Sembilan
Sembilan
Kebersamaan kami semakin kompak saja. Pa kepala sekolah, nampak senang, melihat itu. Semua ini karena kepemimpinan beliau yang baik, beliau sangat perhatian kepada anak buahnya. Bukan hanya masalah pekerjaan, dia juga perhatian dengan masalah pribadi anak buahnya. Ya, karena masalah pribadi akan berimbas pada kinerja. Hingga meaki pribadi, bisa jadi akan berpengaruh dengan pekerjaan.
Pa Didik Kuswinarto, pria kelahiran Madiun. Anak seorang tentara, tubuhnya tinggi, sepertinya ia paling tinggi diantara seluruh personil yang ada disekolah kami. Beliau sangat cerdas, terlihat dari tiap keputusan yang diambil. Selain bertugas sebagai kepala sekolah, beliau juga sebagai guru yang diikutkan kan dalam kegiatan USAID. program kerjasama dibidang paendidikan antara Indonesia dan beberapa negara.
Kegemaran bapak kepala sekolah adalah olahraga. Cabang bulutangkis adalah yang ia pilih sebagai olahraga rutin tiap 3 hari.
Meski secara ketahanan fisik ok, tetapi kemampuan beliau mengendarai sepeda motor belum seterampil kami bawahannya. Setiap ke sekolah, ia menitipkan kendaraan roda duanya di kampung Leuwico'o, kampung terakhir yang beraspal. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 6 KM ke sekolah. Dari sana, ia diantar ojek, jika ojek langganannya tak ada ia pun berjalan kaki.
Ketika cuaca bagus, ia dapat mengendarai sepeda motornya hingga kampung Cangkeuteuk. Menuju kampung cangkeuteuk, jalan sudah berbatu, meski lumayan sulit, tetapi masih bisa dilalui oleh bapak kepala.
Kebersamaan kami hanya 1 tahun empat bulan saja. Beliau harus pindah tugas ke sekolah lain. Meski tak lama, banyak peristiwa yang hingga kini masih membekas dibenak saya. Masih ingat ketika ia datang ke sekolah dengan berjalan kaki. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Terlihat lelah sekali, tanggung jawabnya yang besar, membuat ia datang untuk mengawasi kami para guru yang menjadi tanggung jawabnya.
Suatu jetika dimusim hujan, iapun menuju ke sekolah. Seperti biasa, motor dititipkan, pak kepala sekolah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Semalam hujan sangat lebat, dan longsor besarpun terjadi. Jalan tak bisa dilewati karena tertimbun longsoran tanah. Beliau memaksakan melewati longsoran tanah dengan sekuat tenaga. Lumpur setinggi betis dilewayinya. Beberapa titik, ia harus merangkak, menaiki longsoran tanah yang basah dan berlumpur. Baju dan celana kotor trkena tanah basah dan lumpur longsoran. Ia terus memaksakan, dan akhirnya sampai juga disekolah.
Sampai disekolah, ia terlihat lusuh, baju dan celananya kotor sekali. Sepatu bot setinggi lututnya dipenuhi tanah hingga bagian dalam, karena harus melewati lumpur yang tinggi. Tak tega melihatnya, orang secerdas itu, harus bertugas ditempat sepert ini. Harusnya ia bertugas ditempat yang aksesnya mudah, dengan fasilitas lengkap.
Suatu haru diakhir pekan, hp monophonik saya berdering. Dilayar terbaca nama Didik Kuswinarto. Saya angkat, dan kami berbincang panjang. Ia memang sering menelpon kami para guru untuk menyampaikan banyak informasi. Setelah beberapa lama pembicaraan berlangsung, perbincangan mulai tersendat, sepertinya ada yang hendak disampaikan. Di ujung telpon, ia seperti menarik nafas panjang.
"Pak Dadang, saya dipindah tugas, besok pelantikannya, mohon maaf, jika selama ini ada sikap dan prilaku saya kurang berkenan." Itu kalimat yang disampaikan, sebelum ia mengakhiri perbincangan disore itu.
Meski kebersamaan kami tak lama, tetapi banyak peristiwa berkesan yang dilalui bersama. Baru kemarin rasanya saya disambut kala pertama menginjakan kaki disekolah ini, dikenalkan kepada masyarakat yang bertemu dijalan ketiak pulang dari sekolah. Kami bersama makan mie rebus di warung teh Piyah. Mie rebus + telur + nasi, harga yang harus dibayar hanya mie telur saja. Sedangkan nasi cuma-cuma, meski porsi nasi yang disantap lebih banyak dari mie telor yang harus dibayar.
Perpisahan ketika sedang butuh bimbingan.
