part 2

Pagi cerah, sinar matahari terasa hangat menyinari bumi. Ica begitu semangat hari ini. Setelah mandi dan berpakaian, ia terus bercermin, memantaskan pakaian putih abunya didepan cermin besar dikamarnya. Sesekali ia berlenggok, memutarkan badannya, dengan pandangan terus mengarah pada cermin itu. Ia menyudahi dandan paginya, setelah yakin penampilannya sudah ok.

Ibu memanggil dari luar kamar, meminta ica segera sarapan. Ibu sudah menyiapkan nasi putih hangat, telur, dan kerupuk. Menu sederhana, yang biasa ia santap dipagi hari. Ica keluar kamar, menghampiri ibu yang memintanya untuk segera sarapan. Ica menarik kursi, kemudian duduk di depan meja makan kayunya . Piring yang ada dihadapannya dibalik, kemudian disi sesendok nasi. Ibu yang duduk disamping menaruhkan telur mata sapi di piring Ica, kemudian kerupuk yang ada di kaleng bekas biskuit, diambil, diremas, lalu ditaburkan oleh ibu diatas nasinya Ica. Kecap meja didekatakan ibu ke jangkauan Ica. Biasanya Ica selalu menuangkan sendiri kecap diatas menu sarapannya. Ica begitu menikmati sarapan pagi ini, menu sarapan pagi yang mungkin ia hidangkan juga untuk keluarganya kelak setelah ia menikah.

Sarapan usai, Ica mohon izin kepada ibu, untuk berangkat ke sekolah. Tangan ibu diraih untuk diciumnya. Ibu berpesan agar Icha hati-hati dijalan. Pesan yang disampaikan kala tengan keduanya saling melepaskan. Ica menuju pintu keluar, ibu mengikuti dibelakang. Ica terus melangkah keluar, ibu berhenti pas didepan pintu. Pandangan ibu tak lepas, melihat dari belakang langkah anak gadisnya. Ica membuka gerbang yang ada di ujung halaman rumahnya, ia keluar dan menoleh kearah ibu yang sedari tadi memperhatikannya. Lambayan tangan Ica, hingga ibupun tersenyum. Ibu membalas lambaian tangan itu, lambaian penuh kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Ica menutup gerbang, ibu kembali berpesan.

"Hati-hati Ica" ucap ibu agak keras.
Ica mengangguk, ia pun mengacungkan jempol kearah ibu tercinta, memastikan bahwa ia akan baik-baik saja. Gerbang ditutup, Ica balik kanan, dan terus melangkah menuju sekolah.

Lima belas menit sebelum bel berbunyi, Ica sudah sampai tepat di gerbang sekolah. Berjalan menuju ruang kelas bersama teman sekelasnya. Riuh terdengar, sepanjang koridor menuju kelas, ada saja candaan yang membuat derai tawa, hingga keras terdengar. Riuh itu membuat yang lain menoleh kearahnya.

Sampai didepan kelas, mereka bergegas masuk, menuju meja masing-masing. Tas yang disoren, diletakan diatas meja. Obrolan yang dimulai sejak bertemu di depan gerbang belum juga usai. Tema biasa, tetapi dibahas panjang. Mungkin sampai besok tema yang satu inipun belum tentu usai.

Teman lain satu persatu datang, dan masuk kedalam kelas. Tak lama bel akan berbunyi, biasanya bel berbunyi setelah semua teman sudah ada dudalam kelas.

Kelas Ica, adalah kelas favorite. Banyak siswa pintar dikelas itu. Siswa dengan nilai yang bagus-bagus, beberapa memperoleh nilai nyaris sempurna. Ica adalah salah satunya, selalu mendapat nilai yang bagus ditiap mata pelajaran yang diujikan oleh bapak dan ibu, guru mata pelajaran. Anung kekasih Ica juga sama, selalu memperoleh nilai bagus dalam tiap ulangan.

Sepasang kekasih yang cerdas, siswa dengan prestasi bagus dikelasnya. Anung yang tampan, juga Ica yang cantik. Ia seperti raja dan ratu disekolahnya. Ketika keduanya sedang berbincang di kantin, pasti semua pasang mata, tertuju padanya. Pokonya, semua siswa akan iri melihatnya.

Awal perjumpaan keduanya, sejak sama-sama menjadi siswa baru di SMA ini. Kala itu masa orientasi siswa baru. Keduanya saling mengenal kala masih mengenakan seragam SMP, di SMA. Biasa, siswa baru di SMA, selalu diminta mengenakan seragam dan atribut sekolah asalanya pada masa orientasi siswa.

Dari masa orientasi berbuah rasa, rasa saling mencinta yang tetap melekat hingga kini. Saling berbagi rindu, saling berbagi rasa, dan saling berbagi masalah. Masa berpacaran adalah miniaturnya dalam rumah tangga. Disana ada cinta, rindu, dan juga ada masalah. Jika dalam berpacaran banyak masalah, maka jangan coba berani melangkah ke jenjang berikutnya. Kemungkinan masalah lebih besar akan didapatkan.

Ica dan Anung sangat serasi, sama-sama pintar, keduanya cantik dan tampan. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita