Shoopee food
Selepas isya baru tiba dirumah, aktifitas di tempat kerja yang padat sehingga sampai dirumah hari sudah larut malam. Debu jalanan terasa menempel diwajah, sehingga harus dibasuhnya wajah ini agar bersih dan terasa segar. Tak langsung mandi, karena harus menghilangkan gerah perjalanan. Mandi dalam kondisi berkeringat deras tak baik untuk kesehatan.
Mencari udara segar untuk mendinginkan tubuh diteras rumah, sambil memperhatikan beberapa aglonema yang berjejer disudut teras yang ditanam dalam pot. Beberapa pot terlihat kering, harus segera disiram. Media sekam dan pupuk organik dengan komposisi yang seimbang, tak akan baik untuk tanaman jika kandungan air tak cukup memenuhi kebutuhan tanaman.
Sedang fokus melihat tanaman, tiba-tiba seorang kurir bersepeda motor berhenti didepan rumah. Ia bergegas turun dari motornya, berjalan kearah saya sambil mengucap salam. Ia memperkenalkan diri, dan menanyakan alamat seseorang yang memesan makanan padanya.
Nama pemesannya Anti, Desa, RW, dan RTnya sama dengan alamat saya, cuma nomornya saja yang beda. Rumah saya no. 21, sedangkan Anti sang pemesan makanan bernomor 54. Rumah no 54 tak ada dalam data RT. Sang kurir sudah menyisir seluruh sudut di wilayah Rt. 04 untuk menemukan Anti pemesan makanan itu. Ia terlihat lelah, sejak terdengar azan magrib ia sudah mencarinya, tetapi hingga waktu menunjukan pukul 20.00 belum ada titik terang lokasi alamat perempuan pemesan makanan itu.
Saya sigap membantunya, menanyakan no kontak pemesan, kurir itu menyebutkan nya dengan hati-hati. Fikir saya, siapa tau no itu tersimpan di smartphone saya, atau no itu ada dalam grup yang sama, grup lingkungan RT. 04.
No itu tak saya temukan, meski dengan seksama saya menyusuri kontak demi kontak. Saya masih penasaran, lalu mencoba sekali lagi mencari, tapi tetap saya tak menemukannya. Agak lama saya coba bantu kurir itu, mencari kemungkinan untuk sampai ke alamat yang dicari.
Kurir itu nampak putus asa mencari lokasi yang mungkin alamat palsu, sesekali menyampaikan kekecewaannya kepada sang pemesan yang sulit dihubungi dihadapan saya. Raut lelahnya semakin nampak karena kekesalan itu. Harga makanan yang dipesan lumayan besar, 200rb rupiah. Ayam goreng, burger dan beberapa menu lain yang di ambil dari MC. Donald Bojong Sari.
Ketika meng-klik orderan itu, mungkin ia sambil tersenyum. Abang kurir berfikir akan mendapatkan untung. Selain selisih harga, tips dari pemesan makanan biasanya juga ia dapatkan. Tetapi tidak kali ini, ia merugi, harga makanan itu harus ia tutupi dari uang yang harusnya untuk memenuhi kebutuhan lain. Mungkin dari nafkah belanja yang biasa diberikan kepada istrinya. Atau uang tabungan yang ia simpan untuk mencicil Honda Beat yang ia kendarai.
Saya hanya bisa bersimpati, tak bisa berempati kepada kurir itu, dan sekarang sayapun menyesal tak memutuskan untuk membantu lebih dari itu.
Mencari udara segar untuk mendinginkan tubuh diteras rumah, sambil memperhatikan beberapa aglonema yang berjejer disudut teras yang ditanam dalam pot. Beberapa pot terlihat kering, harus segera disiram. Media sekam dan pupuk organik dengan komposisi yang seimbang, tak akan baik untuk tanaman jika kandungan air tak cukup memenuhi kebutuhan tanaman.
Sedang fokus melihat tanaman, tiba-tiba seorang kurir bersepeda motor berhenti didepan rumah. Ia bergegas turun dari motornya, berjalan kearah saya sambil mengucap salam. Ia memperkenalkan diri, dan menanyakan alamat seseorang yang memesan makanan padanya.
Nama pemesannya Anti, Desa, RW, dan RTnya sama dengan alamat saya, cuma nomornya saja yang beda. Rumah saya no. 21, sedangkan Anti sang pemesan makanan bernomor 54. Rumah no 54 tak ada dalam data RT. Sang kurir sudah menyisir seluruh sudut di wilayah Rt. 04 untuk menemukan Anti pemesan makanan itu. Ia terlihat lelah, sejak terdengar azan magrib ia sudah mencarinya, tetapi hingga waktu menunjukan pukul 20.00 belum ada titik terang lokasi alamat perempuan pemesan makanan itu.
Saya sigap membantunya, menanyakan no kontak pemesan, kurir itu menyebutkan nya dengan hati-hati. Fikir saya, siapa tau no itu tersimpan di smartphone saya, atau no itu ada dalam grup yang sama, grup lingkungan RT. 04.
No itu tak saya temukan, meski dengan seksama saya menyusuri kontak demi kontak. Saya masih penasaran, lalu mencoba sekali lagi mencari, tapi tetap saya tak menemukannya. Agak lama saya coba bantu kurir itu, mencari kemungkinan untuk sampai ke alamat yang dicari.
Kurir itu nampak putus asa mencari lokasi yang mungkin alamat palsu, sesekali menyampaikan kekecewaannya kepada sang pemesan yang sulit dihubungi dihadapan saya. Raut lelahnya semakin nampak karena kekesalan itu. Harga makanan yang dipesan lumayan besar, 200rb rupiah. Ayam goreng, burger dan beberapa menu lain yang di ambil dari MC. Donald Bojong Sari.
Ketika meng-klik orderan itu, mungkin ia sambil tersenyum. Abang kurir berfikir akan mendapatkan untung. Selain selisih harga, tips dari pemesan makanan biasanya juga ia dapatkan. Tetapi tidak kali ini, ia merugi, harga makanan itu harus ia tutupi dari uang yang harusnya untuk memenuhi kebutuhan lain. Mungkin dari nafkah belanja yang biasa diberikan kepada istrinya. Atau uang tabungan yang ia simpan untuk mencicil Honda Beat yang ia kendarai.
Saya hanya bisa bersimpati, tak bisa berempati kepada kurir itu, dan sekarang sayapun menyesal tak memutuskan untuk membantu lebih dari itu.
Komentar
Posting Komentar