Buku Inspiratif
Dulu, awal pertama mengajar di Cigaclung, saya kurang menikmati. Hanya menunaikan tugas, agar tiap awal bulan menerima gaji. Bekerja hanya sekedar mengerjakan apa yang dikehendaki bos. Tak ada kesenangan, dan kegembiraan. Kesenangan saat itu, hanya ada dirumah, ketika berjumpa dengan anak dan istri.
Ketika waktu mengharuskan saya berangkat menuju tempat kerja, malas mulai datang. Saya harus bersusah payah melangkahkan kaki untuk menuju tempat kerja. Ketika sampai, dan harus mengajar, rasa lelah datang, lapar mulai menyerang, dan ngantuk pun mendera. Ketiga serangan itu datang bersamaan dan mendadak, seperti serangan tentara Jepang terhadap markas Tentara Amerika di Pearl Harbor. Memunculkan semangat dan etos kerja yang kuat, sangat sulit sekali.
Rasa itu berlangsung beberapa lama, mungkin dua atau tiga tahun. Saya tak mau rasa itu berlarut. Saya selalu berusaha menikmati suasana bekerja disana, meski sangat sulit. Listrik yang belum tersambung, jadi legitimasi rasa ketidaknyamaan saya. Gelap, tak ada tv, ga ada komputer untuk kerja, juga jadi alasan.
Dalam sebuah kesempatan, saya datang berkunjung kerumah family. Kunjungan biasa, sekedar silaturahmi, untuk mempererat persaudaraan kami. Saat kunjungan itulah saya menemukan sebuah buku di rak dekat bangku tamu. Buku yang menarik caver dan lay outnya.
Setelah membaca beberapa halaman dan dirasa menarik, saya memutuskan untuk meminjamnya. Saya melanjutkan membaca buku itu dirumah. Sambil ditemani secangkir kopi, bukupun saya lumat hingga tak tersisa.
Buku ini berjudul " Lakukan Dengan Hati" ditulis oleh Dedy Dahlan. Buku yang banyak bercerita tentang orang-orang bermasalah dengan kebahagiaan. Orang yang gelisah menghadapi pekerjaan. Buku ini juga memberikan tips agar bisa menikmati pekerjaan setiap hari.
Salah satu kisah di dalam buku ini, tentang seorang penggembala yang kesehariannya hidup bersama domba-dombanya. Sipenggembala begitu mencintai hewan ternaknya. Hampir 24 jam aktifitas hariannya, bersama domba-domba lucunya.
Orang-orang yang melihat keseharian si penggembala merasa risih. Mulai dari makan, minum, tidur, dan bersendaguarau, si penggembala selalu dengan domba-domba kesayangannya. Suatu saat, ia mendengar orang membicarakan kebersamaannya dengan para domba. Semakin hari, semakin sering orang-orang membicarakan kedekatannya dengan domba-dombanya. Awalanya ia tak menghiraukan omongan itu. Lama kelamaan menjadi tak nyaman, dan singkat cerita ia berhenti berprofesi sebagai penggembala. Semua dombanya dijual tak tersisa, kemudian ia menjajal profesi lain.
Selama berprofesi lain, ia selalu terbayang dengan domba-dombanya. Pekerjaan baru yang digeluti, tak memberi kebahagiaan. Hatinya hanya untuk domba, tidak untuk pekerjaan lain. Hingga kemudian, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya
Beberapa kali ia kembali mencoba pekerjaan lain, tetapi selalu gagal. Akhirnya sang penggembala pun memilih jadi pengangguran. Ketika menganggur, bayangan domba-domba semakin jelas terlintas difikirannya. Semakin hari, semakin jelas domba-domba lucu itu berkeliaran didalam imajinasinya, dan akhirnya ia tak kuaaaat.... ia kembali membeli domba-domba dipasar, dan ia kembali menjadi penggembala....
Domba.... man.....
Banyak cerita lain, di buku ini. Point yang didapat dari membaca buku ini, saya bisa lebih mencintai pekerjaan yang dijalani. Pekerjaan yang sudah kita pilih, harus serius dijalani. Jangan banyak melirik profesi lain, yang kita tak ada ilmu atasnya. Hasil itu didapat dari seprofisional apa, kita dalam bekerja.
Dari membaca buku ini, saya bisa lebih menikmati pekerjaan yang digeluti. Enjoy saja, bahkan ketika satu-persatu teman pergi meninggalkan saya, karena terbawa SK baru. Hingga ketika teman seangkatan saya habis terbawa SK, saya masih bisa senyum renyah, dan terlihat biasa saja.
Sungguh dahsyat pengaruh sebuah buku. Boleh jadi dulu Dwipa Nusantara Aidit, tega mengorbankan saudra sebangsanya, karena membaca buku Das Kapital.
Buku Dedy Dahlan sudah lama saya baca, mungkin sudah 8 tahun lalu. Sepertinya pengaruh dari buku itu sudah mulai luntur. Sekarang sudah mulai sering terlintas ingin mutasi. Sudah terasa lelah mendaki gunung. Sekarang, sering masuk angin jika pulang dari mengajar di gunung. Jadi ketika sampai dirumah selalu minta dikerok dengan uang logam.
Ketika waktu mengharuskan saya berangkat menuju tempat kerja, malas mulai datang. Saya harus bersusah payah melangkahkan kaki untuk menuju tempat kerja. Ketika sampai, dan harus mengajar, rasa lelah datang, lapar mulai menyerang, dan ngantuk pun mendera. Ketiga serangan itu datang bersamaan dan mendadak, seperti serangan tentara Jepang terhadap markas Tentara Amerika di Pearl Harbor. Memunculkan semangat dan etos kerja yang kuat, sangat sulit sekali.
Rasa itu berlangsung beberapa lama, mungkin dua atau tiga tahun. Saya tak mau rasa itu berlarut. Saya selalu berusaha menikmati suasana bekerja disana, meski sangat sulit. Listrik yang belum tersambung, jadi legitimasi rasa ketidaknyamaan saya. Gelap, tak ada tv, ga ada komputer untuk kerja, juga jadi alasan.
Dalam sebuah kesempatan, saya datang berkunjung kerumah family. Kunjungan biasa, sekedar silaturahmi, untuk mempererat persaudaraan kami. Saat kunjungan itulah saya menemukan sebuah buku di rak dekat bangku tamu. Buku yang menarik caver dan lay outnya.
Setelah membaca beberapa halaman dan dirasa menarik, saya memutuskan untuk meminjamnya. Saya melanjutkan membaca buku itu dirumah. Sambil ditemani secangkir kopi, bukupun saya lumat hingga tak tersisa.
Buku ini berjudul " Lakukan Dengan Hati" ditulis oleh Dedy Dahlan. Buku yang banyak bercerita tentang orang-orang bermasalah dengan kebahagiaan. Orang yang gelisah menghadapi pekerjaan. Buku ini juga memberikan tips agar bisa menikmati pekerjaan setiap hari.
Salah satu kisah di dalam buku ini, tentang seorang penggembala yang kesehariannya hidup bersama domba-dombanya. Sipenggembala begitu mencintai hewan ternaknya. Hampir 24 jam aktifitas hariannya, bersama domba-domba lucunya.
Orang-orang yang melihat keseharian si penggembala merasa risih. Mulai dari makan, minum, tidur, dan bersendaguarau, si penggembala selalu dengan domba-domba kesayangannya. Suatu saat, ia mendengar orang membicarakan kebersamaannya dengan para domba. Semakin hari, semakin sering orang-orang membicarakan kedekatannya dengan domba-dombanya. Awalanya ia tak menghiraukan omongan itu. Lama kelamaan menjadi tak nyaman, dan singkat cerita ia berhenti berprofesi sebagai penggembala. Semua dombanya dijual tak tersisa, kemudian ia menjajal profesi lain.
Selama berprofesi lain, ia selalu terbayang dengan domba-dombanya. Pekerjaan baru yang digeluti, tak memberi kebahagiaan. Hatinya hanya untuk domba, tidak untuk pekerjaan lain. Hingga kemudian, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya
Beberapa kali ia kembali mencoba pekerjaan lain, tetapi selalu gagal. Akhirnya sang penggembala pun memilih jadi pengangguran. Ketika menganggur, bayangan domba-domba semakin jelas terlintas difikirannya. Semakin hari, semakin jelas domba-domba lucu itu berkeliaran didalam imajinasinya, dan akhirnya ia tak kuaaaat.... ia kembali membeli domba-domba dipasar, dan ia kembali menjadi penggembala....
Domba.... man.....
Banyak cerita lain, di buku ini. Point yang didapat dari membaca buku ini, saya bisa lebih mencintai pekerjaan yang dijalani. Pekerjaan yang sudah kita pilih, harus serius dijalani. Jangan banyak melirik profesi lain, yang kita tak ada ilmu atasnya. Hasil itu didapat dari seprofisional apa, kita dalam bekerja.
Dari membaca buku ini, saya bisa lebih menikmati pekerjaan yang digeluti. Enjoy saja, bahkan ketika satu-persatu teman pergi meninggalkan saya, karena terbawa SK baru. Hingga ketika teman seangkatan saya habis terbawa SK, saya masih bisa senyum renyah, dan terlihat biasa saja.
Sungguh dahsyat pengaruh sebuah buku. Boleh jadi dulu Dwipa Nusantara Aidit, tega mengorbankan saudra sebangsanya, karena membaca buku Das Kapital.
Buku Dedy Dahlan sudah lama saya baca, mungkin sudah 8 tahun lalu. Sepertinya pengaruh dari buku itu sudah mulai luntur. Sekarang sudah mulai sering terlintas ingin mutasi. Sudah terasa lelah mendaki gunung. Sekarang, sering masuk angin jika pulang dari mengajar di gunung. Jadi ketika sampai dirumah selalu minta dikerok dengan uang logam.
ayo berbuat dengan hati agar bertemu dengan hati, hehehe
BalasHapusSiap Om Jay
HapusBelajar ikhlas juga bisa bekerja dengan hati
BalasHapusSemangat..
Hapus