Bangga Pada Asep.

Beberapa hari kemarin, info tentang vaksin lanjutan sudah sampai kepada saya. Informasi itu disampaikan oleh bapak kepala sekolah lewat WAG guru SMPN Satap 3 Sobang. Kegiatan itu diadakan oleh Puskesmas Sobang, yang bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Sobang.

Jam 11.10 kami menuju puskesmas, bersama dengan guru yang lain. Kami memanfaatkan kegiatan ini sebagai refresing. Menikmati perjalanan yang melewati  pegunungan hijau nan indah. Bukit hijau, sawah berundak yang menguning yang tak lama lagi akan dipanen. Saya berada didepan memimpin rombingan, suprak x 125 yang bermesin bandel ini, terus bergerak cepat melewati jalan berbatu.

Kegiatan yang sangat menyenangkan. Bukan hanya bisa menikmati alam, tetapi saya juga bisa bertemu dengan kawan lama, alumni, juga guru dari sekolah lain se kecamatan Sobang. Atau saya bisa mampir ke warung yang dilewati, untuk merasakan sensasi kopi panas.

Setelah 1 jam, kami sampai. Sepeda motor yang kami naiki di parkir bersama motor lain, berjajar. Kemudian kami menuju loket pendaftaran. Petugas meminta kami menyerahkan KTP untuk dientri data. Setelah itu kami diminta untuk menunggu. Sekitar 10 menit petugas memanggil, menyebut nama saya lengkap dengan gelar pendidikan. Saya diminta masuk ke ruang pemeriksaan. Sang dokter menanyai kondisi saya.

"Apakah bapak punya riwayat darah tinggi" pertanyaan yang disampikan sambil ia memasang alat pendeteksi tekanan darah dan detak jantung. Sayapun menggeleng, dokter itu faham dengan jawaban isyarat yang saya berikan.

"Tekanan darah normal, kondisi kesehatan bapak baik, silahkan masuk ke ruang vaksin" ia meminta saya menemui petugas yang ada diruang vaksin.

Sebelumnya saya diberi obat penurun panas. Menjaga jika demam datang pasca vaksin disuntikan. Serang petugas, mengucapkan salam, dan meminta saya untuk duduk dikursi yang disediakan. Saya diminta duduk dengan posisi ternyaman, dan tidak tegang.

Ngeri juga melihat jarum suntik itu. Meski kecil, jarum akan ditusukan ke daging, dan akan melukai, meski hanya setitik. Vaksin telah dimasukan pada jarum suntik. Saya diminta mengangkat bagian lengan kaus yang dikenakan. Kapas beralkohol ditempelkan agar steril pada bagian yang akan disuntik. Jarum langsung disuntikan. Jleb... saya meringis kaget, dan sedikit sakit.

Selesai vaksin, saya masih harus menunggu di bangku depan loket. Tak lama surat keterangan vaksin dibagikan. Setelah dipanggil  dan diberikan surat itu, sayapun bergegas untuk pulang. Menuju parkir, kemudian menyalahkan mesin dan pulang.

Hari sudah siang, sejak saya mengantri tadi waktu waktu zuhur sudah masuk. Saya mampir menuju masjid sekolah yang tak jauh dari puskesmas. Selesai shalat, saya melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian, saya berhenti didepan warung. Warung sisi jalan yang bersebrangan dengan pesantren tradisional. Berhenti disana, karena teman yang pulang lebih dahulu, akan menunggu diwarung itu.

Saya berhenti diwarung itu, menanyakan kepada pemilik warung apakah tadi ada yang mampir kewarungnya. Ia menggelengkan kepala. Saya coba menunggu, mungkin saja ia mampir ditempat lain, hingga terlambat datang di warung ini.

Saat saya menunggu, disebrang sana ada seorang pemuda kurus yang terus memperhatikan saya dari kejauhan. Beberpa saat kemudian ia melambaikan tangan, saya coba membalas lambaian itu, meski tak yakin lambaian itu ditujukan kepada saya. Ternyata lambaian itu kusus untuk saya, karena tak ada yang lain, hanya saya yang berdiri di depan warung itu. ia menyebut nama saya, memanggil dengan suara khasnya. Berlari meninggalkan teman-temannya, menuju kearah saya disebrang jalan.

Rupanya ia sedang menyantap makan siang, butiran nasi yang ada ditangannya masih menempel. Aroma ikan asin dari tangannya masih terasa sekali. Buah pete yang baru dinikati beberapa biji masih digenggam erat pada tangan kirinya. Sungguh ia menghawatirkan nasib petenya jika harus ditinggal dikerumunan teman-temannya yang sedang menyantap makan siangnya.

Asep siswa SMA, dulu, ketika sekolah di SMP saya sempat mengajarnya selama 3 tahun. Ia anak yang pede, meski sebenarnya banyak memiliki keterbatasan. Dari pedenya menghantarkan ia jadi pemenang dibeberapa kompetisi.

Meski gurunya, tetapi saya banyak belajar dari Asep. Semangatnya dalam aktifitas apapun selalu jadi perhatian saya. Bebrapa hari yang lalu, ia masuk lima besar dalam pemilihan duta pramuka nasional tahun 2022. Menurut saya itu pencapaian yang luar biasa. Anak gunung yang dengan banyak keterbatasan bisa masuk level nasional. Anak gunung dengan segala kekurangan kasih sayang dari orang tua yang berpisah tapi bisa berprestasi.

Tak salah saya sering membanggakan dia kepada semua orang. Kepatuhan ia terhadap saya gurunya tak pernah lepas, meski saya sudah tak mengajaranya. Rasa hormat ia kepada saya tak pernah pudar, meski tinggi badanya sudah sejajar dengan tubuh saya.

Berlarinya ia ke arah saya dengan meninggalkan makan siang yang sedang disantap, adalah bukti betapa kami begitu dekat.

Sebentar lagi ia lulus, Sastra Inggris UGM dipilih dalam seleksi mahasiswa tahun ini. Kemarin saya tak yakin, tetapi sekarang saya lebih yakin ia akan lolos seleksi. Kegigihan dalam mengejar keinginannya sangat tinggi, hingga takdir sangat mungkin menempatkan ia di sana.

"Perjalanan masih panjang, terus berjuang, buatlah bangga orang-orang yang menyangi Asep."

Komentar

  1. Ya Allah, Bapak.
    Terima kasih banyak tak terhingga untuk semua hal yang bapak kasih, Terima kasih sudah menggantikan sosok seorang ayah dalam hidup Asep.
    Sehat selalu bapak, semangat nulis juga, biar nanti tulisan bapak bisa dilihat orang-orang, bahkan bisa jadi novel best seller. Aamiin

    BalasHapus
  2. Kak Asep selalu menginspirasi, pak Dadang semangat juga nulisnya 🤩💪🏻

    BalasHapus
  3. terimakasih telah berkenan membaca tulisan saya.

    BalasHapus
  4. Subhanallah, Sukses terus buat anak2 muda desa sobang
    Terimakasih bapak sudah menulis apresiasi nya.
    Sukses terus pak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita