Lebih dari Guru SMA

Ketika duduk bareng dengan teman satu profesi, sering mereka membandingkan pengasilan kami dengan pendapatan teman satu profesinya di instansi lain. Jelasnya guru SMP membandingkan pengasilannya dengan guru yang mengajar di SMA. Guru SMP yang berpenghasilan lebih kecil dari pekerjaan yang sama, dibandingkan dengan guru SMA.

Secara pribadi saya sering menghindar dari tema pembicaraan itu. Karena jika ikut larut dalam perbincangan, khawatir kurang bersyukur atas nikmat dan rizki yang setiap saat saya dapatkan.

Dalam banyak kesempatan perbincangan tak resmi, saya selalu menggiring opini pada urusan lain diluar harta, dan tahta. Karena harta dan tahta hanya sebagian kecil nikmat yang diberikan Allah kepada Hambanya. Masih banyak kenikmatan lain yang lebih dari urusan harta dan tahta.

Nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada hambanya bukan hanya itu, banyak sekali, hingga jumlahnya tak terhitung. Karena banyaknya nikmat itu, meski pepohonan di muka bumi dijadikan pena, dan air di lautan dijadikan tintanya, tetap tak akan cukup untuk menulis nikmat yang diberikan oleh Nya. Dari sekian banyak nikmat yang diberikan, bagi saya nikmat iman adalah yang utama, meski kadang masih jauh dari sikap iman yang baik.

Tokoh sentral di kampung Cigaclung ini adalah inspirator bagi saya. Meski kuatnya ia menjalani semua ini karena ketiadaan. Namanya Marinudin, ia bekerja sebagai Tata Laksana di SMP. Tugasnya disekolah adalah bersih-bersih, memastikan isi teko dan termos, dan merawat tanaman. Gaji yang diterima dari pekerjaannya hanya beberapa ratus ribu saja. Jauh dari UMR yang ditetapkan kepala daerah dan menaker.

Ia jarang mengeluh dengan urusan uang, selalu konaah. Ia rajin dalam menjalankan tugas, ia juga sangat sopan, melayani, dan menghargai kami para guru. Sehingga tak enak hati, jika selama disekolah saya tak memberinya sebungkus rokok.

Saya hanya mengamati, tak pernah banyak bertanya padanya untuk soal yang bersifat pribadi. Sepengetahun saya, ia selalu happy, rokok dan kopi sudah cukup untuk membuat ia bahagia.

Urusan beras untuk keluarganya dirumah, ia bisa tutupi dari ikut membantu panen tetangganya. Ia sibuk ketika musim panen tiba. Dari kesibukannya itu ia mendapat beras yang cukup untuk kebutuhan sehari-harinya.

Rumahnya sangat sederhana, terbuat dari kayu dan  bilik bambu. Ia nampak sangat mencintai rumahnya itu. Saya melihat ungkapan baiti jannati ada pada rumah yang ditinggalinya.

Hari itu tiba-tiba ia membawa segelas kopi dan rokonya ke halaman sekolah. Ia begitu menikmati kopi dan sebatang rokok yang dihisapnya. Sambil memainkan hp salah seorang guru di selolahnya, ia sedang mengajari kami cara hidup bahagia. Baginya bahagia itu sederhana, jangan mengeluh, dan mensyukuri apa yang didapatkan.

Hari ini ka Marinudin nampak lebih riang dari hari-hari biasa. Sepertinya kebahagiaan ia hari ini melebihi kebahagiaan kami guru SMP, bahkan mungkin hari ini ia lebih bahagia dari guru SMA.

Oh ya, baru saja saya membaca rangkaian kata indah yang ditulis seorang sahabat  OPS pada akun medsosnya. Menurutnya, kekurangan akan tampak saat kita membandingkan, dan kelebihan akan muncul saat kita mampu bersyukur.

Komentar

  1. Sangat menginspirasi. Belajar untuk lebih bersyukur point utama hidup bahagia

    BalasHapus
  2. Banyak guru yang berjuang dari bawah termasuk masalah gaji. Hehe

    BalasHapus
  3. Maasya Allah, sangat mengena di hati yg risau krn merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Betul sekali rasa syukur akan menghindakan kita dari rasa iri kpd nasib orglain..

    BalasHapus
  4. Terimakasih jadi lebih banyak bersyukur 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Leuwidamar

Mengapa Harus Berbuat Baik

Bandel dan Cita-cita