Sikap Benar dan Bijak

Suatu ketika, saya menonton channel youtube Karni Ilyas. Dichannel itu, ada acara perdebatan seru, antara Habib Husin dan Babeh Haikal Hasan. Keduanya berdebat tentang kata "membohongi"

Latar belakang tema perdebatan mereka adalah pernyataan Habib Riziq Shihab, pasca test swabnya di Rumah Sakit Ummi, kota Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kala itu, HRS menyatakan bahwa dirinya sehat, dan baik-baik saja. Menurut Habib Husin, pernyataan HRS adalah pembohongan, dan membuat gaduh. Karena, sebetulnya HRS tidak dalam kondisi sehat. Terbukti beberapa hari dari pernyataan HRS, keluar hasil tes yang menyatakan beliau positif terpapar cobid 19.

Haikal Hasan, menyangkal hal itu. Katanya Habib tak berbohong. Habib menyatakan sehat dan baik-baik saja, pada saat hasil test nya belum keluar. Ia juga merasa baik-baik saja, tak merasakan  ada gejala apapun pada tubuhnya. Lain cerita jika pernyataan itu, disampaiakn setelah keluar hasil test swab.

Saya mencoba membandingkan antara sikap Habib Husin, dan Babeh Haikal. Kedua orang yang merasa benar dengan pendapat masing-masing. Dari kedua pendapat yang ada, hakekatnya ada satu yang benar. Tak mungkin kebenaran ada dua dari satu masalah yang sama.

Sikap merasa benar, sering ada pada diri siapapun, mungkin juga kita. Sebagai ummat yang beriman, merasa benar bisa jadi masalah. Terlebih, rasa benar itu diiringi dengan menyalahkan orang lain. Merasa benar, dan menyalahkan orang lain akan merusak nilai taqwa yang ada pada diri kita.

Kisah nabi Muhammad yang berdakwah di Thaif, menjadi pelajaran bagi kita semua. Nabi melakukan hal benar, yaitu, berdakwah di kota itu. Tetapi penduduk kota, menganggap yang dilakukan Rosulullah, tidak benar. Higga orang-orang disana, melempari Baginda Nabi dengan batu. Tak ayal, baginda nabipun luka, hingga berdarah-darah.

Melihat apa yang dilakukan orang-orang terhadap nabi, Malaikat Jibril akhirnya menawarkan diri untuk menimpakan gunung besar ke kota Thaif. Dengan halus nabi menolak tawaran itu. Nabi menilai, penduduk kota belum tau atas kebenaran yang dibawanya.

Penduduk Thaif, menilai nabi membawa ajaran yang salah, hingga melemparinya dengan batu. Nabi meyakini, apa yang diajarkan merupakan wahyu dari Allah. Ada perbedaan yang jauh antara keduanya. Keduanya punya pandangan yang berbeda. Sebagai ummat Nabi Muhammad, kita pasti meyakini apa yang dibawanya adalah sebuah kebenaran. Tetapi disisi lain, ada pendapat lain dari penduduk Thaif.

Peristiwa yang dialami, adalah pelajaran berharga untuk kita umatnya. Bagaimana jika kita mendapat hal serupa dikehidupan ini. Merasa melakukan hal benar, tetapi ada respon kurang menyenangkan, dari orang-orang disekitar kita, bagaimana kita sikap?.

Nabi yang Masum, dilindungi dari kesalahan, memberikan contoh sikap yang bijak. Apakah kita yang hanya merasa benar, bisa mencontohnya?

Semoga kita semua dijaukan dari sikap-sikap merasa paling benar, dan dapat bersikap bijak.
Wallahu a'lam. 

Komentar

  1. Memilih benar dan salah harus melihat kesekeliling terlebih dahulu sebelum kita memutuskan. Sekali berbohongvakan menimbul kebohonga2an selanjutnya

    BalasHapus
  2. Benar sekali. Bagusnya kita selalu rendah hati apalagi dalam menerima kebaikan dan kebenaran.

    BalasHapus
  3. Ketika sudah dirasuki perasaan paling benar berarti sudah tidak benar itu.

    BalasHapus
  4. Sudah merasa paling benar saja itu tidak benar :)

    BalasHapus
  5. Setuju sekali. Aamiin untuk doa terbaik bagi kita semua.

    BalasHapus
  6. Aamiin. Kebenaran hanya milik Allah. Kebenaran kita hanya saat memjawab soal ulangan. He ... he ...

    BalasHapus
  7. Mudah-mudahan negeri kita semakin membaik. aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita