak terlupakan..hehe
BalasHapus