Tanda Tangan
Tada Tangan
Pagi itu bergegas, menuju Ke SMPN Satu Atap 5 Muncang. Meski hujan deras tak kunjung reda, tetapi tak boleh jadi alasan untuk gagal berangkat. Medan yang menanjanjak dan berbatu, tak lantas mematahkan semangat untuk saya mengurungkan niat untuk datang.
Rain coat yang saya kenakan, menghalangi pakaian ini dari basahnya air hujan, tetapi dibeberapa titik, ada butiran air hujan yang masuk, dan terasa menembus ke dikulit. Untuk sepatu, sudah dipastikan basah, begitupun dengan kaus kaki yang dikenakan.
Sampai di sana, motor langsung diparkir. Setelah yakin ok, saya bergegas menuju ruang kerja kepala sekolah. Sebeluma masuk, saya sudah disambut oleh bapak Dedi Iskandar Dinata. Senyum khasnya masih sama seperti dulu, senyum ramah yang selalu ia lontarkan kepada tamu-tamunya.
Tujuan perjalanan ini, untuk meminta tanda tangan dokumen penilaian kinerja guru, yang terlewat. Harusnya dokumen ini ditanda tangani ketika beliau bertugas, tetapi karena satu dan lain hal, baru bisa dilakukan hari ini.
Beberapa bulan lalu, beliau masih kepala sekolah kami, di Cigaclung. Ketika ia masih bertugas, kami bahu membahu untuk berusaha mencerdaskan anak bangsa yang ada dipedalaman. Ketika kembali berjumpa, memori sayapun langsung mengingat ke belakang. Mengingat rangkaian peristiwa lama, yang pernah dihadapi bersama ketika masih tugas disekolah yang sama.
Saya bersalaman, kemudian dipersilahkan masuk. Saya masuk dan duduk diruang tamu yang menyatu dengan ruang guru. Apapun yang kami bincangkan, bisa dengan jelas didengar oleh guru lainnya. Malah terkesan, kami sedang berbincang bersama, karena beberapa guru ikut menimpali tema yang saya dan pa kepala sekolah obrolkan. Obrolan seperti ini, mengingatkan saya pada Jendral Hoegeng. Dalam buku tentang beliau yang saya baca, Jendral ini menerima tiap tamunya yang datang di ruang tempat stafnya bekerja, jadi bisa didengar semua, untuk menghindari ada fitnah persengkongkolan.
Segelas kopi hitam disuguhkan oleh salah satu guru yang menawari saya segelas kopi. Setelah kopi tersaji, obrolanpun dimulai, diawali dengan saling menanyakan kabar. Tema obrolan semakin menarik, terlebih ketika memasuki bahasan pembelajaran tatap muka terbatas.
Pak Dedi memaparkan pembelajaran disekolahnya. Pembelajaran disekolahnya dibagi menjadi dua sift. Sift pagi, dan sift siang, bergiliran.
" jika tidak dis sift pembelajaran tidak efektif, terlalu penuh" itu yang disampaikan kepada saya.
Ruang kelas yang dimiliki haya 4 ruang. Satu ruang digunakan untuk ruang guru, kepala sekolah, dan rak perpustakaan kecil. Tiga ruang digunakan untuk siswa belajar. Dua ruang yang digunakan belajar relatif baru. Gedung itu baru dua tahun lalu direhab. Arsitekturnya juga bagus, terkesan futuristik. Kusen alumunium berwarna hitam, nampak terlihat bangunan itu kokoh. Cat temboknya juga nampak belum ternoda. Tak nampak coretan anak kreatif di tembok itu. Lampu didalam kelas yang bagus, didesigen untuk nyaman digunakan kala siswa belajar. Desigen lampu agar siswa tak merasakan sulau dan mengganggu pandangan.
Ruang kelas yang bagus, dan rapi membuat siswa nyaman dalam belajar. Kenyamanan memungkinkan dapat meningkatkan hasil belajar para siswa.
Perbincangan saya pun pindah pada tema lain, tema tentang sulitnya mendorong para siswa untuk punya optimisme terhadap masa depannya. Mereka tidak punya cita-cita yang tinggi, hingga semangat belajarpun terlihat kendur. Mereka hanya kelak ingin bekerja, mengenai pekerjaannya apa, tak berani mereka sebutkan.
Untuk ekskul, mereka semangat mengikuti. Terutama ekskul Pramuka dan olahraga. Piala yang berjejer di ruang guru adalah hasil dari lomba kedua jenis ekskul tersebut.
Hari semakin siang, hujan belum juga reda. Kopi kembali diseruput, sensasi kopi yang kami niknati, menjadi penawar rasa galau menunggu hujan.
Komentar
Posting Komentar