Bahagia Karen Sederhana
Koreksi, olah nilai , lalu menginputnya ke dalam aplikasi e-raport. Cukup melelahkan, sepertinya perlu refresing. Tidak perlu ke tempat yang jauh dan harga tiketnya mahal, cukup yang bisa dijangkau saja. Yang penting dapat membuat hati riang gembira, dan badan menjadi sehat.
Memilih mendaki gunung yang tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar. Gunung Menir namanya, lumayan tinggi, tanjakannya juga ekstrim. Sangat menguras tenaga. Kami mendaki bertiga, saya, pa Dian, dan guide penduduk lokal, pa Rusdiman.
Jam 08.30 Wib. Pendakian dimulai, sebelum berangkat menyiapkan air minum sebagai perbekalan. Dalam perjalanan, sejenak mampir ke warung sisi jalan, sekedar membeli beberapa jenis makanan. Wafer Tanggo, sukro, roti dan minuman berenergi. Dirasa cukup, perjalananpun dilanjutkan. Menyusuri jalan setapak, hingga diperbatasan kampung di kaki gunung. Jalan mulai menanjak, pepohonan nampak rapat dikiri dan kanan jalan.
Jalan mulai terasa terjal, lelah mulai datang. Berhenti sejenak, untuk menarik nafas lebih. Dibawah pohon duku yang biasa digunakan pemuda sekitar gunung untuk berburu sinyal. Tempatnya diketinggian, hingga sinyal internet mudah didapat di dekat pohon duku ini. Ketika lelah telah berkurang, pendakian dilanjutkan. Pepohonan semakin lebat, sinar matahari tak bisa menembus dedaunan yang berlapis-lapis. Hingga suhu lebih sejuk karenanya.
Sinar matahari yang tak tembus ke permukaan tanah, menyebabkan semak dan rumput tak tumbuh subur di bawah pepohonan. Hingga langkahpun tak terhalang oleh semak dan rumput liar. Hanya batu yang terhampar, meski kadang jalan batu yang tak tertata, hingga kaki tersandung, dan terasa sakit.
Lebih satu jam perjalanan, lokasi yang dituju belum juga nampak. Guide pa Rusdiman, hanya mengatakan "sebentar lagi, kita akan sampai." Langkah tak menyerah terus dilakukan. Meski kadang berhenti, istirahat, tak lama melanjutkan kembali.
Saya yang paling sering melambaikan tangan, tanda menyerah, dan meminta istirahat. Beberapa kali harus berteriak untuk berkata "help, .... help". Agar guide dan pa Dian tak meninggalkan saya.
Dalam perjalanan ini, sempat bertemu dengan beberapa orang yang sedang menebang pohon. Juga seorang kuli angkut buah durian, yang terlihat santai memikul beban berat buah durian di kiri kanannya. Karena terbiasa, berbeda dengan saya yang jarang meniti di jalan terjal seperti ini.
Lelah sekali, karena harus terus menanjak. Dan akhirnya, sampai ke tujuan. Rumah tradisional masyarakat Baduy yang tinggal dipuncak gunung Menir. Rumah panggung, berdindingkan bilik bambu. Ukurannya tidak besar, hanya 5 x 6 meter saja. Ada 3 rumah disana, dihuni tiga kepala keluarga. Ketiganya masih ada kaitan keluarga.
Ketiga keluarga ini tinggal menjauh dari masyarakat Baduy yang ada di dekat Kampung Ciboleger. Tak tau alasannya mengapa, pastinya berdiammnya mereka di Gunung Menir ini, untuk berpenghasilan. Mereka bekerja merawat kebun dan berladang. Ketika musim buah tiba, mereka menjadi kuli angkut hasil panen buah dari dalam hutan.
Yang unik dari kehidupan 3 keluarga ini adalah kesedrhanaan. Mereka tinggal jauh didalam hutan. Tanpa penerangan, hiburan, dan peralatan elektronik. Makan seadanya, hanya nasi putih, sayuran dari yang ditanam di sekitar rumah. Atau sayuran yang disediakan alam. Ikan asin atau garam, dirasa cukup sebagai lauknya. Mereka tau gemerlapnya hidup diluar sana, tetapi mereka tak pernah tertarik mendapatkannya.
Melihat kesederhanaan mereka, hingga hati ini merenung. Apa yang hendak dicari dalam hidup ini?. Banyak keinginan yang bisa diraih, banyak fasilitas yang bisa didapat, tetapi, jiwa ini tak kunjung bahagia dan merasa cukup. Masih saja merasa kurang, dan selalu ingin terus mengejarnya hingga merasa cukup. Meski tak pernah sampai pada titik cukup.
Mereka nampak bahahagia, dengan kesederhanaan hidup. Bandingkan dengan penghuni Suka Miskin. Mereka dari keluarga terpandang, jabatan tinggi, fasilitas yang dimilikinya lengkap dan mewah. Tetapi, hal itu tak membuat mereka cukup dan bahagia. Terus mengejar angan, hingga mereka jadi penghuni tempat yang hina ini, Lembaga Pemasyarakatan Suka Miskin.
Bahagia memang bukan untuk orang berada. Apalagi, bagi orang yang tak punya. Bahagia hanya untuk orang yang pandai bersyukur, atas apa yang ia terima.
Memilih mendaki gunung yang tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar. Gunung Menir namanya, lumayan tinggi, tanjakannya juga ekstrim. Sangat menguras tenaga. Kami mendaki bertiga, saya, pa Dian, dan guide penduduk lokal, pa Rusdiman.
Jam 08.30 Wib. Pendakian dimulai, sebelum berangkat menyiapkan air minum sebagai perbekalan. Dalam perjalanan, sejenak mampir ke warung sisi jalan, sekedar membeli beberapa jenis makanan. Wafer Tanggo, sukro, roti dan minuman berenergi. Dirasa cukup, perjalananpun dilanjutkan. Menyusuri jalan setapak, hingga diperbatasan kampung di kaki gunung. Jalan mulai menanjak, pepohonan nampak rapat dikiri dan kanan jalan.
Jalan mulai terasa terjal, lelah mulai datang. Berhenti sejenak, untuk menarik nafas lebih. Dibawah pohon duku yang biasa digunakan pemuda sekitar gunung untuk berburu sinyal. Tempatnya diketinggian, hingga sinyal internet mudah didapat di dekat pohon duku ini. Ketika lelah telah berkurang, pendakian dilanjutkan. Pepohonan semakin lebat, sinar matahari tak bisa menembus dedaunan yang berlapis-lapis. Hingga suhu lebih sejuk karenanya.
Sinar matahari yang tak tembus ke permukaan tanah, menyebabkan semak dan rumput tak tumbuh subur di bawah pepohonan. Hingga langkahpun tak terhalang oleh semak dan rumput liar. Hanya batu yang terhampar, meski kadang jalan batu yang tak tertata, hingga kaki tersandung, dan terasa sakit.
Lebih satu jam perjalanan, lokasi yang dituju belum juga nampak. Guide pa Rusdiman, hanya mengatakan "sebentar lagi, kita akan sampai." Langkah tak menyerah terus dilakukan. Meski kadang berhenti, istirahat, tak lama melanjutkan kembali.
Saya yang paling sering melambaikan tangan, tanda menyerah, dan meminta istirahat. Beberapa kali harus berteriak untuk berkata "help, .... help". Agar guide dan pa Dian tak meninggalkan saya.
Dalam perjalanan ini, sempat bertemu dengan beberapa orang yang sedang menebang pohon. Juga seorang kuli angkut buah durian, yang terlihat santai memikul beban berat buah durian di kiri kanannya. Karena terbiasa, berbeda dengan saya yang jarang meniti di jalan terjal seperti ini.
Lelah sekali, karena harus terus menanjak. Dan akhirnya, sampai ke tujuan. Rumah tradisional masyarakat Baduy yang tinggal dipuncak gunung Menir. Rumah panggung, berdindingkan bilik bambu. Ukurannya tidak besar, hanya 5 x 6 meter saja. Ada 3 rumah disana, dihuni tiga kepala keluarga. Ketiganya masih ada kaitan keluarga.
Ketiga keluarga ini tinggal menjauh dari masyarakat Baduy yang ada di dekat Kampung Ciboleger. Tak tau alasannya mengapa, pastinya berdiammnya mereka di Gunung Menir ini, untuk berpenghasilan. Mereka bekerja merawat kebun dan berladang. Ketika musim buah tiba, mereka menjadi kuli angkut hasil panen buah dari dalam hutan.
Yang unik dari kehidupan 3 keluarga ini adalah kesedrhanaan. Mereka tinggal jauh didalam hutan. Tanpa penerangan, hiburan, dan peralatan elektronik. Makan seadanya, hanya nasi putih, sayuran dari yang ditanam di sekitar rumah. Atau sayuran yang disediakan alam. Ikan asin atau garam, dirasa cukup sebagai lauknya. Mereka tau gemerlapnya hidup diluar sana, tetapi mereka tak pernah tertarik mendapatkannya.
Melihat kesederhanaan mereka, hingga hati ini merenung. Apa yang hendak dicari dalam hidup ini?. Banyak keinginan yang bisa diraih, banyak fasilitas yang bisa didapat, tetapi, jiwa ini tak kunjung bahagia dan merasa cukup. Masih saja merasa kurang, dan selalu ingin terus mengejarnya hingga merasa cukup. Meski tak pernah sampai pada titik cukup.
Mereka nampak bahahagia, dengan kesederhanaan hidup. Bandingkan dengan penghuni Suka Miskin. Mereka dari keluarga terpandang, jabatan tinggi, fasilitas yang dimilikinya lengkap dan mewah. Tetapi, hal itu tak membuat mereka cukup dan bahagia. Terus mengejar angan, hingga mereka jadi penghuni tempat yang hina ini, Lembaga Pemasyarakatan Suka Miskin.
Bahagia memang bukan untuk orang berada. Apalagi, bagi orang yang tak punya. Bahagia hanya untuk orang yang pandai bersyukur, atas apa yang ia terima.
Keren 😻💪🏻
BalasHapus