Harapan hati

Hari ini saya sedang merapihkan beberapa pekerjaan. Tugas yang diberiakan sepekan yang lalu, harus selesai hari ini. Bos sudah berpesan, agar sebelum jam kerja selesai, pekerjaan harus sudah beres, dan sudah ada di atas meja kerjanya.

Karena sibuknya, nyaris satu hari ini tak sempat membuka media sosial. Biasanya tiap pesan WA yang masuk, langsung dibalas. Tetapi tidak untuk hari ini, kesibukan pekerjaan membuat pesan ajakan kumpul oleh teman waktu SMA dulu, tak sempat dibaca. Hingga menuju pulang ke rumah, saya tak membuka smartphon yang biasa menemani keseharian saya.

Sampai di rumah, terasa sangat lelah. Istirahat sambil menghibur diri dengan bersiul dibawah kandang burung yang menggantung di teras rumah. Setelah dirasa lelah hilang, saya langsung menuju kekamar mandi. Kopi panas yang disuguhkan istri tercinta, sudah tercium. Aromanya menebar ke seluruh ruang keluarga rumah sederhana saya. Selesai mandi dan berpakaian tidur, saya menikmati kopi yang disuguhkan istri malam itu.

Sambil berbincang dengan istri, juga si bungsu di kursi yang menghadap tv, saya memilih channel tv. Acara debat di tv jadi pilihan, tetapi ketika iklan tayang, si bungsu memindahkan channel tv ke acara sinetron di Indosiar. Sinetron kurang baik, karena usia sibungsu belum cukup untuk mencerna cerita yang ditayangkan. Menurut saya, sinetron yang tayang kali ini kurang bagus dikonsumsi anak. Saya meminta ia memindahkan ke acara yang lebih soft untuk anak-anak. Handphone belum saya buka, biasanya ada saja pesan dari bos untuk menanyakan kesiapan pekerjaan untuk  esok hari. Saya baru sempat membuka pesan yang masuk jelang tidur. Ketika dibuka, ada puluhan pesan yang masuk. Saya membaca satu-persatu. Tak semua info yang masuk itu penting, beberapa hanya sekedar candaan saja. Sekedar untuk menghibur sesama anggota grup. Meski sekedar candaan, tetapi itu penting, karena dapat mempererat pertemanan yang sudah terjalin.

Saya fokus dengan pesan yang masuk disalah satu grup WA. Pesan yang isinya ajakn kumpul bareng di salah satu taman di Bogor. Acara tak resmi, hanya sekedar ajakan ngopi bareng. Saya membalas pesan dengan emotikon jempol, tanda saya setuju, dan mau ikut acara tersebut. Acara masih dua hari lagi, meski dihari itu berbarengan dengan acara keluarga, tetapi saya berncana untuk tetap hadir. Jarang sekali bisa kumpul, rutinitas pekerjaan, sering jadi penghalang jumpanya kami. Semoga di acara nanti, saya dan banyak teman dapat hadir.

Tibalah pada hari Sabtu yang cerah, hari dimana saya telah berjanji bisa hadir diacara kumpul dengan teman seangkatan kala SMA dulu. Hari ini ada acara resepsi pernikahan keluarga. Saya memilih hadir di pagi hari ketika akad nikah. Agar siang setelah juhur saya bisa hadir diacara kumpul di Taman Cimangir, taman kecil milik pribadi yang dikomersilkan untuk berbagai acara.

Saya sudah berada ditaman itu selepas zuhur bersama seorang teman. Pukul 13.00 saya sampai, sementara acara itu dimulai pada pukul 14.00. Saya datang lebih awal, agar bisa leluasa melepas kangen dengan teman-teman. Dengan harapan saya bisa berbincang dengan teman-teman yang dateng lebih awal. Jika sudah banyak yang datang, perbincangan akan terbatas. Topik perbincanganpun tak akan fokus pada satu tema.

Setelah beberapa lama, satu persatu teman berdatangan. Saya menyalami setiap yang datang. Wajah mereka sudah berubah, jauh sekali dibanding ketika dulu masih SMA. Yang dulu tampan, sekarang terlihat agak menua. Terlebih yang berprofesi sebagai pekerja lapangan. Kulit mereka lebih terlihat terbakar, dan legam. Yang bekerja dikantoran lebih terlihat putih, karena jarang terkena panasnya sinar mentari. Kami duduk melingkar di bangku taman, berbincang dengan serunya. Saling lempar candaan, membuat gelak tawa kami terdengar riuh.

Tepat pukul 14.00. Semua yang berjanji untuk datang di acara ini, sudah hadir, sudah berkumpul. Acara dibuka, seorang teman bernama Herlin yang memulai. Herlin adalah seorang teman yang bekerja di salah satu instansi pemerintah. Ketika sekolah dulu, ia selalu berpenampilan tomboy. Rambut pendek sekali, jadi salah satu style favoritnya. Rok pendek sedikit diatas lutut jadi gaya berpakaian seragam sehari-hari ketika bersekolah dulu. Sekarang tidak lagi, jilbab besar syar'i selalu dikenakan. Tutur katanya teratur, kata yang keluar dari ucapannya tertata rapi. Begitu sopan sekali, selaras dengan gaya pakaian yang sehari-hari dikenakan.

Kumpul diacara kali ini, saya juga jumpa dengan Ica. Dulu ia adalah kekasih sahabat dekat saya, Anung. Dahulu, ketika masa SMA, Ica sangat cantik, meski kulitnya agak gelap. Selain itu, Ica juga cerdas, kemampuannya dalam mata pelajaran eksak, sangat menonjol. Ia juga gadis yang supel, tak membeda-bedakan teman. Semua teman kenal baik dengan Ica.

Karena kecantikannya, banyak teman yang naksir dengan Ica. Tak hanya teman sekelas, dan seangkatan. Kaka kelaspun banyak yang cari perhatian dengan Ica. Modus berpura-pura apa saja, agar bisa menarik perhatian Ica. Menawarkan buku bacaan berupa novel. Atau menawarkan untuk membantu pekerjaan rumah yang diberikan guru killer, bapak Wahyu. Semua tawaran itu ditolak dengan halus. Ia punya banyak buku bacaan, untuk soal pekerjaan rumah, ia mampu dengan baik mengerjakan semua tugas yang diberikan guru disekolahnya. Hal lain yang ia tak mampu kerjakan, ia serahkan kepada Anung kekasihnya. Yang ia butuhkan perhatian, dan itu sudah cukup ia dapatkan dari Anung.

Anung salah satu siswa tampan disekolah itu. Hidung, mata, alis, dan bibir semua proposional. Cambang, dan dada berbulu yang sering ia pertontonkan dengan membuka dua kancing baju bagian atas, membuat ia semakin nampak macho. Gaya berpakaian yang selalu rapi, selain itu sepatu dan jam tangan bermerk, sering ia kenakan. Hingga ia terlihat tampil beda. Orang tuanya yang bekerja sebagai PNS, hingga untuk membeli beberapa barang trendy mampu ia lakukan.

Ica dan Anung, seperti raja dan ratu disekolah itu. Cantik dan tampan, keduanya kompak, terlebih ia berada dalam satu kelas yang sama. Tiga tahun menyaksikan kebersamaan mereka, seperti tak pernah ada konflik dan masalah diantara keduanya.

Bersambung. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita