Sebelas

Sebelas

Selepas kepergian bapak Didik Kuswinarto ke tempat dinas yang baru. Kami dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang kharismatik. Beliau Sunda asli kelahiran Banjaran Kabupaten Bandung, namanya Roni Nugraha. Sejak usia muda sudah menginjakan kaki ditanah Banten. Tepatnya sejak tahun 1982.

Kala itu usianya baru 20 tahun, tugas pertamanya sebagai guru di SMPN 1 Sajira. Meski  Sajira adalah kota kecamatan, tetapi kala listrik saja sebagai kebutuhan pokok belum ada. Semak belukar masih sangat rimbun. Hingga ular berbisapun masih sering dijumpai. Beberapa kali rumah yang ia tinggali dimasuki ular berbisa, yang dapat mematikan, meski hanya sekali gigitan.

Beberpa kesempatan, ia bercerita tentang kondisinya saat itu. Gaji pegawai negeri saat itu sangat kecil. Untuk merokok saja tidak cukup, apalagi ditambah dengan memenuhi kebutuhan lain. Puntung rokok sisa pun akan dicari jika sudah tak ada lagi uang untuk membeli rokok disakunya.

Kami dipimpin beliau cukup lama, sejak 2010 sampai dengan 2017. Kadang merasa bosan dengan gaya kepemimpinananya. Terlebih ketika awal ia bertugas memimpin kami di sekolah. Sikap disiplin, loyalitas tergadap atasan harus benar-benar dilakukan. Selama 7 tahun kami merasa dipelonco. Bicara dan bersikap  harus sesuai dengan tupoksi. Tak bisa diluar itu. Saya pribadi sering merasa bosan dengan gaya kepemimpinanannya, maka dalam shalat sering meminta kepada sang Maha Pengasih untuk memindahkan beliau ketempat yang lebih dekat dari tempat tinggalnya, bukan disekolah yang saat ini kami bertugas.

Salah satu sifat yang dimiliki beliau, adalah mudah teringgung. Sekolah kami yang kecil dan berada dipeloksok, sering kali jadi bahan bullyan oleh kepala sekolah lain. Jika dalam posisi itu, pa Roni Nugraha tak akan tinggal diam. Jari telunjuknya pasti cepat mengarah kepada siapa saja yang berani melakukan itu, tanpa pandang bulu. Hingga tak ada lagi yang berani memandang sebelah mata, meski kami hanya sekolah kecil.

Dari sana, bukan hanya bapak kepala sekolah, yang tenar. Kami merasakan sama, guru-guru SMPN 3 Sobangpun menjadi lebih terkenal, dari sekolah lain. Terlebih, dalam forum kepala sekolah, beliau sering mengungkapkan kekaguman kepada kami anak buahnya. Kami disebut sebagai guru-guru cerdas yang hebat. Sehingga semakin terkenalah kami sebagai anak buahnya.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, tugas bersama selama itu hingga kami saling mempengaruhi. Alamiah, manusia akan terpengaruh dengan apa saja yang dilihat, dan dirasakan. Gaya kepemimpinannya sangat mungkin saya adopsi jika kelak saya ditakdirkan duduk diposisi seperti beliau kala itu.

Suatu ketika usai proses pembelajaran disekolah, ba'da zuhur. Waktunya makan siang, saya dan 2 teman hendak mencari bahan mkanan diwarung, untuk dimasak. Sebelum berangkat ke warung, ada sedikit perbincangan, karena kami ber 3, tak ada yang punya cukup uang untuk belanja. Sedikit gaduh, pak kepala mendengar tema pembicaraan itu. Tak lama ia pamit untuk pulang. Sepertinya ia tak nyaman dengan tema pembicaraan kami, hingga memutuskan untuk segera pergi.

Beberapa kali beliau menampakan kemarahan kepada saya. Karena ketidak sigapan saya atas tugas yang beliau berikan. Beliau juga pernah terdengar agak tinggi nada ucapanya, ketika dua teman guru yang diamanahi tugas, salah dalam membuat program kegiatan ujian semester. Sang teman merasa kecewa berat, atas ucapan yang dianggap kurang pas itu. Yah, ia mengakui kesalahan, karena ketidaktahuan. Tetapi ia merasa respon kesalahanya dianggap berlebihan.

Beberpa teman, menganggap saya dan pak Roni Nugraha lebih dekat dibanding teman guru lainnya. Saya tak merasakan itu. Saya menganggap perlakuannya terhadap kami sama. Tak ada bedanya. Mungkin karena beliau pernah beberapa kali datang ke kediaman saya, meski sangat jauh. Kedatangan beliau ke rumah saya, adalah kunjungan biasa saja. Waktu pertama berkunjung, ketika kelahiran putri kedua saya. Kunjungan selanjutnya, ketika ada keperluan untuk mendaftarkan Dika, anak ke dua beliau ke Sekolah Sandi Negara.

Beliau penghobi ikan koi, beberpa teman saya juga adalah peternak, dan penjual ikan jenis itu. Dari sana, kami sering mengangkat tema itu dalam beberapa kesempatan perbincangan, sehingga kami terlihat sangat dekat.

Atau kemungkinan lain, saya itu orangnya lucu, candaanya berkelas, seperti Cah Lontong. Bisa jadi itu yang membuat kami begitu dekat. Selain itu, saya itu penurut, karena merasa banyak kekurangan dan kelemahan dalam menjalankan tugas. Sehingga dianggap bawahan yang loyal, yang bisa jadi, itu membuat kami terlihat begitu dekat.

Beliau termasuk atasan yang cerewt, terlebih jika tugas yang diberikan, belum usai dikerjakan. Harus terdepan atas tugas yang diberikan menjadi perinsipnya. Hal semacam itu, yang kami dapatkan dari beliau. Kita yang melaksanakan, kadang harus banting tulang untuk menyelesaikannya.

Akhirnya, ditahun 2017 ia dipindah tugaskan. Bukan hanya kami para guru yang sudah jenuh dengan gaya kepemimpinan beliau, tetapi sepertinya, beliau pun jenuh bersama kami dengan waktu sepanjang itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Ku

sepuluh

Menunggu Rasa Ngantuk Datang