Tamu Istimewa

Selesai shalat ashar, kembali duduk di meja kerja. Meneruskan edit naskah, dan menyelesaiakan beberapa pekerjaan yang tertunda. Pekerjaan ada saja, hingga tak sempat meski sekedar membalas pesan yang dikirim oleh sahabat dan beberapa teman sejawat. 

Benar saja, seperti hari kemarin, beberapa siswi datang ke sekolah, mereka sudah biasa, hampir tiap sore datang ke sekolah sekedar duduk-duduk dan berbincang dihalaman sekolah dekat ruang guru. Kedatangan mereka setelah membantu ibu memasak dirumah. 

Tampak cantik, karena pastinya sudah mandi, dan wangi, karena menyemprotkan parfum di badannya. Diantara mereka ikut juga seorang alumni, namanya Mirna, lulus dua tahun lalu, andai ia melanjutkan sekolah, sekarang sudah duduk di kelas XI SMA. 

Mirna nampak cantik petang itu, hidung mancung, kulit putih, dengan wajah yang agak kemerahan. Dengan stelan gamis, coklat muda nampak serasi. Mengenakan kerudung segi empat dengan warna lebih muda dari baju yang dikenakan. Cuma sendalnya yang kurang mach dengan baju dan kerudungnya. Sandal jepit yang digunakan berwarna kuning. Untung saja, ketika masuk ruangan sandal jepitnya dilepas, hingga tak terlihat ketidak serasiannya. 

Kami bersalaman, iapun tersenyum lepas, nampak Mirna sangat senang bertemu dengan saya guru SMP nya. Saya pun sama, ada rasa kangen yang dalam dengan Mirna, dalam karena dulu ketika ia masih sekolah di SMP ini, kami dan siswa lainya sering berkegiatan. Ia berdiri didekat meja kerja saya, saya minta ia menarik kursi guru yang ada disebelah kiri saya, untuk ia duduki.

Seperti biasa, jika bertemu dengan alumni,  saya menanyakan kabar, begitupun Mirna, ia menanyakan kabar saya. Perbincangan semakin melebar, topik yang dibahas juga semakin bervariasi. Ia menceritakan teman-temannya yang sudah menikah. Ia menyebutkan nama 3 teman sekelasnya yang tak lama setelah lulus, langsung menikah. 

"Nur, Liyah, dan Tuti" 3 nama disebutkan Mirna, ketiganya sudah menikah. Mirna belum siap menikah, ia mengatakan itu, setelah saya menanyakannya. Ia masih ingin bekerja, membantu ekonomi keluarganya. 

Mirna bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jati Bening, kota Bekasi. Majikannya sepasang suami istri yang sudah paruh baya. Majikannya memiliki dua putra, yang sulung sudah menikah, dan si bungsu bekerja di kota Samarinda. 
"Sudah dua tahun, si bungsu belum pulang ke rumah" ujar Mirna menjelaskan. 

Semua pekerjaan rumah tangga di rumah majikannya, ia yang mengerjakan. Mulai dari mencuci, memasak, dan mengepel. Lelah sepertinya, tapi tak ada pilihan lain jika ia masih ingin berpenghasilan. 

Beberapa kali sang majikan mengajak ia ikut bertamasya ke tempat wisata. Selain itu, ia juga sering diikutkan pergi ke mall untuk berbelanja, atau hanya sekedar jalan-jalan. Jika boleh memilih, ia lebih senang pergi ke mall, disana bisa cuci mata katanya. 

Sepekan yang lalu ia kembali ke kampung halaman, lelah bekerja, hingga rasa rindu kepada kedua orang tua, sering menghampiri perasaannya. Izin dengan majikannya hanya untuk melepas rindu, karena hampir setahun tak jumpa dengan bapak dan ibu. Tetapi ia mempersilahkan, jika sang majikan ingin mencari pengganti  untuk bekerja dirumahnya.

Disela perbincangan saya menawarkan Mirna untuk melanjutkan sekolah. Mirna tak menjawab tawaran itu. Dia hanya terdiam, sepertinya enggan berkomentar. Ia coba memindahkan perbincangan ini pada topik yang lain. Saya masih ingin ditopik itu, lalu saya coba mengulangi untuk  menawarkan Mirna agar masuk saja ke pesantren tradisional, jika tak mau bersekolah di lembaga formal, yang banyak aturan. Ia masih enggan menjawab, saya tak meneruskan pertanyaan, apalagi mendesak agar ia menjawab. Biar saja, ia sudah beranjak dewasa, usianya hampir 18 tahun. Ia sudah berhak menentukan jalan hidup untuk masa depannya. 

Hari semakin sore, sepertinya Mirna masih ingin berbincang banyak dengan saya. Tetapi, ia harus pulang, ibu dan bapak pasti sedang menunggu kepulangannya dirumah. Mirna dua bersaudara, kakanya laki-laki, dan sudah menikah. Sebagai satu-satunya anak gadis, ibu dan bapaknya sangat menyayanginya.

Mirna hendak pamit, sebagai gurunya, tak lupa saya menyampaikan nasihat. Saya menanyakan tentang shalatnya, rajin atau tidak. Alhamdulillah, ia rajin shalat. Saya meneruskan nasihat, saya sampaikan bahwa sholat adalah pelindung diri ini dari perbuatan yang dimurkai Allah. Saya meyakinkan ia bahwa sholat yang dilakukan akan melindungi dirinya dari segala malapetaka kehidupan. Karena sholat melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. 

Mirna pamit, mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan saya. Beberapa saat ia berhenti, lalu menoleh kearah saya yang berdiri didepan pintu ruang guru.  Ia menganggukan kepala, isyarat izin meninggalkan saya sendiri di ruang kerja. Semoga kebaikan terus menyertai Mirna, itu doa yang saya ucapkan dalam hati.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita