Buah Tangan
Sore itu, saya sedang duduk santai dirumah dinas. Menikmati suasana setelah redanya hujan. Sejuk sekali rasanya, terlebih baru saja saya membasuh badan ini. Mandi setelah aktifitas seharian sangat menyejukan.
Membaca majalah yang sengaja dibawa kala saya bertugas. Majalah edisi kedua di bulan ini membahas tentang ketahanan pangan bangsa dari presfektif Islam. Majalah ini diterbitkan oleh salah satu ormas Islam moderat terbesar di negeri ini.
Saya sangat suka tema-tema yang diangkat di majalah ini. Sehingga lebih dari lima tahun saya tetap setia menjadi pelanggannya.
Ketika saya sedang asyik membaca, ada pesan WA yang dikirim salah seorang alumni yang satu tahun lalu lulus dari sekolah tempat saya mengajar. Dalam pesannya, menanyakan posisi saya berada.
Saya membalas pesannya, saya mengabarkan posisi saya yang sedang berada dirumah dinas. Tak lama setelah saya mengirim pesan balasan, iapun membacanya, kemudian pesan ke dua datang. Pesan yang dikirim mengabarkan bahwa ia akan berkunjung menemui saya. Saya mempersilahkan ia datang ke rumah dinas.
"Ok, diantos" itu pesan terakhir yang saya kirim dalam percakapan itu.
Tak lama iapun datang. Namanya Herdi, tahun ajaran lalu ia lulus dari sekolah ini. Ia mengendarai honda matic, motor yang ia bawa langsung diparkir di halaman rumah dinas. Saya menyambutnya dengan menjawab salam yang ia ucapkan. Kami bersalaman, dan saya langsung memintanya masuk kedalam.
Tikar digelar, Herdi langsung saya persilahkan duduk. Sayapun menawarkan padanya kopi, tetapi Herdi menolaknya dengan halus. Katanya, ia baru saja meminum kopi di rumah. Ketika saya tawari teh hangat, ia malah meminta segelas air putih saja.
Membaca majalah yang sengaja dibawa kala saya bertugas. Majalah edisi kedua di bulan ini membahas tentang ketahanan pangan bangsa dari presfektif Islam. Majalah ini diterbitkan oleh salah satu ormas Islam moderat terbesar di negeri ini.
Saya sangat suka tema-tema yang diangkat di majalah ini. Sehingga lebih dari lima tahun saya tetap setia menjadi pelanggannya.
Ketika saya sedang asyik membaca, ada pesan WA yang dikirim salah seorang alumni yang satu tahun lalu lulus dari sekolah tempat saya mengajar. Dalam pesannya, menanyakan posisi saya berada.
Saya membalas pesannya, saya mengabarkan posisi saya yang sedang berada dirumah dinas. Tak lama setelah saya mengirim pesan balasan, iapun membacanya, kemudian pesan ke dua datang. Pesan yang dikirim mengabarkan bahwa ia akan berkunjung menemui saya. Saya mempersilahkan ia datang ke rumah dinas.
"Ok, diantos" itu pesan terakhir yang saya kirim dalam percakapan itu.
Tak lama iapun datang. Namanya Herdi, tahun ajaran lalu ia lulus dari sekolah ini. Ia mengendarai honda matic, motor yang ia bawa langsung diparkir di halaman rumah dinas. Saya menyambutnya dengan menjawab salam yang ia ucapkan. Kami bersalaman, dan saya langsung memintanya masuk kedalam.
Tikar digelar, Herdi langsung saya persilahkan duduk. Sayapun menawarkan padanya kopi, tetapi Herdi menolaknya dengan halus. Katanya, ia baru saja meminum kopi di rumah. Ketika saya tawari teh hangat, ia malah meminta segelas air putih saja.
Kedatangan Herdi memang hanya sendiri saja, tetapi berkunjungnya ia kali ini dengan membawa buah tangan. Tiga buah durian dijinjing erat ditangannya sore itu. Herdi meletakan buah berduri itu dilantai dekat tikar tempat kami berbincang.
Buah durian dengan aroma khasnya yang menggoda, sangat menyengat sekali baunya. Tak sabar saya ingin membukanya, tetapi tak etis rasanya jika langsung dikupas dihadapan tamu yang baru saja sampai. Terlebih di rumah dinas itu tak ada pisau agak besar yang dapat digunakan untuk mengupas durian.
Kami terus saja berbincang ringan, sambil sesekali saya melirik buah durian yang ada di sisi dekat ujung tikar. Lirikan maut saya, direspon oleh Herdi. Ia mencabut pisau yang ada di pinggangnya. Ternyata ia membawa pisau, pisau dan golok adalah aksesoris yang biasa dibawa oleh masyarakat sekitar jika berpergian.
Durian dikupas, kemudian disodorkan kehadapan saya. Tak menunggu lama, sayapun langsung melumatnya, durian yang manis dan harum, nikmat sekali rasanya. Sebiji demi sebiji saya nikmati, hingga tak terasa saya menghabiskan satu dari 3 buah durian yang dibawanya. Melihat durian yang dikupasnya sudah raib, ia langsung mengambil durian lainnya untuk dikupas. Saya mencegahnya, meminta niatnya untuk membelah durian diurungkan. Tak baik terlalu banyak menikmati durian, usia diatas ** tahun tak baik banyak mengkonsumsi buah berduri ini.
Obrolan terus berlanjut, menyasar banyak tema. Menikah muda yang jadi tradisi dikampung ini juga dibahas, cita-citanya kelak besar nanti juga diceritakan. Masih banyak tema lain yang dibahas hingga tuntas disore itu.
Hari semakin sore, kabut mulai turun menyelimuti kampung Cigaclung. Dingin mulai terasa, menusuk hingga memaksa saya mengenakan jacket. Tak lama Herdi izin untuk pamit pulang, kami berdiri dan bersalaman, Herdi meninggalkan saya sendiri. Langsung ia menaiki motornya, lalu menyalahkan mesin. Ia menoleh ke arah saya yang masih berdiri didepan pintu rumah dinas, mengangukan kepala dan iapun berlalu pergi.
Tak langsung masuk, saya terus memperhatikannya hingga ia tak terlihat lagi. Herdi anak yang baik, ia sangat sopan dengan kami guru-gurunya. Ia selalu ingat, selau ada saja yang dibawanya sebagai buah tangan jika berkunjung menemui kami gurunya.
Buah durian dengan aroma khasnya yang menggoda, sangat menyengat sekali baunya. Tak sabar saya ingin membukanya, tetapi tak etis rasanya jika langsung dikupas dihadapan tamu yang baru saja sampai. Terlebih di rumah dinas itu tak ada pisau agak besar yang dapat digunakan untuk mengupas durian.
Kami terus saja berbincang ringan, sambil sesekali saya melirik buah durian yang ada di sisi dekat ujung tikar. Lirikan maut saya, direspon oleh Herdi. Ia mencabut pisau yang ada di pinggangnya. Ternyata ia membawa pisau, pisau dan golok adalah aksesoris yang biasa dibawa oleh masyarakat sekitar jika berpergian.
Durian dikupas, kemudian disodorkan kehadapan saya. Tak menunggu lama, sayapun langsung melumatnya, durian yang manis dan harum, nikmat sekali rasanya. Sebiji demi sebiji saya nikmati, hingga tak terasa saya menghabiskan satu dari 3 buah durian yang dibawanya. Melihat durian yang dikupasnya sudah raib, ia langsung mengambil durian lainnya untuk dikupas. Saya mencegahnya, meminta niatnya untuk membelah durian diurungkan. Tak baik terlalu banyak menikmati durian, usia diatas ** tahun tak baik banyak mengkonsumsi buah berduri ini.
Obrolan terus berlanjut, menyasar banyak tema. Menikah muda yang jadi tradisi dikampung ini juga dibahas, cita-citanya kelak besar nanti juga diceritakan. Masih banyak tema lain yang dibahas hingga tuntas disore itu.
Hari semakin sore, kabut mulai turun menyelimuti kampung Cigaclung. Dingin mulai terasa, menusuk hingga memaksa saya mengenakan jacket. Tak lama Herdi izin untuk pamit pulang, kami berdiri dan bersalaman, Herdi meninggalkan saya sendiri. Langsung ia menaiki motornya, lalu menyalahkan mesin. Ia menoleh ke arah saya yang masih berdiri didepan pintu rumah dinas, mengangukan kepala dan iapun berlalu pergi.
Tak langsung masuk, saya terus memperhatikannya hingga ia tak terlihat lagi. Herdi anak yang baik, ia sangat sopan dengan kami guru-gurunya. Ia selalu ingat, selau ada saja yang dibawanya sebagai buah tangan jika berkunjung menemui kami gurunya.
Komentar
Posting Komentar