satu

Satu

Menjadi guru tak pernah terpukirkan oleh saya, guratan nasib yang membawa pada proesi ini. Kala itu, saya bekerja di sebuah sekolah swasta di Bogor, bukan sebagai guru, tetapi sebagai taenaga administrasi.

Tugas saya sebagai tenaga administrasi, membantu keperluan guru, membuat absen, mengetik surat, dan administrasi yang mendukung proses pembelajaran lainnya.

Setelah beberapa lama diposisi itu, saya dipindagkan pada bagian keuangan. Menerima iuran siswa, merekapnya, kemudian menyetorkan ke kepala keuangan.

Beberapa tahun diposisi itu, kemudian saya dipercaya menjadi kepala keuangan disalah satu unit kerja di perguruan itu. Suatu ketika, sekolah kekurangan guru mata pelajaran. Saya ditawari untuk mengajar mata pelajaran IPA di kelas VII. Saya menerima tawaran itu, meski ada syaratnya. Syaratnya adalah saya harus kuliah, mengambil jurusan keguruan.

Sebagai guru honor dengan penghasilan tak seberapa akan terasa berat untuk membiayai kiliah. Tetapi saya yakin, dengan pertolongan Yang Maha Kuasa, saya dapat menyelesaikan kuliah. Memenuhi kebutuhan rumah tangga, juga harus membayar biaya kuliah, sangat memberatkan. Hingga harus bekerja sampingan apa saja, demi terpenuhinya kebutuhan itu.

Kulaiah dapat selesai akhirnya. Sidang skripsi, dapat dilalui dengan baik. Ijazah tak lama sudah bisa diambil dikampus, tetapi jika kewajiban sudah bisa diselesaikan. Dengan susah payah, tunggakan biaya kuliah, bisa dibayarakan. Tak lama, ijazah Bisa diambil di kampus, senang rasanya, berhasil mendapatakan gelar sarjana.

Beberapa waktu kemudian, tersiar berita seleksi CPNS, meski awalnya tak yakin, teapi akhirnya mencoba untuk ikut mengadu nasib dan bersaing dengan peseeta lain. Tes yang melelahkan, jarak dari rumah dan lokasi tes di Rangkasbitung sangat jauh, hingga harus berangkat tengah dimalam, ketika sedang nikmatnya terlelap.

Setelah menunggu, pengummuman pun datang. Koran lokal di Banten, mengabarkan itu. Nama saya tercatat, diantara ribuan nama CPNS yang lulus se Banten di koran itu.

Air mata berlinang, tak sadar deras menetes. Tembok besar yang sepertinya tak bisa saya tembus, akhirnya bisa runtuh dengan kekuatan doa dan usaha. Syukur tak henti-hentinya dipanjatkan kehadirat Allah SWT.
"Ya Allah, semoga amanh yang engkau berikan ini, bisa ditunaikan, juga dapat memberi manfaat bagi kehidupan ini". Derai air mata masih menetes.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita