Seleksi Alam
Selintas teringat masa SMP dulu, kala saya berseragam biru. Peristiwa lalu yang harusnya sudah tak membekas lagi. Ketika itu guru IPA sedang menjelaskan tentang teori seleksi alamnya Lamarck dan Darwin. Kala itu saya fokus memperhatikan, sehingga sampai saat ini masih saja terlintas. Masih ingat detil apa yang disampaikan pada saat itu.
Tiba-tiba hari ini teringat kembali dengan dua teori itu. Penyebabnya karena saya kedatangan dua alumni SMP tempat saya mengajar saat ini. Sekarang keduanya duduk di bangku SMA.
Tiba-tiba hari ini teringat kembali dengan dua teori itu. Penyebabnya karena saya kedatangan dua alumni SMP tempat saya mengajar saat ini. Sekarang keduanya duduk di bangku SMA.
Keduanya baru saja pulang dari rumah Yani. Yani adalah sahabat SMP yang hari ini sama-sama bersekolah di SMA. Yani baru saja ditinggalkan ayah tercintanya.
Asep dan Lilis, datang berboncengan. Asep berpakaian ala santri pesantren tradisional, dan Lilis mengenakan gamis hitam motif garis putih lurus. Nampak Lilis terlihat lebih tinggi mengenakan gamis dengan corak seperti itu.
Setelah bersalaman saya meminta keduanya masuk, dan mempersilahkannya duduk. Keduanya duduk di bangku yang ada di depan meja kerja saya. Kami saling menanyakan kabar, keduanya menceritakan banyak hal yang ia temui setelah terakhir kami jumpa, sekitar satu tahun lalu.
Tak disangka, kami bisa jumpa hari ini. Sebenarnya, kami beberapa kali merencanakan berjumpa untuk mengobati rindu, tetapi selalu gagal. Meski rasanya sudah tak tertahankan lagi, tetapi apalah daya, kami harus mampu menahan rasa itu. Bersyukur, hari ini plong rasanya, kami bisa kembali berjumpa.
Pembicaran dengan topik mengalir dimulai, kami bertiga turut berduka cita atas meninggalnya Pak Kosim, ayahnya Yani. Beliau wafat karena keracunan. Nyawanya tak sertolong lagi, meski pihak medis telah membantu dengan segala kemampuannya.
Yani, Lilis, dan Asep, sekarang duduk di kelas XII, tinggal menghitung hari, meraka akan lulus. Ketiganya adalah alumni yang punya semangat luar buasa untuk bisa duduk di bangku kulaiah. Lewat pesan singkat, mereka sering menyatakan keinginannya itu. Keinginan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, dan duduk di jurusan yang sejak kecil ia cita-citakan . Saya menganggap ketiganya adalah hasil seleksi alam. Ketika puluhan teman ketiganya lulus SMP, hanya belasan saja yang melanjutkan sekolah. Ketika hari ini belasan teman seangkatannya hampir selesai SMA, hanya merekalah yang punya semangat untuk bisa merasakan kerasnya bangku kuliah tanpa logistik yang cukup.
Asep ingin ke UGM, mengambil jurusan Sastra Inggris. Lilis ingin ke UIN, dan Yani ingin ke UNPAD. Mereka sudah membayangkan bisa kuliah di sana, bisa jadi bagian dari keluarga besar perguruan tinggi dambaannya.
Lilis butuh waktu untuk meyakinkan orangtuanya, agar memberi izin padanya, untuk mengenyam bangku kuliah. Orangtuanya tak yakin mampu membiayai, tapi ia bersikeras, dan meyakinkan bapak bahwa ia bisa. Jurus "man jadda wa jada" ia paparakan dihadapan bapak, dan akhirnya bapak mau bertekad dengan sekuat tenaga agar anak sulungnya bisa duduk di bangku kuliah.
Asep pun sama, ia dengan semangat tinggi meminta ibunya untuk yakin bisa menghantarkan Asep menjadi sarjana. Ibu nenuruti keinginan Asep, asal ia kuliah dengan sungguh-sungguh. Ibu dan bapak Asep berpisah, sejak ia masih duduk di bangku SD. Sejak perpisahan itu, ibulah yang memenuhi semua keperluan Asep.
Dari ketiganya, Yani yang paling minim kendala, orang tuanya sarjana, sehingga punya dorongan kuat untuk bisa menguliahkan anaknya hingga jadi sarjana pula. Orang tuanya seorang guru disalah satu MI swasta di Ciseel, desa Sobang. Selain itu ia juga punya usaha lain. Kebun yang luas, ditanami pohon karet yang sudah mulai menghasilkan. Sawah yang selalu menghasilkan padi unggul juga ia punyai. Dua buah mobil pengangkut barang jadi usaha baru, setelah akses jalan dibangun menuju kampungnya. Pa Kosim terlihat mapan dan akan mampu menguliahkan anak pertamanya itu.
Hari ini pak Kosim telah tiada, meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Kepergiannya bisa jadi menguburkan semua mimpi yang pernah ia bangun bersama Yani. Mimpi menjadi mahasiswa di perguruan tinggi beken, sepertinya pupus, dan sudah tak ada harapan lagi. Yani hanya bisa menangis, dan terus menangis. Untuk berbicara sepatah katapunpun ia nampak tak sanggup. Ketika saya berkunjung untuk mengucapkan bela sungkawa, ia tak mampu menjawab dengan kata-kata. Yani hanya mampu menjawab dengan isyarat anggukan kepala, dan deraian air mata.
Ya, Yani sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Perginya ayah, bisa jadi mengubur semua mimpi besar yang pernah ia bangun. Itulah hidup, kadang kehendak Allah yang menjadi ujian berat bagi hamba. Meski demikian, haruslah diyakini ada kemudahan dibalik kesulitan.
Yani harus kuat, Yani harus bangkit.
Setelah bersalaman saya meminta keduanya masuk, dan mempersilahkannya duduk. Keduanya duduk di bangku yang ada di depan meja kerja saya. Kami saling menanyakan kabar, keduanya menceritakan banyak hal yang ia temui setelah terakhir kami jumpa, sekitar satu tahun lalu.
Tak disangka, kami bisa jumpa hari ini. Sebenarnya, kami beberapa kali merencanakan berjumpa untuk mengobati rindu, tetapi selalu gagal. Meski rasanya sudah tak tertahankan lagi, tetapi apalah daya, kami harus mampu menahan rasa itu. Bersyukur, hari ini plong rasanya, kami bisa kembali berjumpa.
Pembicaran dengan topik mengalir dimulai, kami bertiga turut berduka cita atas meninggalnya Pak Kosim, ayahnya Yani. Beliau wafat karena keracunan. Nyawanya tak sertolong lagi, meski pihak medis telah membantu dengan segala kemampuannya.
Yani, Lilis, dan Asep, sekarang duduk di kelas XII, tinggal menghitung hari, meraka akan lulus. Ketiganya adalah alumni yang punya semangat luar buasa untuk bisa duduk di bangku kulaiah. Lewat pesan singkat, mereka sering menyatakan keinginannya itu. Keinginan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, dan duduk di jurusan yang sejak kecil ia cita-citakan . Saya menganggap ketiganya adalah hasil seleksi alam. Ketika puluhan teman ketiganya lulus SMP, hanya belasan saja yang melanjutkan sekolah. Ketika hari ini belasan teman seangkatannya hampir selesai SMA, hanya merekalah yang punya semangat untuk bisa merasakan kerasnya bangku kuliah tanpa logistik yang cukup.
Asep ingin ke UGM, mengambil jurusan Sastra Inggris. Lilis ingin ke UIN, dan Yani ingin ke UNPAD. Mereka sudah membayangkan bisa kuliah di sana, bisa jadi bagian dari keluarga besar perguruan tinggi dambaannya.
Lilis butuh waktu untuk meyakinkan orangtuanya, agar memberi izin padanya, untuk mengenyam bangku kuliah. Orangtuanya tak yakin mampu membiayai, tapi ia bersikeras, dan meyakinkan bapak bahwa ia bisa. Jurus "man jadda wa jada" ia paparakan dihadapan bapak, dan akhirnya bapak mau bertekad dengan sekuat tenaga agar anak sulungnya bisa duduk di bangku kuliah.
Asep pun sama, ia dengan semangat tinggi meminta ibunya untuk yakin bisa menghantarkan Asep menjadi sarjana. Ibu nenuruti keinginan Asep, asal ia kuliah dengan sungguh-sungguh. Ibu dan bapak Asep berpisah, sejak ia masih duduk di bangku SD. Sejak perpisahan itu, ibulah yang memenuhi semua keperluan Asep.
Dari ketiganya, Yani yang paling minim kendala, orang tuanya sarjana, sehingga punya dorongan kuat untuk bisa menguliahkan anaknya hingga jadi sarjana pula. Orang tuanya seorang guru disalah satu MI swasta di Ciseel, desa Sobang. Selain itu ia juga punya usaha lain. Kebun yang luas, ditanami pohon karet yang sudah mulai menghasilkan. Sawah yang selalu menghasilkan padi unggul juga ia punyai. Dua buah mobil pengangkut barang jadi usaha baru, setelah akses jalan dibangun menuju kampungnya. Pa Kosim terlihat mapan dan akan mampu menguliahkan anak pertamanya itu.
Hari ini pak Kosim telah tiada, meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Kepergiannya bisa jadi menguburkan semua mimpi yang pernah ia bangun bersama Yani. Mimpi menjadi mahasiswa di perguruan tinggi beken, sepertinya pupus, dan sudah tak ada harapan lagi. Yani hanya bisa menangis, dan terus menangis. Untuk berbicara sepatah katapunpun ia nampak tak sanggup. Ketika saya berkunjung untuk mengucapkan bela sungkawa, ia tak mampu menjawab dengan kata-kata. Yani hanya mampu menjawab dengan isyarat anggukan kepala, dan deraian air mata.
Ya, Yani sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Perginya ayah, bisa jadi mengubur semua mimpi besar yang pernah ia bangun. Itulah hidup, kadang kehendak Allah yang menjadi ujian berat bagi hamba. Meski demikian, haruslah diyakini ada kemudahan dibalik kesulitan.
Yani harus kuat, Yani harus bangkit.
Komentar
Posting Komentar