Cukup Hanya Haris
Sudah belasan tahun berada disini. Perjalanan panjang ini, tak tahu kapan akan usai. Bukan bertahan, tetapi dipaksa bertahan oleh keadaan. Suka dan duka yang selalu hadir ditengah perjalanan terjal ini, banyak sekali yang terekam, hingga banyak moment jadi pelajaran berharga.
Mengisi kekosongan malam ini, membuka laptop, menyalakan jaringan wifi, dan memilih film menarik. Pilihan jatuh pada film karya MD entertaiment. Film yang viral di jagad maya. Hanya ingin tahu, sebagus apa acting Reza Rahardian. Ia sangat profesional, aktor seribu peran sepertinya pantas disematkan kepada bintang yang satu ini.
Alur cerita, dan acting yang diperankan adalah realitas dalam kehidupan sosial. Kasus tak cukup dengan pasangan yang halal, adalah hal yang sering sekali didengar. Laki-laki, dan perempuan bukan pasangan, terjebak dalam hubungan terlarang yang nista.
Godaan atas jalinan terlarang ini, adalah yang terberat dalam hidup. Sebagian besar orang, terjebak dalam rasa ini. Rasa berjuta, yang dapat memporak porandakan perasaan hati sepanjang sisa hidup.
Berat jika sudah mendera, harus ada keinginan kuat untuk menolak rasa ini. Rasa yang disukai, tetapi tak boleh dipelihara.
Sebagai manusia biasa, sering terlintas rasa itu. Rasa untuk berbagi cerita, ingin mendengar keluh kesah, harapan dan hal lain yang mungkin sangat pribadi. Pekerjaan yang saya jalani, berinteraksi dengan individu lain. Individu yang polos, dengan usia mudanya. Usia remaja, fase yang akan menghantarkan mereka pada kedewasaan. Sering terjebak dengan rasa, rasa manusia normal yang alamiah.
Usia remaja yang hidup dengan sederhana, sementara mimpi dan harapan mereka sangat besar. Mereka butuh orang yang punya kapasitas besar untuk mendengar dan menanggapi masalahnya. Hal itu penyebab intensitas interaksi kami menjadi lebih, bukan hanya saat belajar dikelas, tetapi juga disela istirahat jam pelajaran. Bukan hanya siang hari, malampun sering kami berkunjung untuk memastikan, apakah mereka faham, pelajaran yang kami para guru ajarkan di pagi hari.
Intensitas pertemuan yang menjadi blunder. Masalah rasa hadir, tanpa ada niat sebelumnya. Kedekatan saya secara personal kepada siswa yang tak terelakan. Menumbuhkan rasa rindu kala tak jumpa. Menumbuhkan rasa khawatir kepada mereka, jika tak mampu melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi. Untunglah tak terjebak rasa diluar kendali. Kami masih disadarkan, mampu tetap ada pada posisi sebagai penghantar kesuksesan mereka dimasa depan.
Tak ada yang salah dengan rasa, meski demikian, kami harus bisa menempatkan rasa pada porsinya. Karena rasa itu sensitif, mudah berubah. Secangkir kopi yang pahit, ketika satu sendok gula masuk kedalamnya, seketika akan merubah rasa. Paria yang pahit, ketika dipadukan dengan sambal yang pedas, seketika berubah menjadi nikmat.
Cukuplah Haris yang mengalami itu, saya tidak, meski sering menginginkannya.
Mengisi kekosongan malam ini, membuka laptop, menyalakan jaringan wifi, dan memilih film menarik. Pilihan jatuh pada film karya MD entertaiment. Film yang viral di jagad maya. Hanya ingin tahu, sebagus apa acting Reza Rahardian. Ia sangat profesional, aktor seribu peran sepertinya pantas disematkan kepada bintang yang satu ini.
Alur cerita, dan acting yang diperankan adalah realitas dalam kehidupan sosial. Kasus tak cukup dengan pasangan yang halal, adalah hal yang sering sekali didengar. Laki-laki, dan perempuan bukan pasangan, terjebak dalam hubungan terlarang yang nista.
Godaan atas jalinan terlarang ini, adalah yang terberat dalam hidup. Sebagian besar orang, terjebak dalam rasa ini. Rasa berjuta, yang dapat memporak porandakan perasaan hati sepanjang sisa hidup.
Berat jika sudah mendera, harus ada keinginan kuat untuk menolak rasa ini. Rasa yang disukai, tetapi tak boleh dipelihara.
Sebagai manusia biasa, sering terlintas rasa itu. Rasa untuk berbagi cerita, ingin mendengar keluh kesah, harapan dan hal lain yang mungkin sangat pribadi. Pekerjaan yang saya jalani, berinteraksi dengan individu lain. Individu yang polos, dengan usia mudanya. Usia remaja, fase yang akan menghantarkan mereka pada kedewasaan. Sering terjebak dengan rasa, rasa manusia normal yang alamiah.
Usia remaja yang hidup dengan sederhana, sementara mimpi dan harapan mereka sangat besar. Mereka butuh orang yang punya kapasitas besar untuk mendengar dan menanggapi masalahnya. Hal itu penyebab intensitas interaksi kami menjadi lebih, bukan hanya saat belajar dikelas, tetapi juga disela istirahat jam pelajaran. Bukan hanya siang hari, malampun sering kami berkunjung untuk memastikan, apakah mereka faham, pelajaran yang kami para guru ajarkan di pagi hari.
Intensitas pertemuan yang menjadi blunder. Masalah rasa hadir, tanpa ada niat sebelumnya. Kedekatan saya secara personal kepada siswa yang tak terelakan. Menumbuhkan rasa rindu kala tak jumpa. Menumbuhkan rasa khawatir kepada mereka, jika tak mampu melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi. Untunglah tak terjebak rasa diluar kendali. Kami masih disadarkan, mampu tetap ada pada posisi sebagai penghantar kesuksesan mereka dimasa depan.
Tak ada yang salah dengan rasa, meski demikian, kami harus bisa menempatkan rasa pada porsinya. Karena rasa itu sensitif, mudah berubah. Secangkir kopi yang pahit, ketika satu sendok gula masuk kedalamnya, seketika akan merubah rasa. Paria yang pahit, ketika dipadukan dengan sambal yang pedas, seketika berubah menjadi nikmat.
Cukuplah Haris yang mengalami itu, saya tidak, meski sering menginginkannya.
Aduhai rasa yang tak bisa berbohong. Namun lidah pandai sekali memil8h diksi lain tuk mengatakannya. Biarlah rasa yang berbicara. Hanya dia yang tahu. Yang penting halal. Itu saja.
BalasHapusRasa itu lebih baik jika di tempatkan di akal jangan di hati....
BalasHapusPengalaman pribadi iyeu mah
BalasHapusBisa jadi
Hapus