Yo, Berlibur

Membersihkankan sekitar rumah, adalah salah satu cara mengisi liburan kali ini. Kegiatan ini memang tak menyenangkan. Tetapi, setelah selesai berkegiatan, barulah ada rasa senang. Sayapun bisa tersenyum lega. Rumah terlihat nyaman, dan indah. 

Berbeda ketika kita berlibur ke tempat wisata. Kala merencanakannya kita sudah tersenyum bahagia. Diperjalanan menuju lokasi wisata, kita begitu menikmati, senang sekali melihat kiri kanan jalan yang indah. Sampai dilokasi,  rasa senang itu semakin menjadi. Antri membeli tiket masuk yang panjang, terasa biasa saja. Setelah masuk dan melewati gerbang pemeriksaan tiket, langsung berburu spot yang paling bagus. Senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah wisatawan.

Ditempat wisata yang bagus, kita akan betah berlama-lama. Kita akan menikmati sarana yang ada, meski harus kembali merogoh kocek. Jika sudah seperti ini, anggaran yang sudah dipatok, akan membengkak. 

"Tak mengapa, kita mengambil dari pos anggaran lain". Ini keputusan yang sering diambil, power of kepepet, ketika anggaran berwisata tak mencukupi. Pokoknya, senang. Keputusan sesaat, tanpa difikir panjang.

Keluar dari tempat wisata, mulai ada tanda-tanda tak nyaman. Diawali dari rasa lelelah yang mulai datang. Ketika berangakat, macet tak masalah. Tetapi ketika pulang, macet jadi masalah. Mulai dari menggerutu, kadang ada kata sumpah serapah. 

Mengucapkan kata " petugas ga becus ngatur jalan"
"Tarif Toll, ko mahal banget". 
"Agak ngebut dong yah, kapan sampai kerumah, jika lambat seperti ini" 
Banyak kalimat lain yang diucapkan, padahal, ketika berangkat tadi, kejadian-kejadian itu bukan masalah. 

Sampai dirumah, semua rungsing. Pakaian kotor menumpuk, cape ngantuk, lapar, terlebih, uang untuk pos lain juga terpakai, hingga jadi beban pikiran. 

Jika tak dirancang dengan baik, berwisata, akan menyenangkan diawal, tetapi  bermasalah di akhir. Wisata satu hari, lelah dan pusingnya tak hilang dalam satu pekan. 

Saya sudah berlibur pekan lalu, ke Garut dan Bandung. Tujuan utamanya bukan piknik, tetapi jemput putri pertama saya, yang belajar di pondok pesantren. Sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Kami sekeluarga berangkat sejak pagi, dan kembali hampir tengah malam. Lelah, dan cape, banyak cucian kotor, macet panjang yang melelahkan, mulai dari Km. 92 di Purwakarta, hingga jelang pintu tol layang di Karawang. Yang gawat itu, anggaran tak mencukupi, hingga harus mengambil dari pos lain.  Meski jalannya pekan lalu, hingga kini pusingnya masih terasa. 

Hingga 2 pekan kedepan, saya masih libur dari pekerjaan, tak ada rencana untuk berwisata. Saya hanya mau bersih-bersih rumah saja. Selain itu, merwat tanaman dan menata halaman. Meski bakal lelah, berkeringat, dan kotor, setidaknya saya akan bisa tersenyum di penghujung libur akhir tahun ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita