Lagu dan Kenangan.
Puluhan tahun lalu, saya sudah mengenalnya. Kala itu kami ada di kelas yang sama, di SDN Bojong Sempu 1. Kami banyak menghabiskan waktu bersama dengan banyak permainan. Main kelereng di sisi ruang kelas, atau bermain bola di tanah lapang dekat sekolah.
Namanya Narman, tetepai ia selalu menulis dengan menambah satu kata Fidaus setelah nama asli yang diberikan orang tuanya. Tak tau terinspirasi dari mana ia menambah kata itu.
Narman Firdaus anak yang pemberani, ia tak pernah takut dengan siapapun di sekolah, meski ia selalu hormat dengan gurunya. Beberapa kali ia berkelahi, bukan hanya dengan teman sekelasanya, tetapi juga dengan kaka satu tingkat diatasnya.
Harusnya kami tidak berada dalam kelas yang sama, karena ia tak naik kelas, maka sejak kelas 3 hingga kelas 6, kami belajar di ruang kelas yang sama.
Jiwa seni sudah sering ia perlihatkan dikelas. Menyanyi dan menggambar adalah kegemarannya. Sehingga untuk dua pelajaran itu ia juaranya. Narman sering sekali bernyanyi, dengan pukulan meja sebagai musik pengiring. Meski suaranya tak terlalu merdu, tetapi ketukan tiap lagu yang dibawakan pas terdengar, tidak fals. Begitu pula dengan menggambar. Tokoh kartun dan film layar lebar sering ia jadikan objek menggambar di buku tulisnya, atau pada kertas yang sengaja dirobek dari buku tulisnya.
Narman sekarang adalah seorang penyanyi yang menghibur banyak orang. Musik menjadi jalan hidupnya. Ketika saya hadir ke sebuah undangan sore tadi, ia langsung mengucapkan selamat datang lewat mic yang digenggamnya. Hari ini Narman menghibur tamu undangan di resepsi pernikahan putri pak Syamsuddin. Ia memperkenalkan saya kepada seluruh tamu yang hadir. Menyampaikan bahwa saya adalah teman SD nya dulu. Ia menyebut bahwa saya adalah sahabat kecilnya dulu, yang hari ini sudah sukses menjadi guru. Tak lama ia langsung membawakan sebuah lagu dari labum pertama grup musik asal Surabaya, Padi.
Meski ia menyebut saya telah sukses, tetapi saya merasa dialah yang sukses sesungguhnya. Ia bekerja seauai dengan passionnya, menjadi penyanyi. Menyanyi adalah hobby yang hari ini jadi pekerjaannya. Setiap nyanyian yang ia bawakan, selalu diiringi dengan senyum di bibirnya. Sungguh riang dan bahagia ia menjalankan pekerjaannya.
Berbeda dengan saya, karena dapat dipastikan besok sejak pagi hingga siang pasti akan marah-marah. Pagi saya harus mengecek kerapihan pakaian siswa yang datang. Biasanya harus menunjukan wajah kesal, baru mereka mau merapikan bajunya. Selepas istirahat, saya harus keliling kelas, memastikan siswa semua sudah kembali ke kelas dengan wajah yang tegas. Siang hari saya memastikan mereka cepat berwudhu, dan segera menuju masjid kecil dekat sekolah untuk melaksanakan solat berjamaah. Menunjukan wajah yang ceria dan sambil tersenyum, tak laku dihadapan mereka, terutama siswa laki-laki.
Lagu yang berjudul Sobat dibawakan Narman. Lagu dari album pertama Padi yang mengingatkan saya pada masa remaja dulu. Beberapa peristiwa terlintas jelas dalam bayangan ini. Masa dimana hidup bukan masalah, tapi keceriaan dan kebahagiaan.
Saya tak bergeming menikmati alunan suara merdunya. Alunan indah, hingga saya merasa terhibur sore itu. Selama lagu itu dibawakan, senyum tak pernah lepas dari bibir saya.
Namanya Narman, tetepai ia selalu menulis dengan menambah satu kata Fidaus setelah nama asli yang diberikan orang tuanya. Tak tau terinspirasi dari mana ia menambah kata itu.
Narman Firdaus anak yang pemberani, ia tak pernah takut dengan siapapun di sekolah, meski ia selalu hormat dengan gurunya. Beberapa kali ia berkelahi, bukan hanya dengan teman sekelasanya, tetapi juga dengan kaka satu tingkat diatasnya.
Harusnya kami tidak berada dalam kelas yang sama, karena ia tak naik kelas, maka sejak kelas 3 hingga kelas 6, kami belajar di ruang kelas yang sama.
Jiwa seni sudah sering ia perlihatkan dikelas. Menyanyi dan menggambar adalah kegemarannya. Sehingga untuk dua pelajaran itu ia juaranya. Narman sering sekali bernyanyi, dengan pukulan meja sebagai musik pengiring. Meski suaranya tak terlalu merdu, tetapi ketukan tiap lagu yang dibawakan pas terdengar, tidak fals. Begitu pula dengan menggambar. Tokoh kartun dan film layar lebar sering ia jadikan objek menggambar di buku tulisnya, atau pada kertas yang sengaja dirobek dari buku tulisnya.
Narman sekarang adalah seorang penyanyi yang menghibur banyak orang. Musik menjadi jalan hidupnya. Ketika saya hadir ke sebuah undangan sore tadi, ia langsung mengucapkan selamat datang lewat mic yang digenggamnya. Hari ini Narman menghibur tamu undangan di resepsi pernikahan putri pak Syamsuddin. Ia memperkenalkan saya kepada seluruh tamu yang hadir. Menyampaikan bahwa saya adalah teman SD nya dulu. Ia menyebut bahwa saya adalah sahabat kecilnya dulu, yang hari ini sudah sukses menjadi guru. Tak lama ia langsung membawakan sebuah lagu dari labum pertama grup musik asal Surabaya, Padi.
Meski ia menyebut saya telah sukses, tetapi saya merasa dialah yang sukses sesungguhnya. Ia bekerja seauai dengan passionnya, menjadi penyanyi. Menyanyi adalah hobby yang hari ini jadi pekerjaannya. Setiap nyanyian yang ia bawakan, selalu diiringi dengan senyum di bibirnya. Sungguh riang dan bahagia ia menjalankan pekerjaannya.
Berbeda dengan saya, karena dapat dipastikan besok sejak pagi hingga siang pasti akan marah-marah. Pagi saya harus mengecek kerapihan pakaian siswa yang datang. Biasanya harus menunjukan wajah kesal, baru mereka mau merapikan bajunya. Selepas istirahat, saya harus keliling kelas, memastikan siswa semua sudah kembali ke kelas dengan wajah yang tegas. Siang hari saya memastikan mereka cepat berwudhu, dan segera menuju masjid kecil dekat sekolah untuk melaksanakan solat berjamaah. Menunjukan wajah yang ceria dan sambil tersenyum, tak laku dihadapan mereka, terutama siswa laki-laki.
Lagu yang berjudul Sobat dibawakan Narman. Lagu dari album pertama Padi yang mengingatkan saya pada masa remaja dulu. Beberapa peristiwa terlintas jelas dalam bayangan ini. Masa dimana hidup bukan masalah, tapi keceriaan dan kebahagiaan.
Saya tak bergeming menikmati alunan suara merdunya. Alunan indah, hingga saya merasa terhibur sore itu. Selama lagu itu dibawakan, senyum tak pernah lepas dari bibir saya.
Pak Guru seram .... Karena aku laki-laki dan tak laku untuk mendapat wajah yang ceria dan sambil tersenyum dari Pak Guru.
BalasHapusLagu dan kenangan, waaw sangat bahagia tentunya jika kita bisa melakukan hal terbaik dalam hidup kita sesuai dengan passion kita. So.. jangan lagi seram ya pak guru . Hehe . Tetep tersenyum hadapi tingkah polah siswa-siswa kita.
BalasHapusKadang anak2 harus diperlihatkan wajah seram baru mau nurut ya.. jd tak laku kalo dikasih wajah ceria dan senyum..
BalasHapusSaling lempar sukses. Hehe
BalasHapus