Kebersamaan kami semakin kompak saja. Pa kepala sekolah, nampak senang, melihat itu. Semua ini karena kepemimpinan beliau yang baik, beliau sangat perhatian kepada anak buahnya. Bukan hanya masalah pekerjaan, dia juga perhatian dengan masalah pribadi anak buahnya. Ya, karena masalah pribadi akan berimbas pada kinerja. Hingga meaki pribadi, bisa jadi akan berpengaruh dengan pekerjaan.
Pa Didik Kuswinarto, pria kelahiran Madiun. Anak seorang tentara, tubuhnya tinggi, sepertinya ia paling tinggi diantara seluruh personil yang ada disekolah kami. Beliau sangat cerdas, terlihat dari tiap keputusan yang diambil. Selain bertugas sebagai kepala sekolah, beliau juga sebagai guru yang diikutkan kan dalam kegiatan USAID. program kerjasama dibidang paendidikan antara Indonesia dan beberapa negara.
Kegemaran bapak kepala sekolah adalah olahraga. Cabang bulutangkis adalah yang ia pilih sebagai olahraga rutin tiap 3 hari.
Meski secara ketahanan fisik ok, tetapi kemampuan beliau mengendarai sepeda motor belum seterampil kami bawahannya. Setiap ke sekolah, ia menitipkan kendaraan roda duanya di kampung Leuwico'o, kampung terakhir yang beraspal. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 6 KM ke sekolah. Dari sana, ia diantar ojek, jika ojek langganannya tak ada ia pun berjalan kaki.
Ketika cuaca bagus, ia dapat mengendarai sepeda motornya hingga kampung Cangkeuteuk. Menuju kampung cangkeuteuk, jalan sudah berbatu, meski lumayan sulit, tetapi masih bisa dilalui oleh bapak kepala.
Kebersamaan kami hanya 1 tahun empat bulan saja. Beliau harus pindah tugas ke sekolah lain. Meski tak lama, banyak peristiwa yang hingga kini masih membekas dibenak saya. Masih ingat ketika ia datang ke sekolah dengan berjalan kaki. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Terlihat lelah sekali, tanggung jawabnya yang besar, membuat ia datang untuk mengawasi kami para guru yang menjadi tanggung jawabnya.
Suatu jetika dimusim hujan, iapun menuju ke sekolah. Seperti biasa, motor dititipkan, pak kepala sekolah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Semalam hujan sangat lebat, dan longsor besarpun terjadi. Jalan tak bisa dilewati karena tertimbun longsoran tanah. Beliau memaksakan melewati longsoran tanah dengan sekuat tenaga. Lumpur setinggi betis dilewayinya. Beberapa titik, ia harus merangkak, menaiki longsoran tanah yang basah dan berlumpur. Baju dan celana kotor trkena tanah basah dan lumpur longsoran. Ia terus memaksakan, dan akhirnya sampai juga disekolah.
Sampai disekolah, ia terlihat lusuh, baju dan celananya kotor sekali. Sepatu bot setinggi lututnya dipenuhi tanah hingga bagian dalam, karena harus melewati lumpur yang tinggi. Tak tega melihatnya, orang secerdas itu, harus bertugas ditempat sepert ini. Harusnya ia bertugas ditempat yang aksesnya mudah, dengan fasilitas lengkap.
Suatu haru diakhir pekan, hp monophonik saya berdering. Dilayar terbaca nama Didik Kuswinarto. Saya angkat, dan kami berbincang panjang. Ia memang sering menelpon kami para guru untuk menyampaikan banyak informasi. Setelah beberapa lama pembicaraan berlangsung, perbincangan mulai tersendat, sepertinya ada yang hendak disampaikan. Di ujung telpon, ia seperti menarik nafas panjang.
"Pak Dadang, saya dipindah tugas, besok pelantikannya, mohon maaf, jika selama ini ada sikap dan prilaku saya kurang berkenan." Itu kalimat yang disampaikan, sebelum ia mengakhiri perbincangan disore itu.
Meski kebersamaan kami tak lama, tetapi banyak peristiwa berkesan yang dilalui bersama. Baru kemarin rasanya saya disambut kala pertama menginjakan kaki disekolah ini, dikenalkan kepada masyarakat yang bertemu dijalan ketiak pulang dari sekolah. Kami bersama makan mie rebus di warung teh Piyah. Mie rebus + telur + nasi, harga yang harus dibayar hanya mie telur saja. Sedangkan nasi cuma-cuma, meski porsi nasi yang disantap lebih banyak dari mie telor yang harus dibayar.
Perpisahan ketika sedang butuh bimbingan.
Komentar
Posting Komentar