tujuh
Tujuh
Delapan orang yang baru ditugaskan di pedalaman, disebuah SMP Satu Atap. Sekolah akses yang dibangun untuk memberikan hak memperoleh pengajaran bagi anak bangsa yang tinggal didaerah terpencil. Sekolah SMP yang dibangun berdampingan dengan gedung SD, memudahkan bagi lulusan SD untuk melanjutkan ke Jenjang lanjutan.
Sebelum kami datang di SMP ini, hanya ada satu orang guru PNS, Sisanya guru honorer. Selain warga sekitar, beberapa guru honorer berasal dari luar kecamatan. Mereka mengabdi dengan gaji yang sangat kecil. Meski demikian, mereka tetap semangat datang kesekolah untuk mengajar. Harapan suatu saat diangkat menjadi PNS adalah alasan mengapa mereka terus bertahan dengan bayaran yang minim.
Kedatangan kami berdelapan, memupuskan harapan mereka. Kehadiran kami mengharuskan mereka hengkang sari sekolah yang sebelumnya menjadi harapan masa depan para tenaga honorer itu. Hati kecil ini merasa bersalah, karena telah memupuskan harapan mereka. Tak tega melihat raut wajah mereka yang nampak bersedih. Diantara mereka ada yang hendak menikah, mungkin calon mempelai wanita menerima lamaran itu, karena sang arjunanya, sudah bekerja, meski hanya sebagai guru honorer.
Senyum dan ucapan selamat datang ketika pertama menginjakan kaki disekolah ini, ternyata awal dari pupusnya harapan mereka menjadi abdi negara. Satu-persatu, mereka berpamitan, mengucapkan selamat kepada kami. Sebagian mengajar disekolah lain, lainnya kembali kerumah, sambil menunggu pekerjaan lain yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sambil menunggu pekerjaan baru, diantara mereka memilih menjadi pengangkut balok kayu dari dalam hutan.
Saya hanya termenung menyaksikan semua itu, coba membayangkan, jika saya ada diposisi mereka. Harus kehilangan harapan. Jika saja sekolah ini punya banyak siswa, pasti mereka tetap mengajar disekolah ini. Jumlah siswa disekolah ini, hanya 97 siswa, tiap kelas dihuni sekitar 30 siswa an. Kondisi ini tak mungkin mempertahankan mereka tetap mengajar di sekolah ini.
Delapan orang yang baru ditugaskan di pedalaman, disebuah SMP Satu Atap. Sekolah akses yang dibangun untuk memberikan hak memperoleh pengajaran bagi anak bangsa yang tinggal didaerah terpencil. Sekolah SMP yang dibangun berdampingan dengan gedung SD, memudahkan bagi lulusan SD untuk melanjutkan ke Jenjang lanjutan.
Sebelum kami datang di SMP ini, hanya ada satu orang guru PNS, Sisanya guru honorer. Selain warga sekitar, beberapa guru honorer berasal dari luar kecamatan. Mereka mengabdi dengan gaji yang sangat kecil. Meski demikian, mereka tetap semangat datang kesekolah untuk mengajar. Harapan suatu saat diangkat menjadi PNS adalah alasan mengapa mereka terus bertahan dengan bayaran yang minim.
Kedatangan kami berdelapan, memupuskan harapan mereka. Kehadiran kami mengharuskan mereka hengkang sari sekolah yang sebelumnya menjadi harapan masa depan para tenaga honorer itu. Hati kecil ini merasa bersalah, karena telah memupuskan harapan mereka. Tak tega melihat raut wajah mereka yang nampak bersedih. Diantara mereka ada yang hendak menikah, mungkin calon mempelai wanita menerima lamaran itu, karena sang arjunanya, sudah bekerja, meski hanya sebagai guru honorer.
Senyum dan ucapan selamat datang ketika pertama menginjakan kaki disekolah ini, ternyata awal dari pupusnya harapan mereka menjadi abdi negara. Satu-persatu, mereka berpamitan, mengucapkan selamat kepada kami. Sebagian mengajar disekolah lain, lainnya kembali kerumah, sambil menunggu pekerjaan lain yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Sambil menunggu pekerjaan baru, diantara mereka memilih menjadi pengangkut balok kayu dari dalam hutan.
Saya hanya termenung menyaksikan semua itu, coba membayangkan, jika saya ada diposisi mereka. Harus kehilangan harapan. Jika saja sekolah ini punya banyak siswa, pasti mereka tetap mengajar disekolah ini. Jumlah siswa disekolah ini, hanya 97 siswa, tiap kelas dihuni sekitar 30 siswa an. Kondisi ini tak mungkin mempertahankan mereka tetap mengajar di sekolah ini.
Komentar
Posting Komentar