Sakinah
Pagi ini saya membaca majalah yang baru saja sampai kerumah. Majalah dua mingguan edisi kedua dibulan ini. Seperti biasa, saya membuka, kemudian membaca daftar judul bahasan dalam majalah ini. Halaman demi halaman saya buka. Judul artikel dan nama penulis tak luput saya perhatikan satu persatu di tiap lembarnya.
Ada beberapa rubrik bahasan yang saya suka. Diantara rubrik itu berjudul "Sakinah". Ini adalah rubrik dengan tulisan yang membahas tentang permasalahan kehidupan. Masalah dikirim ke redaksi, kemudian dijawab, dan di publikasikan di majalah itu.
Judul yang diangkat di edisi ini adalah, "Cemburu Pada Ibu Tiri". Kisah seorang ibu muda yang berusia 35 tahun, dengan tiga orang anak. Si ibu muda ini merasa cemburu kepada ibu tirinya.
Berawal dari perceraian kedua orangtuanya. Penyebab perceraian karena bapak merasa sang ibu tak bisa melayani bapak. Diceritakan oleh sang anak, bahwa ia tak pernah melihat ibunya melayani bapak. Untuk urusan kopi, bapak selalu membuatnya sendiri, itu berlangsung sepanjang pernikahan bapak dengan ibunya. Begitupun dengan hal lain, sehingga selama menikah dengan ibu, bapak terlihat mandiri. Bapak melakukan banyak hal tanpa bantuan ibu.
Selain itu, hubungan ibu juga tak harmonis dengaan nenek dari bapak. Sering ada masalah yang membuat ketidak nyamanan bapak. Dua masalah itulah yang melatar belakangi perceraian keduanya.
Lama merasakan itu, bapak memutuskan bercerai. Tak kuat, setelah puluhan tahun hidup dalam ikatan pernikahan bersama dengan ibu. Sejak perceraian itu, bapak kos di dekat rumah anaknya. Keseharian bapak diisi dengan bermain bersama cucu tercintanya.
Tibalah waktunya, bapak memutuskan untuk menikah kembali. Tak butuh lama setelah menikah, bapak membangun rumah mewah. Rumah mewah pun selesai, bapak kemudian pergi beribadah umroh bersama istri barunya, juga nenek.
Melihat kebersamaan mereka, hatinyapun dibakar api cemburu kepada ibu tirinya. Iapun meminta ibunya kembali bersama dengan bapak, ibu menyetujui usulan sang anak, tetapi tidak dengan bapak. Bapak bertahan dengan istri barunya.
Kisah diatas hanya sebagian dari masalah kehidupan yang ada, banyak masalah lain, yang jauh lebih berat yang dirasakan banyak orang. Membaca rubrik seperti ini, bisa jadi membawa kita pada sikap bijak. Masalah dan hidup akan tetap menyatu, selama keduanya bersama. Jangan pernah berharap hidup tanpa masalah. Berharaplah bisa kuat menghadapi tiap masalah yang menghampiri.
Komentar
Posting Komentar