Ngaliwet...

Tradisi tatar Sunda yang masih terus bertahan hingga kini. Sejak pekan lalu, saya janji akan mengajak para murid untuk ngaliwet. Harusnya kemarin, tetapi hujan yang terus turun, menggagalkan rencana itu. Sepertinya mereka kecewa, tetapi saya janji hari ini kami ke sisi sungai untuk ngaliwet. 

Ada misi dalam kegiatan ini. Misi itu adalah agar mereka lebih dekat dengan saya gurunya. Ngaliwet kali ini, diharapkan bisa lebih mendekatkan kami dengan mereka siswa laki-laki kelas 7.  Lalu, mengapa kami harus lebih dekat?

Awal pandemi pembelajaran disekolah model jarak jauh. Daring dan luring, siswa tak jumpa langsung dengan para guru. Di sekolah kami, pembelajaran ini tak efektif. Karena tak ada tatap muka. Pengawasan orang tua yang kendor, hingga tak tau jika anaknya tidak mengikuti pembelajaran daring dimasa pandemi.

Siswa banyak berkegiatan diluar, mereka kesana kemari tak ada pengawasan orang tua. Pergaulan dengan teman yang salah, hingga sikap sopan santun mereka nyaris hilang. Nasehat dan marahnya para guru tak pernah dihiraukan mereka. Mereka bersikap seperti diluar kendali. Tidak semua siswa seperti itu. Masalah ini hanya terjadi dikelas 9. Alhamdulillahnya adik mereka  kelas 7 dan 8 tidak berprilaku seperti itu.

Masalah prilaku siswa ini sangat kompleks. Diantara mereka menjadi nakal karena orang tuanya bercerai. Beberapa berprilaku menjengkelkan karena ayahnya bekerja di Negeri Jiran. Ayah tak bisa mengawasi dan membimbing anaknya.

Sebagai guru, saya merasa gagal membimbing mereka. Harusnya saya pukul mereka pada bagian yang tak membahayakan, sebagai efek jera. Tetapi kode etik melarang itu. Jika itu dilakukan, maka akan mengundang pihak ke 3 datang ke sekolah.

Beberapa guru perempuan mengungkapkan sakit hatinya kepada murid yang nakal. Kekesalan itu ia sampaikan kepada saya, hingga terlihat matanya berkaca-kaca. Kedepan hal ini tak boleh t,erjadi lagi.

Ngaliwet bisa jadi solusi, di kegiatan itu saya bisa bincang banyak, dengan tema bebas yang tanpa batas. Kami bercengkrama sambil menanyakan banyak hal. Soal kesulitan belajar, pertemanan mereka, masalah dirumah, hingga menyarankan mereka untuk lebih rajin menjalankan shalat. Nasihat lebih mengena disampaikan dalam kesempatan ini, karena kondisi mereka lebih rileks.

Ngaliwet kali ini di tepi sungai yang membelah kampung Cireundeu. Mereka membawa beras, saya harus merogoh kocek untuk membeli beberapa potong ikan asin, dan beberpa bungkus kerupuk. Cabai, dan tomat untuk sambal, diambil dari hasil menanam dipekarangan rumah. Mereka mempersiapkan tungku dan kayu bakar. Api dinyalakan, sebagian dari mereka mandi disungai. Melompat dari ketinggian, dan terjun di arus sungai yang lebih dalam.

Setelah nasi masak, mereka mendekat dan kami makan bersama, rasanya ikmat sekali. Dunia mereka adalah bermain, penuh canda, tawa, dan riang gembira. Berharap mereka kelak jadi anak yang berbakti, dan membanggakan orang tuanya.

Makan pun usai, perut kami sudah terisi penuh, mereka kembali meceburkan diri ke sunagi. Meski sudah terasa kenyang, tetapi mandi disungai jernih itu belum terasa puas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita